Panen Kopi di Dayeuhluhur Cilacap Merosot, Petani Menjerit

Disinyalir cuaca ekstrem berupa kemarau panjang dan kekeringan pada tahun 2019 yang melanda sebagian besar wilayah Kabupaten Cilacap, menjadi penyebabnya.

Petani kopi desa Cijeruk – Suherli mengatakan, dari lahan pertanian seluas 150 hektar, petani kopi lokal hanya mampu memproduksi sekitar 70 ton biji kopi. Hasil tersebut dinilai sangat jauh dari hasil panen ditahun sebelumnya yang mencapai sekitar 140 ton biji kopi.

Lebih lanjut, minimnya hasil panen itu diperparah dengan anjloknya harga biji kopi dipasaran. Sehingga membuat sejumlah petani kopi lokal semakin menjerit lantaran merugi.

“Hasil panen kopi robusta sebagian besar masih dijual ke salah satu tengkulak besar di Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Jawabarat. Harganya juga dari dua tahun terakhir sedang anjlok cuma dibandrol 17 ribu sampai 18 ribu perkilogramnya,” kata Suherli, Kamis (23/20).

Suherli mengungkapkan, peliknya kondisi petani kopi lokal Cilacap saat ini katanya membuat mereka mencoba mencari peruntungan dengan menambah komoditas pertanian lainnya. Yakni menanam tanaman kapulaga yang memiliki harga jual fantastis dibandingkan kopi robusta.

“Sekarang ini petani cenderung banyak yang lagi fokus mencoba beralih, kopi tidak terurus malah fokus sama Kapulaga yang ditanam dibawah pohon kopi. Karena Kapulaga harganya luarbiasa sampai 170 ribu perkilogramnya,” jelas Suherli.

Suherli berharap, Pemerintah Kabupaten Cilacap melalui dinas terkait kedepannya dapat merespon maupun menuntaskan persoalan petani kopi lokal. Salah satunya dengan memberikan bantuan pipanisasi guna mencegah terjadinya kekeringan.

“Kita harap ada bantuan semacam pipanisasi untuk antisipasi kekeringan, selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah bantuan dalam bentuk pemasaran dari produk kopi robusta asal Cilacap. Sehingga harga jual dapat lebih berpihak pada para petani,” pungkasnya.(Gur)

Komentar