Sabtu, 17 April 2021

Belajar Online Tidak Efektif, Anak Malah Asik Main Ponsel

Dinas Minta Orangtua Awasi HP Anak

Kegiatan aktif para siswa di Perpustakan sebelum pandemi. Foto : Adi Kurniawan

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan sistem belajar daring di Kabupaten Cilacap yang sudah berjalan hampir satu tahun dinilai kurang efektif. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cilacap pun meminta peran orangtua bersinergi mendampingi anak didik dalam penumbuhan karakter dan mengawasi konten ponsel, anak agar hanya digunakan untuk belajar bukan bermain game.


Cilacap, Serayunews.com

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cilacap Budi Santosa menyampaikan, pihaknya rutin turun ke lapangan berdiskusi dengan kepala sekolah, pengawas dan guru, untuk mengetahui sejauh mana proses pembelajaran jarak jauh yang sudah berlangsung selama pandemi Covid-19.

“Kita akui, tingkat keikutsertaan, motivasi, semangat dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ), drop turun,  kepatuhan anak-anak mengembalikan tugas yang diberikan oleh guru itu juga drop kita akui. Sehingga saya memberikan seluas-luasnya kepada pengawas, kepala sekolah, guru, agar memberikan atau mencari terobosan karena konteknya setiap sekolah dan individu siswa juga berbeda,” ujarnya, Sabtu (27/02/2021).

Dikataakan lebih lanjut, saat ini sinergi dan peran orang tua dibutuhkan, karena hampir 24 jam mengetahui kegiatan anaknya. Sehingga bisa memastikan anak-anak tetap di rumah, mengetahui pergaulannya dengan siapa, serta memastikan anak-anak tetap berkomunikasi lewat daring ataupun luring.

“Kita butuh peran orang tua disini, karena guru, pengawas dan kepala sekolah sangat terbatas. Kita minta seminggu sekali orang tua bisa melihat mrisani konten di hp anak seperti apa. Pastikan juga media sosial yang digunakan betul untuk media pembelajaran, jangan sampai main game, jangan sampai menonton konten dewasa, jangan-jangan bigo live, jadi kita khawatir, jangan sampai kecolongan,” ungkapnya.

Pihaknya juga meminta kepada para orang tua siswa agar berkomitmen dan bersinergi tetap meluangkan waktu mendampingi anak-anak, terutama membantu dalam penumbuhan karakter. Pasalnya, dikhawatirkan perilaku anak berubah karena sudah lama tidak berinteraksi dengan gurunya.

“Kita khawatir jika tidak ada interaksi antara guru dan siswa, tahu-tahu nanti sudah gondrong dan berwarna rambutnya. Saya mohon kepada orang tua kita dibantu sinergitas kita tingkatkan. Motivasi kepada anak ini tetap ada, kita paham betul orang tua sudah capek mendampingi anak selama ini hampir satu tahun,” ujarnya.

Selain itu, kreativitas pengawas, kepala sekolah dan guru, juga dituntut untuk bisa mengisi kekurangan PJJ tersebut. Menurutnya, pola perilaku dan karakter setiap individu yang berbeda perlu ada pendekatan humanis. Wali kelas harus mengetahui dari  latar belakang ekonomi, lingkungan, tempat tinggal dengan siapa, serta bagaimana kebutuhannya yang perlu didata.

“Data itu diperlukan untuk melakukan intervensi apa yang akan dilakukan jika anak merasa ketinggalan, dalam karakternya maupun ketinggalan dalam hal akademik. Setiap guru harus punya data itu. Kalau masih kurang bisa konsultasi pendidikan, silahkan anak datang ke sekolah asal dengan protokol kesehatan sehingga bisa mengejar ketertinggalan,” jelasnya.

Berita Terkait

- Advertisement -

Berita Terkini