
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, berlangsung semarak, Senin (17/8/2026).
Balutan busana adat, riasan kostum wayang, hingga maskot unik Dokjali, si elang Jawa, menjadi bagian dari kemeriahan acara yang digelar di lapangan rumput sintetis B23 Soccerfield.
Panorama Gunung Slamet yang biasanya menjadi latar kegiatan tertutup awan mendung dan kabut tebal. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan antusiasme warga dari 32 RT dan 5 RW yang mengikuti rangkaian peringatan kemerdekaan.
Warga tampil mengenakan beragam pakaian daerah dan membawa hasil bumi. Kehadiran Dokjali, yang disebut sebagai elang Jawa endemik lokal, juga menjadi perhatian karena diperkenalkan sebagai simbol identitas baru Desa Kemutug Lor.
Kepala Desa Kemutug Lor, Sarwono, mengatakan peringatan kemerdekaan menjadi momentum untuk membangun desa secara bersama-sama sekaligus menumbuhkan optimisme masyarakat.
Menurutnya, pemerintah desa bersama berbagai elemen masyarakat sengaja mengangkat tema berbeda setiap tahun tanpa meninggalkan nilai budaya Indonesia.
“Kami beserta lembaga desa, BPD, panitia dan seluruh komunitas masyarakat memang menghendaki setiap tahun itu berganti tema. Namun tidak pernah akan meninggalkan budaya secara umum di negeri yang kita cintai ini,” kata Sarwono.
Tahun ini, Desa Kemutug Lor mengusung tema “Harmoni dalam Budaya, Tumbuh dalam Karya, Menjadi Desa Berdaya.”
Sarwono mengatakan tema tersebut menggambarkan semangat masyarakat untuk terus mengembangkan potensi desa dengan tetap mempertahankan budaya.
“Kemudian kita selalu membangun rasa optimisme, karena setiap mengisi kemerdekaan kita harus memiliki rasa optimisme. Sehingga setiap individu, kelompok masyarakat memiliki potensi dan mampu dikeluarkan dan ini kita buktikan setiap tahun,” katanya.
Rangkaian peringatan HUT RI di Kemutug Lor dikemas dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat.
Sejumlah agenda digelar sebelum acara puncak, mulai dari Kades Cup, lomba bola voli putra dan putri, fun game, kompetisi antar-RW, parade busana, hingga karnaval keliling desa.
“Sebelum ini kita adakan perlombaan, ada Kades Cup, ada HUT RI, lomba-lomba voli, putra-putri, fun game, macam-macam,” kata Sarwono.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pesta rakyat sebagai agenda kebersamaan warga.
“Pesta rakyat yang seluruhnya nanti malam,” ujarnya.
Bagi Sarwono, memaknai kemerdekaan tidak harus dengan terus menghitung apa yang belum diperoleh. Masyarakat justru diajak mensyukuri berbagai hal yang telah diberikan Indonesia.
“Kita tidak pernah menghitung apa yang belum kita dapatkan. Tapi kita terus akan menghitung apa yang sudah kita dapatkan dari negeri yang kita cintai ini. Itu saja makna sesungguhnya,” kata Sarwono.
Ketua panitia acara, Asong, mengatakan peringatan HUT RI tahun ini sekaligus menjadi sarana menggali dan memperkenalkan potensi budaya Desa Kemutug Lor.
Menurutnya, masih banyak potensi budaya lokal yang perlu diangkat dan dilestarikan agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
“Kita punya potensi banyak budaya di desa kita sendiri yang perlu kita angkat dan perlu kita uri-uri,” kata Asong.
Panitia kemudian mengangkat Dokjali sebagai maskot dalam perayaan tahun ini. Dokjali merupakan elang Jawa yang menurut Asong merupakan spesies endemik Desa Kemutug Lor.
“Kenapa kita angkat Dokjali? Dokjali adalah satu spesies elang Jawa yang itu endemi dari Desa Kemutug Lor. Dengan besar harapan ke depan Dokjali ini menjadi maskotnya Desa Kemutug Lor,” ujarnya.
Pemilihan elang Jawa sebagai maskot tidak hanya bertujuan memperkuat identitas desa. Kehadiran Dokjali juga diharapkan menjadi media untuk mengenalkan budaya dan potensi lokal kepada generasi muda.
Asong mengatakan generasi muda perlu mendapatkan arahan dan pembimbingan agar memiliki kecintaan terhadap budaya lokal.
“Generasi muda perlu diberikan arahan dan pembimbingan mencintai budaya kita sendiri. Tidak terkontaminasi dengan budaya-budaya asing,” katanya.
Pengenalan budaya lokal tersebut juga berkaitan dengan pengembangan sektor pariwisata. Desa Kemutug Lor sendiri memiliki status sebagai desa wisata.
“Ini juga upaya meningkatkan wisatawan, karena desa wisata juga,” ujarnya.
Dengan menggabungkan budaya, konservasi, dan potensi wisata, keberadaan Dokjali diharapkan dapat menjadi identitas yang mudah dikenali sekaligus memperkuat daya tarik Desa Kemutug Lor.
Asong berharap rangkaian kegiatan tahun ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI.
Ke depan, kegiatan tersebut ditargetkan berkembang menjadi festival budaya desa yang lebih besar dan mampu menjadi ruang promosi berbagai potensi lokal.
“Jadi intinya bahwa ini menjadi sebuah rangkaian kegiatan yang ke depan harapannya akan menjadi sebuah kegiatan besar, festival budaya desa,” kata Asong.
Festival tersebut nantinya diharapkan dapat mengangkat lebih luas potensi Desa Kemutug Lor sekaligus desa-desa lain di sekitar Kecamatan Baturraden.
“Dan itu yang akan mengangkat lebih luas potensi-potensi baik Desa Kemutug Lor sendiri maupun desa-desa di sekitar Kecamatan Baturraden,” kata dia.