
PURBALINGGA, SERAYUNEWS– Kegiatan pendakian Gunung Slamet kembali memakan korban jiwa. Sepanjang periode 1 Januari hingga 19 Agustus 2026, tercatat dua orang pendaki meninggal dunia dalam dua insiden berbeda di gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.
Peristiwa tragedi ini menjadi catatan kelam sekaligus pengingat keras bagi para pecinta alam mengenai pentingnya persiapan matang, kepatuhan pada regulasi, serta kewaspadaan tinggi saat melakukan aktivitas di alam bebas.
Berdasarkan data dan keterangan resmi yang dihimpun hingga 19 Agustus 2026, terdapat dua kasus pendaki yang dinyatakan meninggal dunia. Berikut adalah ringkasan data kedua korban:
1. Syafiq Ridhan Ali Razan (18 Tahun)
Asal: Magelang, Jawa Tengah
Lokasi Kejadian: Punggungan sisi selatan Gunung Slamet, sekitar Watu Langgar dekat puncak (kurang lebih 3.150m mdpl)
Jalur Pendakian: Dipajaya, Pemalang
Status: Meninggal Dunia (Ditemukan 14 Januari 2026)
2. M. Fahri Maulana (16 Tahun)
Asal: Sirampog, Kabupaten Brebes
Lokasi Kejadian: Kawasan bibir/kawah Gunung Slamet
Jalur Pendakian: Sawangan/Bosapala, Bumijawa Kabupaten Tegal
Status: Meninggal Dunia (Terjadi 18 Agustus 2026)
Peristiwa pertama bermula pada 27 Desember 2025 ketika Syafiq Ridhan Ali Razan melakukan pendakian bersama rekannya, Himawan Khaidar Rahman, dengan rencana tektok (pendakian langsung turun tanpa menginap). Namun, saat proses turun (descent), keduanya terpisah. Himawan berhasil selamat, sedangkan Syafiq dinyatakan hilang.
Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) yang melibatkan tim gabungan berlangsung intensif selama 17 hari. Pada 14 Januari 2026 sekitar pukul 10.22 WIB, jasad Syafiq akhirnya ditemukan di area punggungan selatan dalam kondisi meninggal dunia. Barang-barang pribadi korban seperti dompet, treking pole, senter, dan emergency blanket ditemukan tersebar di sekitar lokasi.
Hasil pemeriksaan luar tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Tim SAR memperkirakan korban telah meninggal dunia sekitar 4 hingga 5 hari sebelum ditemukan, dengan dugaan kuat penyebab kematian adalah hipotermia berat berdasarkan kondisi perlengkapan dan pakaian yang dikenakan.
Meski jasadnya ditemukan pada pertengahan Januari 2026, kematian Syafiq diperkirakan terjadi pada akhir Desember 2025. Jika memperhitungkan tanggal perkiraan meninggal dunia, insiden ini terhitung terjadi di luar periode rekapitulasi utama 2026.
Insiden kedua terjadi pada 18 Agustus 2026 sekitar pukul 09.00 WIB. Saat rombongan pendaki mulai berjalan turun, korban bernama M. Fahri Maulana (16) memutuskan untuk turun belakangan dan masih berada di sekitar bibir kawah Gunung Slamet.
Nahas, tanah yang dipijak korban di bibir kawah dalam kondisi rapuh dan mendadak ambrol. Hal tersebut menyebabkan korban langsung terjatuh ke dalam kawah sedalam 30 hingga 50 meter.
Pencarian dan evakuasi dilakukan oleh Tim SAR gabungan dengan menerapkan teknik high-angle rescue serta menggunakan alat bantu pernapasan (SCBA) guna mengantisipasi paparan gas beracun dari kawah aktif.
Setelah melalui proses evakuasi yang rumit dan berisiko tinggi di medan terjal, korban berhasil ditemukan pada Selasa malam dalam kondisi meninggal dunia, kemudian langsung dievakuasi ke jalur bawah untuk penanganan lebih lanjut.
Dua insiden mematikan ini menyisakan pelajaran berharga bagi seluruh komunitas pendaki. Gunung Slamet memiliki karakteristik medan yang berat, cuaca yang ekstrem dan cepat berubah, serta potensi bahaya gas dan tebing curam di sekitar area puncak.
Untuk mencegah terulangnya tragedi serupa, seluruh pendaki diimbau untuk mematuhi poin-poin keselamatan berikut:
1. Patuhi Aturan dan Jalur Resmi: Selalu mendaftar di basecamp resmi dan jangan pernah melintasi jalur ilegal atau memotong jalur pendakian.
2. Hindari Dekati Area Berbahaya: Jangan mendekati bibir kawah aktif atau area dengan tebing curam hanya demi mengambil foto atau konten media sosial.
3. Persiapan Fisik dan Peralatan Lengkap: Pastikan kondisi tubuh fit, membawa peralatan standar pendakian (safety gear), serta pakaian hangat yang memadai untuk mencegah hipotermia.
4. Manajemen Kelompok: Selalu mendaki dalam tim, jangan pernah terpisah dari rombongan, dan utamakan keselamatan di atas ambisi mencapai puncak.