Jumat, 30 September 2022

BPOM dan PPJAI Perkuat Penta Heliks di Cilacap, Dorong Kemajuan Jamu Herbal Tanpa BKO

Penyerahan sertifikat cara produksi obat tradisional yang baik (CPOTB), sinergisitas penta heliks di Markas Kopassus Cilacap, Jumat (23/9/2022) (Foto: Ulul Azmi).

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Loka POM Banyumas bersama Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) mengelar Sinergitas Penta Heliks di Markas Kopassus Cilacap. Kegiatan ini untuk mengembangkan jamu herbal nusantara, khususnya di Banyumas Raya dengan menghasilkan produk tanpa bahan kimia obat (BKO).


Cilacap, serayunews.com

Acara yang berpusat di Markas Kopassus Cilacap ini berlangsung dua hari, mulai tanggal 22-23 September 2022 dengan berbagai kegiatan seperti diklat bela negara, outbound, bakti sosial di Lapas Nusakambangan, serta acara inti dialog herbal nusantara dan cara produksi obat tradisional yang baik (CPOTB).

Di hari kedua ini, kegiatan berawal dengan upacara. Bertindak sebagai inspektur upacara Ketua Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) Mukit Hendrayatno, dengan ratusan peserta upacara.

Seluruh peserta acara sinergisitas penta heliks minum jamu herbal massal di Markas Kopassus Cilacap, Jumat (23/9/2022). (Foto: Ulul Azmi)

Dalam kesempatan itu hadir juga Anggota Komisi IV DPR RI Teti Rohati Ningsih, sejumlah pejabat BPOM, Dinas Kesehatan empat kabupaten (Cilacap, Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara). Kemudian, para pelaku usaha jamu herbal di Banyumas Raya serta sejumlah tamu undangan lain.

Selain itu, juga ada pendatanganan komitmen dukungan pengembagan herbal nusantara dan jamu aman tanpa BKO. Lalu, penyerahan sertifikat CPOTB. Pada kesempatan itu juga ada minum jamu herbal secara massal.

Apresiasi

Anggota Komisi IV DPR RI Tetti Rohati Ningsih mengapresiasi kegiatan Sinergisitas Penta Heliks dengan melibatkan generasi muda dengan mengembangkan jamu herbal di Cilacap dan sekitarnya. Teti menilai jamu sebagai warisan leluhur ada di seluruh Indonesia dengan kearifan lokal masing-masing daerah.

“Terima kasih kepada PPJAI dan BPOM yang telah mentransferkan ilmunya, untuk kebangkitan kita, jamu ini sebagai warisan budaya leluhur kita, kita lestarikan dan budayakan sehingga tidak mudah. Apalagi sudah dibukukan di warisan leluhur kita, budaya minum jamu untuk masyarakat Indonesia,” ujarnya, Jumat (23/9/2022).

Dialog herbal nusatara menguatkan sinergisitas penta heliks, mengahdirkan narasumber dari Ketua PPJAI, Anggota Komisi IV DPR RI,l. Direktur Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik. Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Uaha Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, serta dimoderatori oleh Kepala Loka POM Banyumas, di Markas Kopassus Cilacap, Jumat (23/9/2022). (Foto: Ulul Azmi)

Terlebih menurutnya, pasca pandemi Covid-19 perlu terus bergerak untuk kebangkitan ekonomi. Pihaknya juga ikut mendorong dengan berbagai pembekalan para pelaku usaha melalui bimbingan teknis (bimtek).

“Untuk Dirjen Holtik terkait umbi-umbian, holtik jamu dan semuanya, adakan bimtek, kita adakan bantuan alsintan dan pasca panen raya dari pegiat holtik ini, dan ada bantuan untuk keberlangsungan UMKM ke depannya,” ujarnya.

Terus Meminimalisir

Sementara itu, Kepala Loka POM Banyumas Suliyanto mengatakan, bahwa kerjasama penta heliks melibatkan beberapa unsur seperti pemerintah, pelaku usaha, akademisi tokoh masyarakat, dan media.

“Lima unsur ini berkerjasama untuk mengembangkan jamu alami, aman, legal, yang bebas dari BKO bisa kita kembangkan di wilayah kita,” ujarnya.

Ketua PPJAI Mukit Hendrayatno saat bertindak sebagai inspektur upacara sinergisitas penta heliks di Markas Kopassus Cilacap, Jumat (23/9/2022) (Foto: Ulul Azmi).

Selain itu, pada kegiatan ini juga ada pelatihan CPOTB. Pelatihan itu perlu bagi pelaku usaha untuk membuat produk yang sesuai dengan aturan, dengan cara prouduksi obat tradisional yang baik (CPOTB).

Terkait dengan peredaran jamu yang mengandung BKO di wilayah Cilacap, Suliyanto mengatakan, bahwa pihaknya akui masih ada peredaran itu. Namun pihaknya akan terus meminimalisir dengan kerjasama PPJAI sebagai wadah perkumpulan pelaku jamu yang berkomitmen mengembangkan jamu aman.

“Semoga dengan perkembangan jamu PPJAI yang aman memberikan dampak positif bagi mereka yang mungkin masih memproduksi jamu mengandung BKO,” ujarnya.

Kawal 7 Tahun

Ketua PPJAI Mukit Hendrayatno mengatakan, bahwa hampir sekitar 7 tahun pihaknya mengawal jamu herbal melalui PPJAI. Sehinga saat ini sudah banyak terlahir industri jamu herbal yang memberdayakan hingga ratusan karyawan. Bahkan saat ini Anggota PPJAI ada total 150 pelaku usaha, dan sekitar 12 industri.

“Ini benar-benar jamu Cilacap Banyumas sudah berubah dengan tandanya tadi, dan kedua juga dengan ijin edar untuk anggota PPJAI sudah ratusan lebih dari 300 izin edar jamu dan produknya,” ujarnya.

Untuk mengembangkannya, Mukit berharap dukungan dari Pemerintah, DPR, Dinas Kesehatan, media, akademisi dan berbagai pihak. Harapannya, supaya daya dukung jamu Cilacap ini terus digaungkan dan didorong menjadi daya unggul ekonomi Indonesia.

“Kalau potensi marketnya itu, bisa triliunan karena demografi sekitar 280 juta penduduk kita bisa sebar melalui digital marketing. Dengan kata lain Banyumas Raya ini bisa menjadi produk unggulan. Saya yakin akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi daerah,” ujarnya.

Selain itu, dalam merangkul kalahan muda, PPJAI juga juga bekerjasama dengan mahasiswi atau anak muda yang peduli dengan isu jamu dan dijadikan sebagai duta jamu herbal

“Mereka juga mewakili untuk melakukan desiminasi informasi bahwa jamu Indonesi sehat, syukur anak muda terlibat project pengusaha jamu di Banyumas raya,” tuturnya.

Anggota Komisi IV DPR RI Teti Rohati Ningsih saat menandatangani komitmen dukungan pengembagan herbal nusantara dan jamu aman tanpa BKO, di Markas Kopassus Cilacap, Jumat (23/9/2022) (Foto: Ulul Azmi).

Pada acara dialog herbal nusatara menguatkan sinergisitas penta heliks, menghadirkan narasumber dari Ketua PPJAI, Anggota Komisi IV DPR RI. Hadir juga Direktur Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik. Kemudian, Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik. Acara dengan moderator Kepala Loka POM Banyumas.

Sedangkan acara inti lainnya, peserta mengikuti pelatihan cara produksi obat tradisional yang baik (CPOTB).

Berita Terpopuler

Berita Terkini