More

    Dugaan Pemerasan Oknum Mabes Polri, Pengrajin Jamu Cilacap Demo

    Warga membentangkan spanduk berisi Daftar Nominal Dugaan Pemerasan saat demo di Lapangan Desa Gentasari Kecamatan Kroya. Foto : Istimewa

    Cilacap, Serayunews.com – Puluhan  pengrajin jamu Desa Gentasari Kecamatan Kroya, menggelar unjuk rasa di Lapangan Desa pada Senin (5/10/2020) Aksi itu dilatarbelakangi dugaan pemerasan oknum perwira Mabes Polri terhadap sejumlah pengrajin jamu.

    Dalam aksinya mereka membentangkan sejumlah spanduk berisi berbagai tuntutan, keluhan, bahkan hingga daftar nama serta nominal dugaan pemerasan.

    Dikutip dari detik.com, pemerasan itu dilakukan oknum dengan proses penahanan. Salah satu pengrajin jamu, Mulyono mengatakan peristiwa  tersebut sudah berlangsung selama beberapa tahun.

    Sejumlah pengrajin didatangi oleh oknum Mabes Polri, yang dipimpin seorang oknum perwira berpangkat AKBP berinisial AW.

    “Kemudian kita dibawa ke sana (Bareskrim Mabes Polri). Setelah di sana ditahan satu dua sampai enam hari kemudian dilepas dan disuruh cari uang dan ada juru tagihannya. Uang via transfer. Dimintanya seperti itu, kalau juru tagihannya cuma suruh transfer-transfer. Jadi kita dikasih waktu sekian hari sampai lunas, nominalnya sana yang menentukan,” ujarnya.

    Diungkapkan Mulyono, pengrajin jamu dituduh melakukan produksi yang melanggar aturan undang-undang.

    “Korbannya sangat banyak sekali, tidak terhitung. Per orang ada yang Rp 350 juta, Rp 500 juta, Rp 1,7 miliar, Rp 2,5 miliar dan ada yang Rp 3,5 miliar,” katanya.

    Para pengrajin jamu meminta agar pemerintah berkomunikasi dan membina para pengrajin jamu. Jika ada pelanggaran, Waluyo berharap ada solusi tanpa intimidasi.

    “Semua pihak yang terkait terutama pemerintah untuk melakukan pembinaan terhadap kami sebagai pengusaha jamu Jawa asli. Sekiranya bisa dibina, diarahkan, sehingga bisa menjadi mata pencaharian kami, yang intinya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Cilacap ini,” ucapnya.

    Dalam aksi tersebut mereka juga sempat membakar ban dan dijaga sejumlah personel polisi dan petugas Gugus Tugas terkait protokol kesehatan COVID-19.

    Saat dimintai konfirmasi tentang nama oknum polisi yang dikeluhkan para pengrajin jamu tersebut, Kapolres Cilacap AKBP Dery Agung Wijaya mengaku masih mendalaminya.

    “Ini masih kita dalami. Tim masih cek dan mengumpulkan bahan keterangan,” kata Dery kepada wartawan melalui pesan singkat.

    Berdasarkan informasi yang dihimpun serayunews.com, sebelum menggelar aksi unjuk rasa, sejumlah warga dari para pengrajin jamu berhasil mengungkap beberapa informan yang diduga rutin memberikan informasi kepada oknum tersebut.

    Dari peristiwa itu, informan berinisial MTR (40) mengakui perbuatannya. Denan disaksikan puluhan warga, MTR memberikan pernyataan tertulis bermaterai untuk tidak mengulangi perbuatan lagi.

     

     

