
PURBALINGGA, SERAYUNEWS — Memiliki rumah pribadi di usia muda kini bukan sekadar tentang kesiapan mental untuk mandiri, melainkan pertarungan sengit dengan kalkulasi finansial.
Di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, fenomena ini makin nyata dirasakan oleh Generasi Z dan Milenial muda. Di tengah dinamika ekonomi lokal, keputusan untuk mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau bertahan di rumah orang tua menjadi pilihan dilematis yang penuh pertimbangan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada sekitar 81 juta anak muda di Indonesia yang belum memiliki rumah. Sementara itu, data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan angka backlog perumahan nasional mencapai 12,7 juta unit, di mana 4,39 juta di antaranya merupakan keluarga milenial.
Di tingkat lokal Purbalingga, konsern utama anak muda bersumber pada ketidakseimbangan antara laju kenaikan harga properti dengan tingkat pendapatan rata-rata daerah.
Bagi pasangan muda di Purbalingga, tantangan terbesar memiliki rumah terletak pada jurang pemisah antara pendapatan harian dan harga tanah atau material bangunan yang terus merangkak naik.
Febria (27), seorang ibu rumah tangga yang suaminya bekerja di sektor swasta dengan gaji UMR Purbalingga, menceritakan keberaniannya mengambil KPR subsidi di kawasan Bojong.
“Kami mengambil KPR subsidi tenor 15 tahun dengan angsuran sekitar Rp1.250.000 per bulan. Itu hampir 50 persen dari penghasilan suami,” ungkap Febria.
Selain alokasi cicilan bulanan yang cukup menguras kantong, Febria menyoroti konsern biaya kaget yang sering kali luput dari perhitungan awal, seperti renovasi dapur dan pembuatan pagar depan rumah yang belum disediakan oleh pengembang rumah subsidi.
Meski begitu, ia menilai mengambil KPR sedini mungkin adalah langkah paling aman sebelum harga properti di Purbalingga kian tak terjangkau. “Harga rumah subsidi di Purbalingga naik sekitar Rp4 juta setiap tahunnya. Dulu sebelum saya ambil harganya masih Rp150 juta, lalu naik Rp162 juta, dan sekarang sudah semakin tinggi. Kalau tidak dipaksa dari sekarang, harganya akan makin jauh melambung,” tambahnya.
Di sisi lain, tidak sedikit Gen Z di Purbalingga yang memilih menahan diri dari komitmen utang jangka panjang. Ana (28), seorang ibu rumah tangga dengan suami pegawai BUMD, mengungkapkan konsern mendalam terkait stabilitas keuangan dan beban tanggung jawab keluarga.
Selain faktor emosional untuk menemani ibunya yang merupakan orang tua tunggal, Ana menilai harga rumah dan tanah di Purbalingga saat ini sudah cenderung tidak rasional jika dibandingkan dengan pendapatan rata-rata masyarakat setempat.
“Harga rumah dan material bangunan di Purbalingga makin mahal. Bagi masyarakat berpenghasilan rata-rata, harga rumah saat ini terasa cukup berat,” jelas Ana.
Konsern Ana semakin bertambah ketika melihat sulitnya mencari lapangan kerja yang stabil di Purbalingga akibat banyaknya batasan usia, status pernikahan, hingga isu diskriminasi seleksi. Bagi Ana, memaksakan diri mengambil cicilan rumah tanpa fondasi tabungan dan dana darurat yang kuat justru sangat berisiko bagi masa depan keluarga. Ia memilih berfokus pada menabung rutin dan membantu kebutuhan pendidikan adiknya terlebih dahulu sebelum melangkah ke pasar properti.
Dilema yang dialami Febria dan Ana sejalan dengan hasil riset BRIN mengenai aksesibilitas perumahan. Peneliti BRIN menegaskan bahwa meskipun program seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dengan bunga ringan 5% sangat membantu, masalah lokasi rumah subsidi yang jauh dari pusat kota serta kendala BI Checking masih menjadi hambatan utama.
Untuk mengatasi kekhawatiran dan tantangan perumahan di Purbalingga, diperlukan sinergi dari dua sisi:
1. Sisi Pemerintah Daerah & Pengembang: Memperluas keterjangkauan informasi program FLPP, memastikan kualitas bangunan rumah subsidi layak huni tanpa membebankan renovasi berat di awal, serta membuka lapangan kerja yang lebih transparan dan inklusif bagi Gen Z.
2. Sisi Generasi Muda: Menerapkan manajemen keuangan yang disiplin, menekan perilaku konsumtif, serta mempersiapkan dana darurat sebelum mengambil komitmen KPR jangka panjang.
Memiliki rumah sendiri memang merupakan pencapaian yang diimpikan setiap anak muda di Purbalingga. Namun, baik melalui skema KPR maupun menabung terlebih dahulu, kesiapan finansial dan kematangan perencanaan tetap menjadi kunci utama agar impian memiliki hunian tidak berubah menjadi beban hidup di masa depan.