Pandemi Covid-19, PT Terapkan UTS, KKN, Hingga Ujian Skripsi Online

Purwokerto, Serayunews.com- Virus Corona yang terus meluas di Indonesia membuat berbagai elemen memutuskan untuk mengikuti arahan pemerintah dengan melakukan work from home atau bekerja di rumah. Termasuk dunia pendidikan di Kabupaten Banyumas yang juga menerapkan belajar di rumah.

Mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi negeri mauapun swasta semuanya menerpakan belajar di rumah. Sebab, dengan pembatasan jarak atau sosial distancing menjadi satu langkah yang paling tepat untuk menekan penyebaran virus tersebut.

Beberapa langkah untuk tetap melanjutkan proses belajar mengajar pun dilakukan dengan sistem daring. Beberapa SMP dan SMA Muhammadiyah di Purwokerto sudah menerapkan ujian sekolah dan ujian kenaikan kelas berbasis daring.

Sementara untuk perguruan tinggi yang sudah memasuki waktu ujian tengah semester (UTS) pun beberap melakukan UTS berbasis daring. Seperti yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Rektor UMP Dr Ajar Nugroho melalui Wakil Rektor Bidang Akademik Dr Jebul Suroso mengatakan UMP telah menyiapkan sistem untuk perkuliahan daring. Sesuai surat nomor A5.II/ 591 -S.Pb/UMP/III/2020 tentang UTS Online, ujian dapat diakses melalui link ujianonline.ump.ac.id.

Untuk panduan penggunaan aplikasi ujian online UMP yakni dengan login ke ujian online melalui link ujianonline.ump.ac.id menggunakan akun SIM-DOSEN dengan memasukan NIP dan password.

Untuk mahasiswa, bisa menggunakan dengan cara login ke ujian melalui link ujianonline.ump.ac.id menggunakan akun SIA/KRS ONLINE dengan memasukan NIM dan password.

“Untuk jenis soal esai dan jenis pertanyaam ‘isikan manual’ dan unggah file pdf. Kita sudah siap untuk UTS online,” katanya.

Selain UTS online, UMP juga mengkonversikan nilai mata kuliah dan KKN untuk mahasiswanya yang ikut terlibat dalam aktivitas upaya pencegahan Covid-19.

“Yang menjadi relawan akan mendapat pengakuan nilai setara KKN,” kata Dr Jebul Suroso.

Menurutnya, Kemendikbud bersama dengan Perguruan Tinggi dan Rumah Sakit milik Perguruan Tinggi (RSPT) telah melakukan penyiagaan dan percepatan dalam upaya mitigasi dan penanganan COVID-19 untuk mendukung upaya BNPB dan Kemenkes.

“Mendikbud juga telah meminta bantuan kepada Rektor untuk mendorong Dekan Fakultas Kedokteran, Keperawatan, Kesehatan Masyarakat untuk menggerakkan mahasiswa tingkat akhir atau Co-Asssistant (Co-As) secara sukarela bergotong-royong sebagai relawan kemanusiaan pencegahan meluasnya COVID-19,” kata dia.

Ia mengatakan, nantinya fungsi relawan khususnya untuk melakukan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), tracking, screening, hingga penanganan, sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya.

“Inisiatif ini sejalan dengan Kebijakan Merdeka Belajar: Kampus Merdeka yang telah diluncurkan Mendikbud, di mana aktivitas relawan sama dengan kegiatan atau pekerjaan di lapangan yang dapat dikonversi menjadi bagian penilaian kinerja mahasiswa atau satuan kredit semester,” katanya.

Setiap relawan akan diberikan pelatihan dan pendampingan, disiapkan alat perlindungan diri (APD) yang sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemenuhan nutrisi, insentif dari Kemendikbud, sertifikat pengabdian kepada masyarakat, serta pengganti SKS dan KKN.

“Program ini bentuknya sukarelawan. Tidak ada paksaan apapun. Ini bentuk gerakan Bersama UMP untuk Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) juga menerapkan ujiam skripsi mahasiswa secara online. Sebanyak dua mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unsoed menyelenggarakan Ujian Skripsi atau Pendadaran secara daring.

Kedua mahasiswa tersebut yakni Jabal Thareq, dan Nur Agung Nugroho, yang mengikuti ujian ini secara Daring (nir-tatap muka).

Ketua Jurusan Teknik Elektro Unsoed, Farida Asriani ST MT mengatakan dengan adanya wabah Corona ini sebagai warga negara Indonesia, harus taat pada instruksi pemerintah, kemendikbud, edaran rektor dan dekan, untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh termasuk ujian pendadaran.

“Dengan demikian kita bisa mencegah penularan virus di kalangan mahasiswa maupun dosen dan proses pembelajaran tidak terganggu, tetap berjalan secara online,” katanya.

Ujian Pendadaran yang menggunakan aplikasi Google Meet tersebut berjalan lancar laiknya ujian skripsi pada umumnya. Mulai pemaparan materi ujian, sampai dengan tanya jawab pertanyaan yang diajukan oleh para dosen penguji.

Ketua Tim Penguji, H Imron Rosyadi ST MSc mengatakan dalam keadaan yang terbatas dan situasi yang sulit akibat wabah Covid-19 ini, Teknik Elektro berhasil menyelenggarakan kegiatan ujian pendadaran yang baru pertama kali diselenggarakan secara online.

“Kami menyelenggarakan ujian pendadaran online ini dalam dua tahap. Pertama, mahasiswa mengerjakan ujian berbasis komputer (CAT) secara online dengan platform Moodle pada Situs E-learning Unsoed (eldiru.unsoed.ac.id),” katanya.

Pihaknya telah membuat bank pertanyaan yang bersumber dari berbagai mata kuliah di program studi. Mahasiswa kemudian mendapatkan pertanyaan secara acak dari bank pertanyaan dan mengerjakannya dalam waktu 50 menit.

Setelah itu, mahasiswa melaksanakan ujian lisan terhadap pengetahuan keteknikelektroan mereka secara online dengan platform Google Meet.

Menurutnya secara substansi, tidak ada masalah yang berarti dalam ujian pendadaran ini.

“Kami berhasil mengukur empat parameter ujian pendadaran, yakmi kemampuan dasar keteknikelektroan, kemampuan rekayasa (engineering), kemampuan komunikasi ilmiah dan kemampuan belajar mandiri mereka. Nilai empat parameteri tersebut kami masukkan secara online dengan platform Google Sheet,” ujarnya.

Meskipun kata dia, ada beberapa catatan yang tidak ditemui dalam ujian pendadaran secara online. Di antaranya yakni masalah presentasi tulis mahasiswa.

Mahasiswa tidak bisa secara leluasa menuliskan jawaban atas pertanyaan yang membutuhkan penjelasan secara tertulis. Sehingga, para penguji tidak bisa mengamati secara komprehensif.

“Hal ini kami atasi dengan menambahkan telepon cerdas (smart phone) yang mengirimkan video penjelasan tertulis mahasiswa,” katanya.

Selain itu, kualitas jaringan internet juga sangat penting. Karena kualitas yang kurang bagus kadang menyebabkan putusnya koneksi serta menurunnya kualitas video. Kemudian juga masalah kualitas interaksi antara mahasiswa dan antara tim penguji.

“Tetapi pengalaman baru ini menurut saya luar biasa dan menguatkan perspektif kerekayasaan kami, bahwa kesulitan itu meniscayakan upaya rekayasa ulang (reengineering), dan itulah tugas moral kami,” kata dia.

Komentar