Senin, 21 Juni 2021

Buku Di Tepi Serayu Aku Merindu, Keberpihakan Kelompok Terpinggirkan

Ahmad Tohari saat membedah buku Di Tepi Serayu Aku Merindu secara virtual melalui Google Meet

Purwokerto, Serayunews.com-Perpustakaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto menggelar bedah buku hasil kolaborasi wartawan Banyumas yang berjudul Di Tepi Serayu Aku Merindu. Bedah buku yang digelar secara virtual melalui Google Meet ini menghadirkan budayawan dan penulis senior Ahmad Tohari, Ketua PWI Banyumas Liliek Dharmawan, Kepala KPw BI Purwokerto dan penulis buku Di Tepi Serayu Aku Merindu.

Koordinator penulis buku Di Tepi Serayu Aku Merindu, W Megandika Wicaksono mengatakan buku tersebut mengisahkan perjuangan anak-anak Panti Asuhan Bunda Serayu. Di mana anak-anak saling berbagi dan saling melengkapi.

“Melalui buku ini, kami ingin ajak kita semua untuk lebih berhati-hati dan bertanggungjawab pada pergaulan dan hubungan kita,” kata dia.

Sebab, ia mengatakan, anak-anak tersebut lahir dari kondisi orangtua yang belum siap, jangan sampai terlahir anak-anak dengan nasib serupa lagi. Saat bayi lainnya bersama orangtua, mereka seorang diri di dalam ranjang bayinya.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyumas, Liliek Dharmawan mengatakan dari judul bukunya ada kata Serayu yang terasa sekali ikon wartawan muda dari Banyumas.

“Saya sangat mengapresiasi teman-teman wartawan yang di tengah pekerjaannya, bisa mengangkat kisah mereka,” ujarnya.

Liliek mengungkapkan, dari buku kolaborasi wartawan Banyumas ini, sangat jelas terasa ada keberpihakan kepada mereka yang terpinggirkan. Seperti karya-karya Ahmad Tohari yang selelu berpihak kepada yang terpinggirkan.

“Ada humanisme yang begitu kuat dari buku ini. Keberpihakan kepada anak-anak terbuang yang optimis dengan masa depannya. Di saat anak sekecil itu seharusnya ada dalam dekapan ibunya, mereka justru hanya memeluk bantal kecilnya. Buku ini mengingatkan kita ada orang yang tidak seberuntung kita. Semoga bukunya bermanfaat,” kata dia.

Sementara itu, budayawan dan penulis senior Ahmad Tohari mengatakan untuk menjadi penulis menuntut persyaratan yaitu kepekaan. Kepekaan sosial, rasa haru yang bisa dituliskan.

“Karena menulis itu mengalirkan lebih lanjut apa yang kita punya untuk orang lain,” katanya.

Ia mangaku sangat mengapresiasi wartawan muda Banyumas yang telah membuat karya kolaborasi tersebut. Menurutnya, hal yang dilakukan wartawan Banyumas ini sudah menjadi keinginannya sejak dulu, semasa masih menjadi wartawan.

“Sesuai harapan saya sejak dulu, wartawan menulis buku. Jangan hanya bekerja membuat berita dan artikel, tapi tulislah buku. Karena ketika kita menulis, kita ada. Ketika kita tidak menulis kita tidak ada,” katanya.

Kepala KPw BI Purwokerto, Samsun Hadi sangat mengapresiasi karya kolaborasi wartawan Banyumas ini. Menurutnya ide cerita dari buku yang telah diterbitkan Gramedia Pustaka Utama tersebut sangat menarik dan menyentuh.

“Membuat karya di tengah kesibukan seperti ini merupakan tantangan tersendiri. Kami berharap generasi muda seperti GenBI juga turut ikut menuangkan idenya suatu saat,” katanya. (Alfi)

Berita Terkait

- Advertisement -

Berita Terkini