Jumat, 24 September 2021

22 Ribu Anak 7-18 Tahun di Purbalingga Tidak Bersekolah, “Mage Pada Sekolah” Dilaksanakan

Perwakilan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dari 18 kecamatan mengikuti pertemuan terkait Gerakan “Mage Pada Sekolah”, di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Purbalingga, Senin (13/9/2021). Gerakan ini dilaksanakan untuk mengurangi Angka Anak Tidak Sekolah (ATS). (Joko Santoso)

Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2019 menyebutkan Sebanyak 22 ribu anak usia 7-18 tahun di Kabupaten Purbalingga tidak bersekolah. Kondisi tersebut menjadi perhatian bersama seluruh stakeholder pendidikan di wilayah tersebut.


Purbalingga, serayunews.com

“Ini menjadi kekhawatiran tersendiri. Kami sudah melakukan koordinasi dengan jajaran Pusat Kegiatan belajar Masyarakat (PKBM) yang ada di Purbalingga untuk mengatasi persoalan ini dengan jalur non formal melalui Gerakan ‘Mage Pada Sekolah’,” kata Koordinator Kabupaten Purbalingga Gerakan “Mage Pada Sekolah” Subeno, Senin (13/9/2021).

Disampaikan, definisi anak tidak sekolah meliputi anak yang sama sekali tidak pernah terdaftar baik di SD, SMP sederajat, maupun SMA sederajat. Selain itu juga anak yang putus sekolah maupun anak yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan tapi tidak melanjutkan.

“Gerakan Mage Pada Sekolah mencoba mengatasi persoalan anak-anak tersebut. Salah satu upaya yang kami lakukan dengan menggandeng PKBM untuk memberikan bekal pendidikan kepada anak tidak sekolah tersebut,” ungkapnya.

Disebutkan PKBM menjadi salah satu pilar yang berperan dalam mengatasi persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) tersebut. Pihaknya hari itu juga melaksanakan pertemuan dengan pimpinan 18 PKBM di 18 kecamatan guna mencari solusi atas masih banayaknya anak yang tiak bersekolah.

“Selama ini stigma PKBM hanya menjadi penyelenggara pendidikan kesetaraan harus diubah, PKBM tidak hanya menyelenggarakan pendidikan Paket A, B dan C. PKBM juga bisa menyelenggarakan pendidikan vokasi, pemberdayaan perempuan bahkan kepemudaan. PKBM didorong untuk terus mengoptimalkan potensi yang ada agar stigma PKBM bisa berubah dan menjadi lebih baik ke depannya. Termasuk mengatasi persoalan ATS,” tandasnya.

Selain menggandeng PKBM, pihaknya juga akan melakukan pertemuan dengan 14 desa yang menjadi percontohan program “Mage Pada Sekolah”. Dengan pertemuan tersebut diharapkan akan ada formula untuk mengatasi masalah ATS di desa tersebut.

“Bagaimanapun angka ATS harus diturunkan,” lanjutnya.

Dalam kesempatan terpisah Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Kabupaten Purbalingga Siswanto menyampaikan program Mageh Pada Sekolah merupakan replikasi dari program Gerakan Sekolah Maneh yang dilaksanakan Pemprov Jateng.

“Tujuan program ini memang untuk menekan ATS yang masih tinggi,” imbuhnya.

Berita Terkait

Berita Terkini