Dosen di Baturaden Ciptakan Genteng dan Bata Dari Limbah

Baturraden, Serayunews.com- Setelah melakukan riset selama dua tahun, akhirnya seorang Dosen Kesehatan Lingkungan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang di Baturraden berhasil meciptakan genteng yang terbuat dari limbah plastik bekas dan bata yang terbuat dari campuran rumput liar.


Dosen tersebut yakni Jamaludin Ramlan, dimana menurutnya ia telah melakukan riset sejak tahun 2017 hingga 2019 akhirnya bisa menemukan dua jenis bahan bangunan tersebut dengan memanfaatkan limbah lingkungan serta rumput liar.

“Bahan-bahan botol plastik dengan beberapa campuran saya buat menjadi genteng yang kuat kemudian ada juga bata bangunan yang dibuat dari campuran rumput liar dan beberapa bahan lainnya,” kata dia kepada Serayunews.com.

Jamal mengungkapkan, awal mula dirinya memiliki ide untuk membuat bahan-bahan limbah lingkungan seperti plastik tersebut menjadi hal yang lebih bermanfaat, setelah ia melihat banyaknya problem yang ditimbulkan oleh sampah terutama plastik.

“Dari situ saya kepikiran untuk meamnfaat limbah plastik terutama botol plastik bekas. Saya ajukan riset ke kampus dan pihak kampus mau membiayai riset saya,” kata dia.

Dua tahun riset, dirinya tentu merasa kesulitan diawal percobaannya, dari mulai genteng yang rusak ketika terkena air hujan, kemudian setelah selesai di cetak langsung rontok dan pecah hingga berbagai persoalan lainnya. Namun, ia tidak patah semangat. Sampai akhirnya ia menemukan formulasi yang pas.

“Saat itu saya belum menemukan campuran yang pas. Dulu hanya dicampur semen saja belum ada kapur dan pasir, sampai akhirnya saya temukan formula itu dan berhasil menciptakan bahan bangunan ini,” ujarnya.

Memang belum dipasarkan atau dibuat sekala besar penemuannya tersebut. Namun, dirinya siap memberikan bahan temuan tersebut jika ada pihak yang mau menerima temuannya tersebut. “Belum ada produksi jumlah besar, karena sekarang masih sebatas riset dan masih ada yang perlu diperbaiki lagi,” kata dia.

Perbaikan tersebut lebih spesifik pada daya serap bata yang dia buat. Karena daya serap airnya masih kalah dengan batu bata merah yang berbahan baku tanah liat.

“Kalau ini daya serapnya 50 persen kalau batu bata merah 70 persen. Soal ketahanan memang menang jauh, bata ini bisa menahan berat sampai 3.000 kilogram,” ujarnya.

Jamal juga menceritakan proses pembuatannya, dimana setelah semua bahan di campur. Kemudian bahan tersebut di pres dengan menggunakan alat pres dan cetak sederhana.

“Setelah selesai kemudian bata hasil pres diletakan di tempat biasa nggak perlu di jemur juga. Nanti setelah dua mingguan akan mengeras dan membentuk bata,” kata dia.

Ia berharap, kelak dengan temuannya tersebut dapat mengurangi polemik persoalan sampah di berbagai wilayah. Karena selain pembuatannya dapat dengan mudah juga dapat mengurangi limbah sampah plastik

Komentar