Pertahanan Semesta Satgas Rukun Tangga (RT) Hadapi Covid 19

Bagaimana RT Menghadapi Covid 19?

Melihat perkembangan dalam beberapa watu terakhir, virus corona menjadi Pageblug yang serius. Tidak menjadi mustahil berpotensi mendorong reaksi berantai dari krisis kesehatan menuju krisis sosial ekonomi. Ditambah lagi fenomena masyarakat bahkan didaerah semakin selfish (hanya memikirkan dirinya) atau komunitasnya sendiri. Ini ditandai dengan penolakan penguburan jenazah di area makam sekitar, Penerapan Lockdown gang perumahan secara reaktif, penolakan masyarakat mudik tanpa prosedur yang benar dan sebagainya.

Hal diatas bisa jadi dipicu karena derasnya arus informasi dari media sosial yang membuat warga semakin khawatir, itu bisa dipahami. Namun demikian sikap selfish justru akan menjadi blunder bagi kehidupan masyarakat secara lebih luas. Sikap seperti ini bila terakumulasi akan berpotensi memunculkan chaos. Sebab, tumbukan kepentingan yang keras dan tidak beraturan. Panik Buying akan terjadi, yang lemah akan semakin kalah dan selanjutnya krisis ekonomi social mungkin terjadi.

Dari sisi lain peran tokoh masyarakat kurang berfungsi konstruktif dalam hadapi Covid 19 ini. Sehingga Capital Social / modal social yang kita miliki seperti gotong royong, kohesi rukun tangga dan sebagainya belum muncul dalam masa-masa awal hadapi covid ini. Dan bila tidak dimunculkan bisa jadi modal social ini tidak bisa dimanfaatkan dimasa-masa yang lebih sulit yang mungkin tidak lama lagi waktunya.

Dari bacaan diatas penulis merekomendasikan untuk dibuatnya Satgas Covid Berbasis RT sebagai pelibatan civil society sebagai pertahanan bottom Up ketahanan negara. Hal ini bisa meringankan tugas-tugas pemerintah yang bersifat Top Down. Pertahanan semesta yang berbasis masyarakat sipil bisa jadi merupakan peluang terbaik kita menghadapi pageblug yang berskala nasional ini. Karena bila semua orang meletakkan pemerintah semata-mata sebagai episentrum solusi bisa jadi resiko krisis ini tidak terselesaikan dengan baik. Adpun langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut

1. Kuatkan fungsi tokoh masyarakat yang berbasis RT untuk dijadikan corong pemerintah dalam melakukan penggalangan opini yang positif dan konstruktif dalam rangka meningkatkan kembali kemampuan gotong royong warga hadapi covid-19

2. Membuat 3 Protokol berbasis RT, yakni Protokol Pangan, Protokol Kesehatan dan Protokol Keuangan yang bisa disesuaikan dengan keadaan RT masing-masing. Adapun 3 protokol tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Protokol Pangan
i. Mengumpulkan sembako bersama (dibuat gudang bersama) untuk persediaan bila terjadi krisis yang serius. semisal pergeseran dari masalah kesehatan menjadi krisis ekonomi politik. Gudang ii utuk persediaan pangan 2-3 bulan
ii. Dana bisa diambil dari jimpitan dengan penetapan jimpitan yang lebih besar, menerima infak ,sedekah, bantuan dari warga yang punya kelebihan uang atau bahan pangan
iii. Dsb

b. Protokol kesehatan
i. menetapkan aturan yang lebih serius terkait interaksi warga, mekanisme dengan warga pendatang dan sebagainya, termasuk juga mobilisasi anak-anak yang dibeberapa kasus justru masa liburan jadi masa bermain bersama.
ii. Menjadikan rumah kosong dilingkungan RT untuk disiapkan sebagai tempat isolasi bersama
iii. Buat lumbung alat kesehatan yang dibutuhkan untuk pertolongan pertama penangan gejala covid 19
iv. berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait baik dari elemen pemerintah dsb

c. Protokol Pendanaan
i. Menyiapkan dana yang bisa diakumulasi dari iuran, atau bantuan bahkan hutang jangka panjang yang akan ditanggung bersama-sama dicicil oleh warga RT
ii. Dana digunakan untuk pengadaan barang-barang baik pangan atau kesehatan secara continue (tidak dengan aksi borong)
iii. Bila perlu melakukan pinjaman ke lembaga keuangan untuk persiapan diatas.

Demikian sedikit usulan penulis, syukur satgas ini bisa dilegitimasi pemerintah daerah,supaya tokoh masyarakat dilingkungan RT/RW bisa lebih bersemangat dan memiliki posisi tawar yang lebih baik ditengah-tengah masyarakat untuk menggerakan kerja-kerja diatas.

Mukit Hendrayatno

Komentar