Dari Mako Brimob Hingga Ke Nusakambangan, Ini Kisah Wanita Pejuang ISIS bersama Bayinya

1652
Personil Brimob menggendong bayi anak dari salah satu tahanan wanita usai insiden berdarah di Rutan Mako Brimob

CILACAP,SERAYUNEWS.COM – Bayi perempuan mungil anak dari salah satu tahanan perempuan di tengah insiden berdarah di Rutan Mako Brimob kini berada di Nusakambangan. Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) Sri Pugi Budi Utami pastikan kondisi dua narapidana wanita beserta satu bayi dalam kondisi baik. Dua tahanan perempuan yaitu Melani dan Anggi dan beserta banyinya,  ikut dalam rombongan pemindahan napi dari Mako Brimob ke Lembaga Pemasyarakatan Cilacap.

“Dua perempuan bersama satu bayinya ditempatkan terpisah pada ruang khusus terpisah dengan narapidana lain di Lapas Batu Nusakambangan, ” jelasnya di Dermaga Wijayapura Cilacap, Sabtu (12/5/2018).

Saat insiden berdarah di Mako Brimob berlangsung tim negosiator Polri telah meminta agar bayi dan tahanan perempuan itu dipindahkan. Namun reaksi tahanan perempuan itu, lebih memilih bertahan di dalam rutan bersama bayi mungilnya.

Setelah penyandaraan berakhir, dua tahanan perempuan dan bayi itu ikut dipindahkan ke Lapas Nusakambangan pada Kamis (10/5/2018) sore. Mereka duduk dibarisan tempat duduk depan bus paling depan dari 8 bus yang rombongan narapidana teroris.

Tahanan Perempuan di Rutan Mako Brimob usai Insiden Berdarah di Mako Brimob
Tahanan Perempuan Asal Klaten Ditengah Prahara

Melangsir dari kumparan.com, bayi tersebut adalah anak dari tahanan bernama Anggi Indah Kusuma dengan nama alias Khanza Syafiyah al-Fuqron. Bayi berjenis kelamin perempuan itu baru lahir akhir Maret lalu. Saat insiden terjadi di Mako Brimob, tim negosiator Polri telah meminta agar bayi dan tahanan perempuan itu dipindahkan. Anggi ditahan setelah ditangkap oleh Densus 88 di Bandung pada Agustus 2017.

Awal mula Anggi menjadi ekstrimis saat dirinya bekerja di Hongkong, berkenalan dengan Musa Wisesa dan Alqosam al-Ajeneseh. Dua orang itu kemudian mendoktrinnya dengan ideologi ISIS.

Kembali ke Indonesia, Anggi menjalani rehabilitasi di Panti Sosial Marsudi Putra Handayani Jakarta selama dua minggu. Ia kemudian pulang ke kampungnya di Klaten selama tiga minggu, sebelum akhirnya pergi ke Sumenep sambil menunggu kepulangan Rahman yang baru ia nikahi Mei 2017.

Tidak hanya radikal, Anggi ternyata memilih menjadi pejuang ISIS (Islamic State in Iraq and al-Sham), kelompok militan ekstrim teroris jaringan internasional. Anggi mendeklarasikan kesetiaannya kepada pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi lewat video yang ia unggah ke laman Facebooknya. Tidak hanya itu, Anggi menjadi admin grup telegram Redaksi Khilafah yang memiliki 86 anggota. Aktivitas ini membuatnya dideportasi dari Hong Kong pada Maret 2017.

Anggi ditangkap bersama suaminya bernama Adilatul Rahman, jaringan liannya M Syukron dan Rahman alias Idan. Jaringan Anggi menyimpan bahan peledak yang rencananya akan diledakkan di beberapa objek vital. Setelah ditahan, Anggi yang kemudian ditempatkan bersama dua tahanan perempuan lain di rutan Blok C. Sementara suaminya ditempatkan terpisah di Blok A.

Baca Juga : Saat 145 Napi Teroris Menyeberang ke Nusakambangan
Komentar