Lebih Rendah dari Permukaan Laut, Banjir di Areal Persawahan Kroya Jadi Langganan

0
549
Seorang Penggembala Kambing melintas di parit ditengah areal lahan persawhan yang tergenang di Desa Kedawung Kecamatan Kroya. Foto : Adi Kurniawan, serayunews
Seorang Penggembala Kambing melintas di parit ditengah areal lahan persawhan yang tergenang di Desa Kedawung Kecamatan Kroya. Foto : Adi Kurniawan, serayunews

CILACAP,SERAYUNEWS-Kondisi ketinggian daratan areal persawahan di Kecamatan Kroya yang lebih rendah dari permukaan air laut, membuat areal persawahan tersebut selalu menjadi langganan tergenang banjir setiap tahun.

Kepala UPT Dinas Pertanian dan Pertanak (Dispertanak) Kecamatan Kroya, Risun SP menjelaskan, dengan ketinggian rata rata 75 cm dpl menyebabkan lahan persawahan di lokasi tersebut menjadi langganan setiap tahunnya. Di wilayah desa Kedawung, Mujur, dan Bajing Lor meski sudah dilakukan perbaikan irigasi dan normalisasi saluran air namun hal itu akan terus terulang setiap tahunnya.

“Sudah dilakukan beberapa kali normalisasi saluran air, tetapi tetap saja tidak bisa menjadi solusi terandammnya lahan persawahan tersebut. Ketinggian yang aman rata rata diatas 10 meter dpl,” tuturnya.

Lebih lanjut dijelaskan,kondisi lahan persawahan yang terendam untuk tahun 2013 paling parah dibandingkan tahun sebelumnya. Beberapa penyebabnya diantaranya, kondisi cuaca ekstrim. Hujan yang turun tidak bertepatan dengan perhitungan musim, ditambah air laut yang sedang pasang. Hal itu mengakibatkan, air dari lahan persawahan yang tergenang tidak bisa mengalir ke laut.

Menurutnya, salah satu solusi seharusnya para petani di wilayah yang sering terendam air mengalihkan lahan persawahan menjadi tambak atau kolam ikan, agar tidak terus merugi. Dengan lahan marjinal yang tidak bisa diprediksi kondisinya, maka sangat bergantung pada cuaca. Petani diwilayah tersebut tipenya spekulasi. Bila kondisi cuaca memungkinkan, produksi lahan langganan terendam air itu lebih bagus dari wilayah se kabupaten Cilacap, tetapi sangat tidak menentu.

“Memang untuk merubah lahan membutuhkan biaya yang banyak. Apalagi untuk biaya produksi untuk kolam atau tambak lebih besar dibandingkan dengan menaman padi, tapi itu lebih baik daripada harus merugi setiap kali terendam air,” pungkasnya.(adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here