Selasa, 28 September 2021

Begini Cerita Emak-emak di Purbalingga Bubarkan Acara Balap Liar di Muntang Kemangkon

Aksi balap liar dibubarkan setelah diomelin ibu-ibu. (dok istimewa)

Kegiatan balap liar yang dibubarkan oleh aparat kepolisian sudah menjadi hal biasa. Di Purbalingga,  sejumlah remaja langsung kabur setelah diomelin ibu-ibu alias emak-emak. Rencananya, mereka akan test drive motor dragnya. Tepatnya di jalan Kabupaten, Desa Muntang, Kecamatan Kemangkon.


Kemangkon, serayunews.com

Roro Hendarti, warga Desa Muntang menyampaikan, untuk kesekian kalinya dia mendapati lokasi tersebut untuk balap liar. Selasa (13/07/2021) sore, dia kembali mendapati hal serupa. Sontak, langsung dia tegur untuk membubarkan diri.

“Sering saya bubarkan, waktu nya sore sekitar Jam 4, lagi rame orang balik kerja,” kata Roro.

Roro menceritakan, pernah pada suatu waktu dia nyaris tertabrak, pada kegiatan balap liar itu. Ada juga, ketika hendak jalan, para pengguna jalan lain diminta untuk minggir atau berjalan lebih cepat. Sehingga kondisi jalan kosong.

“Saya pernah mau ketabrak, ibu-ibu yang kerja di perumahan pakai sepeda dibentak-bentak supaya naiknya cepat. Kan kasihan mereka ketakutan,” ujarnya.

Bukan hal mudah, berani menegur dn membubarkan kegiatan balap liar. Namun, keberaniannya juga tanpa dasar. Dia berani karena ingin menciptakan kondisi desa yang aman dan nyaman. Selain itu, dalam konteks hukum balap  liar jelas menyalahi aturan.

Hal ini sudah ditegaskan di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ). Pada Pasal 115 UU tersebut mengatur mengenai larangan balapan dengan kendaraan lain di jalan raya.

“Ada yang anak dibawah umur, ada juga yang bilang anak polisi. Ya saya jawa seharusnya anak polisi memberi contoh yang baik, bukan seperti ini, tidak pakai helm, motor tidak standar,” kata dia.

Lebih lanjut, Roro mengatakan bahwa sudah beberapa kali warga koodinasi dengan Polsek. Polsek pun sempat memergoki kegiatan tersebut. Namun, seperti tak ada kapoknya, hal senada kerap diulangi lagi.

“Pernah mobil  patroli polisi sampai, tapi sudah bubar, pernah Bhabinkantibmas nya juga memberikan pengarahan dan membubarkan, tapi kelompoknya berbeda-beda,” katanya.

Kegiatan itu biasanya dilakukan sore hari. Hampir setiap minggu selalu dilakukan, meski hanya melakukan uji kemampuan hasil settingan. Namun tetap saja dirasa menggangu dan membahayakan. “Intinya kita dan aparat terkait sudah tidak kurang-kurang untuk mengatasinya. Jalan satu-satunya ya dibuat pita kejut,” katanya.

Berikut cuplikan videonya

Editor :M Amron

Berita Terkait

Berita Terkini