Sabtu, 17 April 2021

Kisah Sungai Kali Yasa, Terusan Suez-nya Cilacap 

cilacap 1832, sejarah cilacap, kali yasa, serayunews, serayu news, berita terkini, berita hari ini
Muara Sungai Kali Yasa 1936

Pembangunan kanal atau sodetan guna memperlancar perdagangan sudah di lakukan di Cilacap pada 1832. Hal ini atas inisiasi Residen Banyumas kala itu G. de Seriere, yang berkeyakinan apabila distribusi barang ekspor melalui Sungai Serayu menuju Pelabuhan Cilacap lancar, maka akan meningkatkan ekonomi di kawasan tersebut.


Cilacap, Serayunews.com

Dilihat dari kondisinya, tidak ada jalan darat yang memadai untuk menghubungkan daerah pedalaman dengan Cilacap, kecuali aliran sungai Serayu. Serayu, merupakan sungai terpanjang yang dapat dilayari ke pedalaman. Dari ibukota Banyumas ke atas (utara) sungai dapat dilayari sepanjang 24 km, sedangkan ke bawah (selatan) menuju Cilacap sepanjang 40 km sampai ke laut. Penamaan kanal tersebut diambil dari proses pembuatannya, Kali Yasa atau dalam bahasa Jawa, Yasa yang berarti gawe, jadi berarti Kali yang dibuat.

Pegiat sejarah Cilacap Thomas Sutasman mengatakan, pada waktu itu kopi dan tembakau merupakan jenis barang ekspor yang penting dari Pelabuhan Cilacap. Adapun barang impor dari Eropa, dalam jumlah kecil, yaitu tembaga, timah, kain beludru, wol, dan tekstil.

“Pengangkutan kopi dari Residensi Banyumas dan Bagelen dengan cara kombinasi. Pertama-tama kopi diangkut ke tiga tempat penimbunan, yaitu Cendaga, Purworejo, dan Plabuan (dekat Majenang). Dari dua tempat yang disebut terdahulu, kopi diangkut melalui Sungai Serayu dan Kali Yasa ke Cilacap,” katanya.

Lantaran belum memungkinkan jika menetapkan Pelabuhan Cilacap sebagai tempat pengumpulan barang dagangan dari daerah selatan Banyumas. Residen G. de Seriere nampaknya optimis akan terjadi peningkatan pelayaran ke Cilacap sebagai dampak naiknya produksi dari daerah pedalaman. Pada tahun 1836 hanya ada tiga kapal  yang membawa kopi dari Pelabuhan Cilacap langsung ke Nederland, yaitu Schelde, Aurora, dan Elisabeth.

“Ditahun yang sama, kegiatan ekspor nila juga sama penting nya, sedangkan garam yang merupakan monopoli pemerintah meningkat jumlahnya dibanding tahun 1833. Namun, ternyata  itu menunjukan kegiatan perdagangan  dan pendapatan cukai dari Pelabuhan Cilacap masih kurang berarti, dibandingkan pelabuhan Semarang, Pekalongan, Tegal, dan Cirebon,” tuturnya.

Salah satu kendala perkembangan di Cilacap, kata dia, adalah tersendatnya pengangkutan dari muara Sungai Serayu ke pelabuhan Cilacap. Karena lalulintas dari muara Sungai Serayu ke Pelabuhan Cilacap kurang lancar.  Kendala ini coba dipecahkan dengan membuat satu kanal atau terusan yang menghubungkan Serayu dengan Pelabuhan Cilacap . Untuk melancarkan arus lalulintas tersebut, muncul gagasan membuat satu kanal. Apabila pembangunan kanal sudah selesai maka ada harapan perdagangan laut akan lancar.

“Karena pada sebelum tahun 1900 hampir semua pekerjaan teknik seperti pembuatan irigasi atau penggalian kanal tersebut gagal. Tidak ada ahli Eropa yang terlibat dalam pekerjaan itu. Upaya menggali kanal telah berlangsung berkali-kali terhitung sejak 1832 sampai dengan 1836, hingga berhasil membuat Kanal Kali Yoso. Misalnya, penggalian Kanal Kesugihan dua kali dilaksanakan tetapi gagal mengalirkan air”, ungkapnya.

Sungai Kali Yasa 1936

Sejarah pembuatan kanal yang menghubungkan Sungai Serayu dengan Pelabuhan Cilacap merupakan salah satu dari banyak contoh salah satu pekerjaan yang gagal. Kegagalan tersebut antara lain disebabkan oleh masalah tenagakerja yang harus didatangkan dari tempat jauh, selain itu intensitas hujan yang tinggi juga jadi hambatannya. Diketahui biaya pembuatan kanal tersebut disediakan oleh anggaran Kas di Residensi Banyumas sebesar  f14.000.

“Tenaga kerja yang dikerahkan dalam sehari sebanyak 1.800 orang, dengan dibawah perintah dua bupati. Kemudian setiap 14 hari mereka bergantian tenaga kerja tersebut. Total biaya yang dihabiskan dalam pembangunan kanal tersebut, sebesar 90.000 gulden,” kata Sutasman.

Setelah selesai dibangun, produk dari pedalaman Banyumas lebih cepat dikirim ke Cilacap, tanpa melalui pantai selatan Jawa.  Dibangun nya terusan Kali Yasa dari Sungai Serayu ke pantai Cilacap yang berjarak sekitar 28 sampai 30 pal,  berfungsi sebagai jalur pelayaran dan irigasi, di samping untuk mengurangi bahaya banjir di daerah pantai selatan.

Untuk mengapresiasi dan menyambut selesainya pekerjaan kanal itu, Gubernur Jenderal Dominique Jacques de Eerens mendampingi Pangeran Hendrik yang datang dari Belanda untuk mengunjungi Jawa 1837, menyempatkan diri melakukan perjalanan air dari Banyumas ke Cilacap, yang ditempuh dalam waktu sembilan hari.

Baca juga Bukan Hanya Bandung, Cilacap pun Pernah Menjadi Lautan Api

Editor :M Amron

Berita Terkait

- Advertisement -

Berita Terkini