
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menyambut positif program pemberdayaan petani kopi yang diinisiasi CARE Indonesia.
Program yang akan berlangsung selama tiga tahun ini menargetkan 2.800 perempuan dari keluarga petani kopi di kawasan dataran tinggi Banjarnegara untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi sekaligus mendukung upaya konservasi lingkungan.
Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat sektor hilirisasi kopi, meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, serta membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat melalui inovasi kredit karbon.
CEO CARE Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang, menjelaskan program akan berfokus pada penguatan kapasitas kelembagaan petani di sektor hilir (off-farm), bukan hanya pada aspek budidaya.
Selain pendampingan teknis, CARE Indonesia juga akan mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai penggerak utama dalam keluarga petani kopi.
“Kami menargetkan 2.800 perempuan keluarga petani kopi. Selain bantuan teknis dan pendampingan, kami juga akan memfasilitasi pembentukan kelompok, literasi keuangan, hingga bantuan modal agar ekonomi keluarga petani tetap stabil meski di luar musim kopi,” ujar Abdul Wahib.
Program tersebut diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan bagi keluarga petani, termasuk ketika memasuki masa di luar musim panen kopi.
CARE Indonesia juga memperkenalkan konsep kredit karbon (carbon credit) sebagai peluang ekonomi baru bagi Banjarnegara.
Menurut Abdul Wahib, Banjarnegara memiliki potensi lahan konservasi yang luas. Penanaman pohon kopi bersama tanaman pendamping seperti alpukat dan durian di lahan kritis dapat meningkatkan serapan karbon yang nantinya berpotensi memiliki nilai ekonomi.
Skema tersebut dinilai dapat memberikan manfaat ganda, yakni memperbaiki kondisi lingkungan sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat dan daerah.
Wakil Bupati Banjarnegara, Wakhid Jumali, menyatakan pemerintah daerah siap bersinergi dalam pelaksanaan program tersebut.
Ia menilai sektor kopi memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian Banjarnegara, namun selama ini masih menghadapi tantangan pada aspek hilirisasi dan peningkatan nilai tambah produk.
“Pemkab Banjarnegara sangat terbuka untuk bersinergi. Kami berharap program ini mampu menjadi solusi bagi PR besar kami dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan menekan angka kemiskinan ekstrem di Banjarnegara,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Banjarnegara, Firman Sapta Adi, mengatakan pihaknya siap menindaklanjuti program tersebut secara teknis.
Menurutnya, Banjarnegara telah memiliki kelompok tani yang siap menjadi sasaran program pemberdayaan sehingga implementasi di lapangan dapat segera dilakukan.
“Kami sudah memiliki basis kelompok tani yang siap diintervensi. Dengan dukungan dari CARE Indonesia, kita akan menyasar perempuan petani agar lebih aktif mulai dari penanaman, perawatan, hingga pasca-panen. Ini langkah konkret untuk memperkuat hilirisasi kopi kita,” kata Firman.
Ia menambahkan, program CARE Indonesia akan melengkapi Program Upland yang sebelumnya telah berjalan, khususnya dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan produktif di Banjarnegara.
CARE Indonesia dijadwalkan kembali berkunjung ke Banjarnegara pada akhir Juli 2026 untuk membahas proposal teknis serta pemetaan geospasial wilayah yang akan menjadi lokasi intervensi program.
Tahapan tersebut menjadi langkah awal sebelum implementasi pemberdayaan petani kopi perempuan dimulai di lapangan.
Melalui kolaborasi ini, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara berharap sektor kopi tidak hanya berkembang dari sisi produksi, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani, memperkuat peran perempuan dalam ekonomi keluarga, serta mendukung pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.