Rabu, 20 Oktober 2021

Bupati Karanganyar Kuak Keunikan Desa Kemuning saat Webinar AMSI

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar dan Bupati Karanganyar Juliyatmono saat menjadi pembicara dalam webinar AMSI. (dok istimewa)

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar dan Bupati Karanganyar Juliyatmono menjadi pembicara dalam webinar Jateng Digital Conference (DJC) yang dilaksanakan oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Rabu (29/9/2021).


Surakarta, serayunews.com

Pada acara tersebut, Bupati Juliyatmono hadir secara langsung di Studio TA TV Solo. Sementara, Menteri Abdul Halim hadir secara virtual dari Jakarta. Dalam kesempatan itu, Bupati Karanganyar menceritakan keunikan Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Diketahui, Desa Kemuning berkembang menjadi smart village atau desa pintar.

Yuli menceritakan satu keunikan Desa Kemuning. Dia mengatakan, Desa Kemuning dipimpin oleh kepala desa yang beragama Hindu. Kepala desa itu dipilih oleh warga yang mayoritas Muslim. Fenomena itu, kata Yuli, menjelaskan bahwa pemimpin dipilih bukan melihat agamanya, tapi dilihat dari kompetensinya.

Selain keunikan soal kades, Desa Kemuning juga berkembang dalam hal wisata. Desa tersebut, kata Yuli, menjadi desa wisata yang memberi dampak ekonomi luar biasa pada masyarakatnya. Apalagi, Desa Kemuning melek dengan teknologi.

“Pengembangan Kemuning sebagai desa digital didukung dan didampingi dari CSR BCA dan Telkomsel. Sampai akhirnya kemarin terpilih menjadi juara I desa digital nasional,” kata Yuli.

Di sisi lain, Menteri Desa PDT Abdul Halim Iskandar mendukung desa digital Kemuning. Namun, dia menegaskan bahwa digitalisasi perlu diarahkan, sehingga tidak sampai salah arah. Apalagi, ujarnya, hasrat desa di Indonesia untuk maju semakin besar.

Pada acara yang dimoderatori Erwin Ardian, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng itu, Abdul membeberkan fenomena desa di Indonesia. Dia mengatakan, dari total 74.961 desa di Indonesia, tinggal 3.700 desa yang belum memiliki jaringan Internet.
Desa yang telah melek internet menggunakan teknologi itu untuk pengembangan ekonomi masyarakat. Dia mencontohkan, di Yogyakarta ada 10 desa yang melek internet berkolaborasi untuk menjual produk-produk unggulan mereka. Dia mengatakan, target nasional adalah pada 2022 tak ada lagi desa yang belum menikmati internet.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Diponegoro (Undip) Suharmono mengatakan digitalisasi bisa berdampak pada peningkatan ekonomi desa. Semakin melek digital, maka potensi pengembangan ekonomi akan lebih baik.

Berita Terkait

Berita Terkini