Senin, 4 Juli 2022

Awas! Pemakai Narkoba Bergeser ke Desa, Ini Kata Kepala BNN Cilacap

Kepala BNN Kabupaten Cilacap AKBP Windarto, Foto: Ulul Azmi

BNN Kabupaten Cilacap mendeteksi ada pergeseran para pemakai narkoba yang mulanya di kota bergeser ke desa di wilayah Kabupaten Cilacap. Bahkan peningkatan pergeseran itu terjadi sejak pademi Covid-19. Untuk itu, BNN perkuat intervensi berbasis masyarakat (IBM).


Cilacap, serayunews.com

Kepala BNN Kabupaten Cilacap AKBP Windarto mengatakan, bahwa berdasar penelitian dan data pihaknya, tercatat ada peningkatan pergeseran pemakai narkotika dari wilayah kota ke desa. Maski belum terdeteksi sebabnya, namun pihaknya saat ini masih terus melakukan upaya pencegahan dengan IBM tersebut.

Baca juga  Tingkatkan Kualitas Pelayanan, Polres Cilacap Canangkan Zona Integritas WBBM

“Data selama pandemi Covid, pergeseran dari kota ke desa, banyak pemakai, yang kita lakukan pendataan, pemakainya juga ada penambahan jumlahnya. Kita lakukan secara aktif dalam rangka penjangkauan, sehingga jangan sampai orang dengan kondisi cobaan pakai dan teratur pakai berlanjut,” ujar AKBP Windarto, Rabu (22/6).

Kendati ada peningkatan jumlah pemakainya, namun ia belum menjelaskan secara rinci jumlahnya. Hanya saja ia menyebut barang narkotika yang dipakai antara sabu dan ganja. Sedang pamakainya pada usia produktif.

“Indikasi peningkatannya dari hasil penelitian kita dan data klien rehabilitasi. Dari data, yang sukarela datang ada 41 orang, usia pemakai 16-30 tahun, untuk narkoba antara sabu dan ganja, namun kalau rehabilitasi banyak pengguna obat-obatan,” ujarnya.

Baca juga  Unik, 4 Hari Cincin Nyangkut di Alat Vital, Warga Wanareja Panggil Damkar

Untuk meningkatkan peran rehabilitasi, BNN juga membentuk intervensi berbasis masyarakat (IBM). Dengan adanya IBM itu, masyarakat bisa mengedukasi, merehabilisasi dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

Salin itu, upaya pencegahan peredaran gelap narkoba juga dengan cara membentuk desa bersih dari narkoba (bersinar). Bahkan upaya pencegahan lain, pihaknya juga menggunakan teori kejahatan yakni pertemuan antara niat dan kesempatan.

“Ada dua upaya, yang pertama adalah niat, kita lakukan sosialisasi sehingga kita menghilangkan niat seseorang untuk melakukan pelanggaran masalah narkotika. Yang kedua kesempatan, kita menghilangkan kesempatan dengan cara kita memetakan wilayah mana yang rawan kita datangkan petugas di situ. Sehingga tidak ada kesempatan orang untuk melakukan kejahatan,” ujarnya.

Berita Terkait

Berita Terkini