
SERAYUNEWS – Kenaikan harga emas yang terjadi sepanjang Januari 2026 kembali menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat luas.
Logam mulia ini tidak hanya mencetak rekor baru di pasar internasional, tetapi juga menunjukkan lonjakan signifikan di dalam negeri.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar: mengapa harga emas terus naik dalam waktu yang relatif singkat?
Per 29 Januari 2026, harga emas dunia tercatat melonjak lebih dari dua persen dan menembus level di atas 5.500 dolar AS per ons troi. Kenaikan ini sejalan dengan pergerakan harga emas di Indonesia.
Emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Antam) tercatat mencapai kisaran Rp3,16 juta per gram, sementara harga buyback juga mengalami kenaikan tajam. Situasi ini memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai yang kembali diminati investor.
Alasan Harga Emas Mengalami Kenaikan
1. Kebijakan Moneter Amerika Serikat Jadi Faktor Utama
Salah satu pemicu utama naiknya harga emas adalah kebijakan moneter Amerika Serikat. Bank sentral AS, Federal Reserve, memutuskan untuk menahan suku bunga acuan meskipun tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Keputusan ini memicu respons pasar yang cukup besar.
Dalam kondisi suku bunga yang tidak naik, daya tarik aset berbasis bunga menjadi berkurang.
Investor kemudian mulai mencari alternatif penyimpan nilai yang dinilai lebih aman, salah satunya emas.
Situasi ini memperkuat pandangan bahwa uang kertas berpotensi mengalami penurunan nilai dalam jangka menengah, sehingga emas kembali diposisikan sebagai aset riil yang lebih stabil.
2. Pelemahan Dolar AS Dorong Permintaan Emas
Selain kebijakan suku bunga, pergerakan nilai tukar dolar AS juga memainkan peran penting. Dolar tercatat mengalami pelemahan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, bahkan sempat menyentuh level terendah dalam beberapa tahun.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut bahwa pemerintah tidak terlalu mengkhawatirkan pelemahan dolar ditafsirkan pasar sebagai sinyal bahwa tren penurunan nilai mata uang tersebut masih akan berlanjut.
Akibatnya, banyak investor memilih melepas kepemilikan dolar dan mengalihkannya ke aset safe haven, termasuk emas.
Pelemahan dolar juga membuat harga emas menjadi relatif lebih murah bagi pembeli dari luar Amerika Serikat, sehingga permintaan global ikut meningkat.
3. Ketegangan Geopolitik Meningkatkan Minat Safe Haven
Faktor geopolitik turut memperkuat tren kenaikan harga emas. Ketidakpastian global, khususnya yang berkaitan dengan kebijakan luar negeri dan konflik geopolitik Amerika Serikat, membuat pasar keuangan menjadi lebih volatil.
Berbagai polemik, mulai dari ancaman tarif perdagangan hingga wacana kebijakan teritorial, menimbulkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global.
Dalam situasi seperti ini, emas kembali menjadi pilihan utama karena dianggap sebagai aset netral yang tidak terikat pada kinerja ekonomi satu negara tertentu.
4. Perubahan Strategi Cadangan Bank Sentral Dunia
Kenaikan harga emas juga tidak bisa dilepaskan dari tren jangka panjang yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.
Setelah sanksi ekonomi terhadap Rusia pada 2022, banyak bank sentral di dunia mulai mengevaluasi ulang komposisi cadangan devisa mereka.
Sebagian negara secara bertahap mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar dan meningkatkan porsi cadangan emas.
Langkah ini dilakukan sebagai strategi diversifikasi dan perlindungan nilai dalam menghadapi ketidakpastian global.
Akumulasi pembelian emas oleh bank sentral tersebut memberikan tekanan permintaan yang konsisten dan mendorong harga emas terus bergerak naik.
5. Kekhawatiran Inflasi dan Valuasi Aset Keuangan
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap inflasi global dan mahalnya valuasi aset keuangan juga menjadi alasan mengapa emas semakin diminati.
Saham dan instrumen keuangan lainnya dinilai sudah berada di level harga yang tinggi, sehingga risiko koreksi menjadi lebih besar.
Dalam kondisi tersebut, emas dianggap mampu menjaga daya beli dan berfungsi sebagai penyeimbang portofolio.
Tidak mengherankan jika permintaan emas fisik maupun instrumen berbasis emas mengalami peningkatan, baik dari investor institusi maupun ritel.
Prospek Harga Emas ke Depan
Melihat kombinasi faktor moneter, geopolitik, serta tren jangka panjang, harga emas diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tetap kuat.
Selama ketidakpastian global belum mereda dan kepercayaan terhadap mata uang fiat masih tertekan, emas berpotensi mempertahankan posisinya sebagai aset favorit.
Bagi masyarakat dan investor, lonjakan harga emas ini menjadi pengingat pentingnya memahami faktor global yang memengaruhi pasar.
Emas bukan sekadar komoditas, tetapi juga cerminan dari kondisi ekonomi dan kepercayaan dunia terhadap sistem keuangan global.***