    View this post on Instagram

    Cilacap, Serayunews.com – Puluhan pengrajin jamu Desa Gentasari Kecamatan Kroya, menggelar unjuk rasa di Lapangan Desa. Aksi itu dilatarbelakangi dugaan pemerasan oknum perwira Mabes Polri terhadap sejumlah pengrajin jamu. Dalam aksinya mereka membentangkan sejumlah spanduk berisi berbagai tuntutan, keluhan, bahkan hingga daftar nama serta nominal dugaan pemerasan. Dikutip dari detik.com, pemerasan itu dilakukan oknum dengan proses penahanan. Salah satu pengrajin jamu, Mulyono mengatakan peristiwa tersebht sudah berlangsung selama beberapa tahun. Sejumlah pengrajin didatangi oleh oknum Mabes Polri, yang dipimpin seorang oknum perwira berpangkat AKBP berinisial AW. "Kemudian kita dibawa ke sana (Bareskrim Mabes Polri). Setelah di sana ditahan satu dua sampai enam hari kemudian dilepas dan disuruh cari uang dan ada juri tagihannya. Uang via transfer. Di minya seperti itu, kalau juru tagihannya cuma suruh transfer-transfer. Jadi kita dikasih waktu sekian hari sampai lunas, nominalnya sana yang menentukan," ujarnya. Diungkapkan Mulyono, pengrajin jamu dituduh melakukan produksi yang melanggar aturan undang-undang. "Korbannya sangat banyak sekali, tidak terhitung. Per orang ada yang Rp 350 juta, Rp 500 juta, Rp 1,7 miliar, Rp 2,5 miliar dan ada yang Rp 3,5 miliar," katanya. Para pengrajin jamu meminta agar pemerintah berkomunikasi dan membina para pengrajin jamu. Jika ada pelanggaran, Waluyo berharap ada solusi tanpa intimidasi. "Semua pihak yang terkait terutama pemerintah untuk melakukan pembinaan terhadap kami sebagai pengusaha jamu Jawa asli. Sekiranya bisa dibina, diarahkan, sehingga bisa menjadi mata pencaharian kami, yang intinya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Cilacap ini," ucapnya. Dalam aksi tersebut mereka juga sempat membakar ban dan dijaga sejumlah personel polisi dan petugas Gugus Tugas terkait protokol kesehatan COVID-19. Saat dimintai konfirmasi tentang nama oknum polisi yang dikeluhkan para pengrajin jamu tersebut, Kapolres Cilacap AKBP Dery Agung Wijaya mengaku masih mendalaminya. "Ini masih kita dalami. Tim masih cek dan mengumpulkan bahan keterangan," kata Dery kepada wartawan melalui pesan singkat.

    A post shared by SerayuNews (@serayu_news) on

    Berita Terkini

    Akeeh Pol !! Utang Rp 8,8 Triliun Direstrukturisasi di Banyumas Raya

      Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto mencatat ada 139.512 debitur perbankan yang telah melakukan restrukturisasi kredit hingga 15 Oktober 2020. Dengan jumlah mencapai Rp 8,827...

    Dua Rumah Terseret Abrasi Sungai, 40 Lainnya Terancam Hanyut

    Masyarakat Dusun Winong Desa Slarang Kecamatan Kesugihan kembali mendorong Pemerintah Kabupaten Cilacap untuk melakukan percepatan penanganan abrasi di wilayahnya. Pasalnya, abrasi yang terjadi di...

    Waspada! Ada Penipu Mengatasnamakan Sekda Meminta Sejumlah Uang

    Cilacap, Serayunews.com-Penipuan dengan mengatasnamakan pejabat dilingkungan Pemerintah Kabupaten Cilacap kembali terjadi. Kali ini, nama Sekretaris Daerah Farid Ma'ruf dicatut untuk menipu. Hal ini diketahui setelah...

    Soal UU Cipta Kerja, Anggota DPR Fraksi Gerindra Novita : Utamakan Rakyat Dulu

    Cilacap, Serayunews.com - Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Novita Wijatanti mengaku belum mengetahui persis isi Undang Undang Cipta Kerja yang menjadi...

    Berita Terkait

    Banjir dan Longsor Terjang Jeruklegi, Satu Mobil Hanyut Masuk Sawah

    Hujan deras yang mengguyur Cilacap semalaman menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Kecamatan Jeruklegi. Akibatnya, akses antar desa terputus. Cilacap, Serayunews.com Kepala Badan Pelaksana...

    Dua Rumah Terseret Abrasi Sungai, 40 Lainnya Terancam Hanyut

    Masyarakat Dusun Winong Desa Slarang Kecamatan Kesugihan kembali mendorong Pemerintah Kabupaten Cilacap untuk melakukan percepatan penanganan abrasi di wilayahnya. Pasalnya, abrasi yang terjadi di...

    Waspada! Ada Penipu Mengatasnamakan Sekda Meminta Sejumlah Uang

    Cilacap, Serayunews.com-Penipuan dengan mengatasnamakan pejabat dilingkungan Pemerintah Kabupaten Cilacap kembali terjadi. Kali ini, nama Sekretaris Daerah Farid Ma'ruf dicatut untuk menipu. Hal ini diketahui setelah...

    Soal UU Cipta Kerja, Anggota DPR Fraksi Gerindra Novita : Utamakan Rakyat Dulu

    Cilacap, Serayunews.com - Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Novita Wijatanti mengaku belum mengetahui persis isi Undang Undang Cipta Kerja yang menjadi...

    Suara Ledakan dan Kepulan Asap Pabrik Semen Bikin Panik Warga, Ini Penjelasan PT SBI

    Cilacap, Serayunews.com - Suara ledakan, gemuruh disertai kepulan asap dari Pabrik Semen di Cilacap, membuat panik dan ketakutan warga sekitar. Peristiwa itu terjadi pasa...

    Dua Bangkai Penyu Kembali Ditemukan

    Cilacap, Serayunews.com-Bangkai penyu kembali ditemukan di perairan Cilacap pada Sabtu (22/8/2020). Tidak tanggung-tanggung, dua ekor penyu yang sudah mati ini ditemukan dalam dua tempat...