Rabu, 25 Mei 2022

BPOM Gandeng PPJAI untuk Jadi Mentor Pengusaha Jamu Kelas UMKM di Jateng 

BPOM Gandeng PPJAI untuk Jadi Mentor Pengusaha Jamu Kelas UMKM di Jateng

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito menggandeng Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) dan PT Karya Pak Oles Tokcer sebagai Orang Tua Angkat Jamu di Semarang 31 Maret 2022. Orang Tua Angkat Jamu adalah program BPOM sejak 2018 dalam rangka mendorong kalangan industri jamu menjadi mentor bisnis pengusaha jamu kelas usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) termasuk pelaku jamu gendong.


Semarang, Serayunews.com

“Dukungan terhadap peningkatan daya saing obat tradisional termasuk jamu sangat diperlukan untuk kelas UMKM. Obat tradisional memiliki potensi mengisi pasar lokal juga menembus pasar global. Maka peningkatan mutu, keamanan, dan khasiat harus dikawal,” kata Penny kepada media.

Baca juga  Menyedihkan, Dampak Kapal Terbakar di Cilacap, 554 ABK Menganggur

Masuknya PPJAI sebagai orang tua angkat jamu menyusul 10 industri yang terlebih dulu sebagai orang tua angkat jamu. Mereka adalah PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, PT Konimex, PT Industri Jamu Borobudur, PT Mustika Ratu, PT Martina Berto, PT Sinde Budi Sentosa, PT Sari Enesis Indah, PT Air Mancur, PT Ultra Sakti, dan PT Kino Indonesia.

Di sisi lain, Penny menambahkan, membangun citra positif jamu harus dilakukan terus menerus. Pasalnya masih banyak ditemukan produk obat tradisional dan pangan yang mengandung bahan kimia obat (BKO). Obat tradisional dan pangan yang mengandung BKO bertentangan dengan kaidah obat tradisional, herbal, dan juga jamu. Dalam rangka membangun citra positif tersebut BPOM aktif meningkatkan pengawasan obat dan makanan melalui serangkaian strategi untuk melindungi masyarakat dari obat dan makanan yang berisiko terhadap kesehatan.

Baca juga  PKM Sudah Jangkiti Ternak di Purbalingga, Terindikasi Tertular dari Banjarnegara 

Ketua PPJAI Mukit Hendrayatno mengapresiasi masuknya organisasinya sebagai orang tua angkat jamu. Pengusaha muda asal Cilacap tersebut berkomitmen mendukung program BPOM terutama bimbingan dan bantuan kepada pelaku usaha UMKM termasuk pelaku jamu gendong.

“Jamu gendong adalah usaha jamu hilir paling mikro dalam rantai pasar jamu. Jangan meremehkan mbok-mbok jamu gendong, yang mampu menyekolahkan putra-putrinya sampai sarjana. Pelaku jamu gendong telah terbukti bisa menjadi tulang punggung keluarga,” kata Mukit Hendrayatno kepada media.

Bimbingan yang diberikan orang tua angkat jamu berupa sharing knowledge, pemenuhan persyaratan, Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB), pemilihan bahan baku, teknologi produksi, marketing digital, dan tips menembus pasar ekspor. Adapun untuk jamu gendong program stikerisasi terus dilanjutkan. Stikerisasi jamu gendong terbukti meningkatkan kepercayaan pasar terhadap produk jamu gendong.

Baca juga  Menyedihkan, Revitalisasi Ikan di Sungai Serayu Belum Bisa Dilakukan karena Pemkab Banyumas Tak Punya Anggaran

Pelaku jamu gendong harus dilestarikan karena usaha ini mengandung aspek budaya, kesehatan, ekonomi, dan sosial. Pada aspek sosial membantu agar pelaku jamu gendong tetap bertahan berarti telah memberdayakan perempuan Indonesia. Pasalnya pelaku jamu gendong mayoritas adalah perempuan. Menurut Mukit jamu gendong merupakan agen utama untuk membangun citra positif jamu tradisional.

“Bahkan mengadvokasi manfaat jamu secara umum. Dukungan kepada jamu gendong oleh UMKM yang lebih besar, asosiasi, pemerintah mutlak dibutuhkan,” ujar Mukit.

Berita Terkait

Berita Terkini