21 Tahun Menabung, Penarik Becak Asal Sampang Naik Haji

0
5774
Rumah Sederhana Raswan di Desa Karangjati Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap
Memiliki harta berlimpah belum tentu bisa berangkat haji ke Mekah dan Madinah. Itulah yang dibuktikan Raswan, Calon Jamaah haji asal Cilacap Kloter 45 Embarkasi Solo. Kegigihan pengayuh becak ini mampu mewujudkan mimpi sebagian besar umat Islam yang ingin mejalankan rukun ke lima tersebut. Bersama Istrinya Masimi, Raswan sebentar lagi akan mewujudkan cita-cita, bersimpuh dan berdoa di rumah Allah di Tanah Suci. Padahal, Raswan hanya bekerja sebagai penarik becak.
Rumah Sederhana Raswan di Desa Karangjati Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap

CILACAP,SERAYUNEWS.COM-Kesederhanaan hidup Raswan bersama keluarganya, bisa terlihat dari kondisi rumahnya yang berada di RT 01 RW 10 Desa Karangjati Kecamatan Sampang. Rumah Raswan tidak berada di pinggir jalan utama desa. Sebuah setapak yang hanya cukup dilalui motor atau kendaran roda tiga menjadi satu satunya akses rumah yang masih berdinding kayu.

Dua buah becak yang terparkir di teras rumah berlantai semen itu, sebentar lagi akan ditinggalkan pengayuhnya pergi ke tanah suci. Tak seperti pada hari biasanya, Raswan kini mengurangi aktivitas rutinnya menunggu penumpang di pertigaan depan toko modern jalan Raya Buntu Sampang. Bersama istrinya, pria berusia 48 tahun ini, tampak sibuk mengemas barang bawaan. Tiga buah tas besar berwarna jingga dari Kementrian Agama, tampak sudah penuh dengan semua perlengkapan keberangkatan haji.

Raswan, Calon Jamaah Haji asal Desa Karang Jati Kecamatan Sampang. Penarik becak ini mampu mengumpulkan uang selama 21 tahun untuk menunaikan ibadah haji. Raswan biasa mangkal di toko modern pertigaan Randegan, jalan Raya Buntu Sampang

Bapak dua anak ini mengaku bersyukur mendapat kesempatan menjadi tamu Allah setelah penantiannya bertahun tahun. Raswan bersama calon jamaah haji dari Kabupaten Cilacap, akan berangkat dengan Kloter 45 melalui Embarkasi Solo pada 9 Agustus 2017. Raswan menuturkan, sebelum menjadi penarik becak, Raswan bekerja menjadi kuli bangunan. Sejak awal bekerja dan berumah tangga, Ia sudah berniat melaksanakan ibadah haji Rawan hanya bertahan lima tahun menjadi kuli bangunan. Ia mengaku, tenaganya tidak kuat lagi menjadi kuli aduk sehingga memutuskan berganti profesi.

“Dulu saya dibayar 20 ribu waktu jadi kuli aduk. Akhirnya berhenti lima tahun kemudian karena tenaga sudah tidak kuat,” ungkapnya.

Penghasilan selama menajadi kuli aduk, saat itu hanya mampu mencukupi kebutuhan sehari hari. Meski demikan, Rawan bisa menyisihkan setengah dari upah harian yang didapatkannya. Setengahnya lagi, dia serahkan ke istri untuk keperluan makan. Kebiasaan tersebut, berlanjut hingga dia bekerja sebagai pengayuh becak. Dalam sehari, Rasiwan rata rata bisa mendapatkan uang sedikitnya Rp 50.000.

“Saya buka rekening dan setengahnya lagi saya berikan untuk istri dan anak. Saya terbiasa prihatin, makan apa saja tidak mesti enak yang penting terpenuhi. Yang penting lagi, kedua anak dan istri saya makan,” ungkapnya.

Pola hidup hemat ini juga Raswan ajarkan kepada kedua anaknya. Dengan keterbatasan, justru menjadikan anak Raswan pribadi yang mandiri. “Anak saya ajarkan sederhana dan mandiri. Dia sekarang sekolah SMA dan sudah bisa mendapatkan penghasilan sendiri dengan berjualan baju online,” tuturnya.

Perjalannya mengumpulkan lembaran rupiah demi berhaji,tidaklah mudah. Kebiasaan menyisihkan uang pendapatan itu, ternyata tanpa sepengetahuan istri Raswan. Meski demikan, Ia tetap bisa meyakinkan istrinya bahwa yang hasil yang didapatkan nantinya akan berbuah manis. Bahkan Raswan dipercaya menjadi pemimpin rombongan Kloter 45 yang berjumlah 40 calon jemaah haji asal Kabupaten Cilacap.

“Saya hanya berharap, dengan keikhlasan dan penuh dengan perjuangan ini, akan menjadi Haji yang Mabrur bersama istri saya. Diberikan keselamatan hingga kembali nanti ke tanah air,” ujarnya.