Kamis, 21 Oktober 2021

Banyak yang Rugi, Petani di Cilacap Berharap Harga Padi Naik Saat Panen

Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji bersama Dinas Pertanian dan Forkopimcam Sampang saat menebar benih padi di lahan persawahan Desa Karangtengah Sampang Cilacap. (Ulul)

Meski harga padi sempat anjlok dan banyak petani merugi, namun petani di Cilacap tetap bersemangat untuk memulai masa tanam di pekan ini, yang diawali dengan pengolahan lahan persawahan di wilayah Cilacap bagian timur. Petani berharap, musim panen mendatang harga padi kembali stabil dan naik.


Sampang, serayunews.com

Muhtarudin petani dari Desa Karangtengah Kecamatan Sampang merupakan satu diantara ribuan petani di Cilacap yang berharap harga padi stabil bahkan meningkat dikala musim panen. Namun kenyataan terkadang tak sesuai dengan harapan.

Ia mengatakan, petani alami sejumlah kendala baik saat musim tanam maupun di musim panen. Dimana saat mengawali musim tanam, tenaga pengolah sawah sudah mulai berkurang terutama dari kalangan generasi muda. Ia juga mengakui sulitnya mencari tenaga kerja, bahkan harus mencari dari luar daerah, itu pun terkadang harus antre.

Selain tenaga kerja, ia juga menyayangkan dengan tingginya operasional yang dikeluarkan. Sebab selain untuk kebutuhan pupuk, harga obat pertanian juga terus meningkat setiap musimnya. Menurutnya, yang lebih memprihatinkan lagi adalah ketika masuk musim panen, harga padi sering anjlok sehingga membuat banyak petani merugi.

“Tatkala musim panen kita mendambakan harga padi stabil, kami sudah berbicara kepada instansi pemerintah di bawah melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL) untuk disampaikan, kalau pupuk bisa subsidi, padi juga disubsidi, kita sudah sampaikan paling tidak harganya Rp 5000 /kg itu petani baru bisa ketawa (bahagia),” ujar Muhtarudin, Sabtu (25/09).

Muhtarudin ikut tergabung dalam Kelompok Tani Sida Makmur 1 Kecamatan Sampang berharap agar pemerintah bisa mensubsidi harga padi saat panen dengan harga standar Rp 5000/kg. Sebab beberapa kali panen akhir ini harga gabah kering anjlok kisaran harga Rp 3.800 – Rp 4.000/kg. Harga tersebut dinilai masih belum seimbang dengan biaya operasional yang dikeluarkan.

“Penghasilan petani anjlok, untuk menutup biaya operasional kita harus cari pinjaman dulu, kita berharap pemerintah bisa mencari solusi,” ujarnya.

Sebelumnya, gerakan tanam lebih awal dipelopori oleh Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji dan Dinas Pertanian yang diawali dengan penebaran benih padi di tempat persemaian di lahan sawah Desa Karangtengah Kecamatan Sampang, Jumat (24/09).

Dalam kesempatan itu, Bupati menyampaikan penghargaan dan apresiasi kepada petani yang telah bekerja keras sehingga produktivitas padi Cilacap teringgi nasional tahun 2019-2020. Selain itu, Bupati juha sedang mempersiapkan konsep dan regulasi agar hasil panen bisa terserap dengan baik.

“Saya lagi mempersiapkan market intelijen, hari ini saya mau merencanakan tanam bulan depan, yang menerima hasil panennya sudah ada, yakinlah menjadi petani itu bangga, paten, sukses dan kaya,” ujar Bupati.

Selain itu, Bupati juga akan menyelesaikan masalah klasik yang sering dikeluhkan petani seperti masalah pupuk dan harga jual padi yang akan ditindaklanjutinya dengan regulasi yang ada.

Program tanam lebih awal di wilayah Cilacap bagian timur diawali daerah yang teraliri irigasi serayu, mulai dari Kecamatan Sampang, Kesugihan, hingga wilayah Kota dengan luasan sekitar 19 hektar yang akan memulai tanam hingga akhir Oktober 2021.

Editor :M Amron

Berita Terkait

Berita Terkini