Kamis, 11 Agustus 2022

BMKG Imbau Kewaspadaan, Sepanjang Juni Wilayah Cilacap dan Banyumas Masih Berpotensi Diguyur Hujan

hujan di cilacap
Hujan di Kabupaten Cilacap beberapa waktu lalu. (dok istimewa)

Meski sudah memasuki Bulan Juni yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah di Kabupaten Cilacap masih diguyur hujan. Bahkan, hujan yang mengguyur masih berintensitas lebat hampir setiap hari.


Cilacap, serayunews.com

Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, membeberkan penyebab adanya fenomena ini.

Ia mengatakan, dari pantauan cuaca di Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, selama  Juni 2022 setidaknya sampai 8 Juni 2022, suhu udara tercatat antara 24 hingga 32 °C. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya hujan, selama empat hari dengan intensitas ringan.

Baca juga  Jejak Inspirasi & Perjuangan Pekerja Pertamina, Begini Penampakan Sekretariat Baru SPP PWK Cilacap

“Selain itu, terpantau adanya tiupan angin dari arah Tenggara hingga Selatan dengan Kecepatan antara 5 – 15 km/jam. Sedangkan kelembapan udara antara 60 – 97 %,” katanya kepada serayunews.com, Rabu (8/6/2022).

Teguh menyebutkan, dari hasil pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa kondisi cuaca masih dikatakan normal. Termasuk hasil prakiraan curah hujan untuk Juni 2022 di Cilacap dan sekitarnya, antara 51 – 200 mm atau berkategori rendah hingga menengah.

“Artinya bahwa di bulan Juni 2022 ini masih ada potensi hujan. Yang menjadi pertanyaan barangkali, kenapa beberapa hari yang lalu hujan hampir merata di Cilacap dan Banyumas Raya,” tuturnya.

Baca juga  Ada-ada Saja, Kakek Lima Cucu di Cilacap Curi Perhiasan dan Uang Puluhan Juta

Teguh pun menjabarkan, penyebab adanya hujan merata di Cilacap dan Banyumas Raya dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, dari hasil monitoring dinamika atmosfir mulai tanggal 6 – 7 Juni 2022, Indek Enso di Nino 3.4 tercatat – 0,58 ( normal ± 0.5 ). Artinya, nilai tersebut masih signifikan terhadap adanya peningkatan hujan di Indonesia.

Selain itu, adanya gelombang Rossby Ekuatorial yang aktif di Sumatera bagian Selatan, Jawa, Kalimantan bagian Tengah dan Selatan, serta Sulawesi, juga mempengaruhi curah hujan terutama di Jawa.

Berikutnya adalah anomali suhu muka laut antara +1 sampai + 3 °C, terpantau di sekitar Laut Jawa dan di Samudera Hindia Sebelah Selatan Jawa. Hal ini menyebabkan adanya penambahan potensi penguapan, di sekitar Jawa.

Baca juga  Keren, Sepuluh Pelukis Jateng Explore Pulau Penjara Nusakambangan

“Inilah yang menyebabkan hujan merata beberapa hari lalu dan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan,” jelasnya.

Dengan begitu, ia pun mengimbau kepada masyarakat untuk waspada terhadap potensi bencana. Bencana tersebut seperti puting beliung, petir dan hujan lebat yang datangnya tiba-tiba dan bisa membahayakan keselamatan.

Berita Terkait

Berita Terkini