Senin, 5 Desember 2022

Berkat PLTS Bantuan dari Pertamina, Petani di Maos Cilacap Makin Sejahtera

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoltan) Margo Sugih Desa Kalijaran yang juga pengelola PLTS, Priyatno, terlihat sedang melakukan perawatan harian dengan membersihkan panel surya, Senin (31/10/2022). (Irfan/Serayunews)

Belasan petani di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos Cilacap, selama setahun terakhir terbantu dalam hal pengairan sawah berkat pompa air bertenaga surya (PLTS) dengan teknologi Solar Home System (SHS) rancangan Tim Politeknik Negeri Cilacap.


Cilacap, serayunews.com

Sawah yang mereka jadikan mata pencarian selama puluhan tahun, merupakan lahan sawah tadah hujan. Sistem pengairannya, sangat mengandalkan curah hujan. Sementara saat musim kemarau tiba, para petani harus menggunakan mesin pompa dengan BBM untuk pengairan yang memakan biaya tak sedikit.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoltan) Margo Sugih Desa Kalijaran, Priyatno yang juga pengelola PLTS menyebutkan, para petani sangat terbantu dengan keberadaan PLTS tersebut. Terutama dalam hal pasokan pengairan sawah. Saat ini sudah tidak mengandalkan air hujan saja.

“Sangat terbantu, di sini sawah tadah hujan yang kalau musim kemarau tidak ada air, kami harus pompa air dengan mesin pompa BBM. Biayanya bisa sampai Rp2,5 juta untuk sekali musim,” katanya kepada serayunews.com, Senin (31/10/2022).

Selain menghemat biaya, kata dia, keberadaan PLTS juga terbukti dapat menghemat waktu. Saat masih menggunakan pompa manual, untuk mengairi lahan sawah 1 hektare memakan waktu hingga 2 jam lamanya. Namun setelah ada PLTS, lahan persawahan kini bisa dialiri air kapan saja. Keberadaan pompa air bertenaga surya itu, saat ini dapat menjangkau kebutuhan sawah seluas 1 hektare. Bahkan jika untuk tanaman palawija, dapat menjangkau kebutuhan air hingga 3 hektare.

“Cara kerja pompa air bertenaga surya (PLTS) berteknologi Solar Home System (SHS), yakni memanfaatkan energi listrik dari panel surya sebagai pembangkit jet pump. Nah, jet pump ini menyedot air dari sumur bor yang kita buat dengan kedalaman 30 meter,” ujarnya.

Keuntungan

Priyatno juga menceritakan soal perbandingan nominal keuntungan, sebelum dan sesudah adanya PLTS. Sebelum ada PLTS, untuk 1 hektarnya para petani hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp11.400.000 dalam sekali panen. Sementara setelah adanya PLTS, para petani dapat memperoleh keuntungan sekitar Rp13.900.000 sekali panen. Belum lagi, saat masa jeda musim para petani bisa mengalihkan lahan untuk menanam palawija.

“Setahun tetap dua kali panen, namun saat ini kita bisa menanam palawija ketika jeda musim. Karena ada air melimpah, dengan begitu bisa menambah penghasilan para petani juga, selain dari hasil sawah,” tuturnya.

Ia menjelaskan, terdapat sekitar 7 hektare sawah tadah hujan di wilayah tersebut. Dengan begitu untuk menjangkau seluruh luasan sawah tadah hujan, masih membutuhkan tambahan sekitar 4 unit SHS atau PLTS.

Sementara, perancangan teknologi SHS untuk pengairan sawah tadah hujan di Desa Kalijaran yang merupakan akademisi dari Politeknik Negeri Cilacap (PNC), Afrizal Abdi Musyafiq, S.Si., M.Eng. Afrizal mengatakan, SHS merupakan teknologi yang dapat mengubah intensitas cahaya matahari menjadi energi listrik untuk menjalankan pompa air tanah sebagai pengairan.

“Debit air dari pompa ini mencapai 10 ribu liter. Kelebihan SHS dapat menghasilkan kualitas air yang baik serta ramah lingkungan. Karena air yang dihasilkan akan kembali ke tanah, sehingga tidak mengurangi pasokan air tanah,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, teknologi ini juga dapat bertahan hingga 10 tahun dengan baterai yang juga dapat bertahan selama 8-10 tahun. Di sisi lain, teknologi tersebut masih memerlukan pengembangan lebih lanjut dalam hal keamanan, yaitu dengan penambahan hazard system. Selain itu, teknologi SHS ini perlu dikenalkan lebih gencar kepada masyarakat petani desa, agar mereka lebih mengenal secara sederhana cara kerja teknologi tersebut.

“Tentu lebih banyak digunakan sebagai sumber air ketika musim kemarau tiba, sebagai sarana pendukung tanaman holtikultura atau palawija sehingga petani tetap produksi sepanjang tahun,” jelasnya.

Dia menjelaskan, bahwa SHS dapat menampung kapasitas listrik hingga 900 watt. Dengan tenaga sebesar itu, biaya operasional bagi petani sangatlah murah. Para petani hanya memastikan kondisi panel selalu bersih, serta mengganti konektor secara berkala. Sedangkan biaya untuk membangun teknologi tersebut, hanya sekitar Rp 80 juta untuk satu perangkat SHS.

Energi Baru Terbarukan

Area Manager Communication, Relation & CSR PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Cilacap, Cecep Supriyatna mengatakan, PLTS di Desa Kalijaran itu sebagai teknologi EBT (energi baru terbarukan). Dengan tujuan membantu para petani dalam hal pasokan air, terutama bagi yang sawahnya merupakan lahan tadah hujan.

“PLTS di Kalijaran itu merupakan bantuan dari Pertamina Foundation, sebagai komitmen kami mendukung EBT (energi baru terbarukan), selain membantu para petani di sana,” katanya, Senin (31/10/2022).

Sementara terkait pengembangan maupun penambahan unit agar bisa mencukupi kebutuhan pasokan air di lahan sawah tadah hujan di sana, Cecep menyarankan, agar Gapoktan bisa segera membuat surat pengajuan ke Pertamina Foundation maupun ke PT. KPI Unit Cilacap. Karena menurutnya, dengan penambahan jumlah PLTS, akan semakin banyak petani yang menerima manfaat.

Berita Terpopuler

Berita Terkini