
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Setiap bulan Agustus, berbagai lomba menjadi salah satu tradisi yang paling ditunggu masyarakat untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan Indonesia. Dari anak-anak hingga orang dewasa, warga biasanya berkumpul untuk mengikuti permainan sederhana yang penuh tawa.
Namun, di tengah perubahan zaman, tidak semua lomba yang dulu populer masih mudah ditemukan. Sejumlah permainan tradisional perlahan tergeser oleh perlombaan yang lebih modern, praktis, atau membutuhkan persiapan lebih sederhana.
Padahal, lomba-lomba tersebut pernah menjadi bagian dari kemeriahan perayaan 17 Agustus sekaligus menghadirkan keseruan tersendiri bagi warga.
Berikut lima lomba Agustusan yang kini mulai jarang ditemui.
Egrang merupakan permainan tradisional yang menggunakan dua batang bambu sebagai pijakan. Peserta harus menjaga keseimbangan sambil berjalan menggunakan egrang hingga mencapai garis akhir.
Dulu, lomba egrang cukup sering menjadi bagian dari perayaan 17 Agustus di berbagai lingkungan masyarakat. Permainan ini tidak hanya menguji kecepatan, tetapi juga keseimbangan dan keberanian peserta.
Kini, lomba egrang mulai lebih jarang ditemukan. Selain membutuhkan alat khusus, permainan ini juga memerlukan area yang cukup aman agar peserta tidak mudah terjatuh dan mengalami cedera.
Lomba bakiak beregu menggunakan papan kayu panjang yang dilengkapi beberapa pijakan untuk digunakan sejumlah peserta secara bersamaan.
Setiap anggota tim harus melangkah dalam irama yang sama agar bisa bergerak maju tanpa terjatuh. Karena itu, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi juga kekompakan dan komunikasi tim.
Meski masih bisa ditemukan dalam sejumlah perayaan kemerdekaan, lomba bakiak beregu kini tidak selalu menjadi pilihan utama. Banyak panitia memilih permainan yang lebih mudah disiapkan dan bisa melibatkan lebih banyak peserta.
Jika egrang biasa menggunakan bambu berukuran panjang, egrang batok memanfaatkan tempurung kelapa yang dihubungkan dengan tali.
Peserta berdiri di atas tempurung kemudian berjalan sambil menarik tali sebagai pegangan. Permainan sederhana ini membutuhkan keseimbangan, konsentrasi, dan koordinasi gerak.
Dahulu, egrang batok cukup mudah ditemukan dalam kegiatan permainan tradisional anak-anak. Namun, seiring munculnya berbagai jenis perlombaan baru, permainan ini semakin jarang terlihat dalam agenda Agustusan di sejumlah lingkungan.
Berbeda dengan lomba yang mengandalkan kekuatan atau kecepatan, permainan ini menguji ketelitian, konsentrasi, dan kesabaran peserta.
Dalam beberapa variasi, peserta harus memasukkan benang ke lubang jarum dalam waktu tertentu. Ada pula yang mengemasnya dalam bentuk perlombaan estafet beregu.
Peralatan yang dibutuhkan sangat sederhana dan tidak memerlukan area luas. Namun, lomba yang mengandalkan ketelitian ini kini kalah populer dibandingkan permainan yang lebih atraktif dan mampu mengundang sorakan penonton.
Perang bantal menjadi salah satu lomba Agustusan yang dahulu mampu mengundang banyak penonton.
Biasanya, dua peserta duduk berhadapan di atas batang bambu atau balok kayu yang dipasang melintang di atas kolam atau parit. Mereka kemudian saling memukul menggunakan bantal hingga salah satu peserta kehilangan keseimbangan dan jatuh ke air.
Selain menguji keseimbangan, lomba ini menawarkan tontonan yang menghibur karena peserta biasanya harus rela basah-basahan.
Namun, lomba perang bantal membutuhkan persiapan lebih dibandingkan permainan lainnya. Panitia harus menyiapkan lokasi yang aman, seperti kolam atau area berisi air, serta memastikan perlengkapan dan kondisi permainan tidak membahayakan peserta.
Karena itu, permainan tersebut semakin jarang ditemukan, terutama di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan ruang terbuka.
Berkurangnya sejumlah lomba tradisional tersebut bukan berarti permainan itu benar-benar hilang dari Indonesia.
Di beberapa daerah, permainan seperti egrang, bakiak, dan egrang batok masih dimainkan, terutama ketika masyarakat sengaja mengangkat kembali permainan tradisional dalam kegiatan budaya.
Perubahan jenis lomba juga menunjukkan bahwa cara masyarakat merayakan 17 Agustus ikut berkembang. Sebagian permainan tetap bertahan, sebagian dimodifikasi agar sesuai dengan kondisi lingkungan, sementara lainnya perlahan ditinggalkan.
Meski sederhana, lomba-lomba tersebut pernah menjadi bagian penting dari pengalaman masa kecil banyak orang.
Bukan hanya soal hadiah yang diperebutkan. Ada suasana berkumpul bersama warga, teriakan penonton, kekompakan teman satu tim, hingga tawa ketika melihat peserta gagal mencapai garis akhir.
Karena itu, lomba Agustusan bukan sekadar permainan. Di balik kesederhanaannya, tersimpan memori kebersamaan dan tradisi warga yang membuat perayaan kemerdekaan terasa lebih dekat dengan masyarakat. (Faradian Yusi)