Minggu, 27 November 2022

Ini Kronologi Pendaki asal Kota Tegal Meninggal di Gunung Slamet

Kasus pendaki meninggalkan rombongan kembali terjadi di Gunung Slamet. Salfanu Multazam (19), awalnya berangkat bersama enam rekannya dalam satu rombongan. Namun, dalam perjalanan menuju puncak, mereka berpisah dan bahkan sampai turun ke basecamp.


Purbalingga, Serayunews.com

Junior manager Perhutani Kawasan Pemangku Hutan (KPH) Banyumas timur, menceritakan bahwa kronologi peristiwa tersebut berawal sejak Sabtu. Sekitar pukul 10.30 WIB, Korban bersama-sama
dengan enam orang temannya datang ke Basecamp Pendakian Gunung Slamet Jalur Bambangan. Mereka melakukan registrasi sesuai prosedur yang berlaku.

“Saat mulai naik, dari basecamp cuaca mendung. Pendakian itu direncanakan turun kembali secara normal pada hari Minggu, (06/12/2020),” katanya.

Sekitar Pukul 13.00 WIB rombongan sempat berhenti di Pos 1 karena cuaca hujan. Kemudian sekitar pukul 16.30 Wib setelah hujan reda rombongan melanjutkan pendakian ke Pos 3 dan mendirikan tenda untuk istirahat karena hari sudah malam.

Minggu pagi, sekitar pukul 08.30 WIB rombongan meninggalkan korban di Pos 7. Korban menyatakan masih ingin istirahat dan sebentar lagi akan menyusul bersama rombongan sesama pendaki dari Jakarta.

Rombongan 6 orang tanpa korban melanjutkan perjalanan sampai batas pendakian di Pos 9. Sekitar Pukul 09.30 Wib rombongan jumlah 6 orang memaksa naik ke puncak Gunung Slamet dan melanggar batas aman pendakian. Hanya sekitar 5 menit di puncak rombongan turun menuju basecamp Bambangan.

Baca Juga : Pendaki asal Kota Tegal Meninggal di Gunung Slamet

Baca Juga : Cuaca Ekstrem, Dua Jalur Pendakian Gunung Slamet Kembali Ditutup

“Sementara waktu itu kan batas aman yang dianjurkan radius 2 Km dari kawah,” ujarnya.

Rekan satu rombongannya, bertemu korban sekitar pukul 10.00 WIB di Pos 9. Korban bersama rombongan dari Jakarta menuju Puncak. Sedangkan rombongan korban, turun dan menunggu di Pos 3. Mereka menunggu korban sekitar 3 jam. Namun, setelah tiga jam tidak kunjung bertemu, rekan korban memutuskan turun ke basecamp Bambangan.

“Tapi sampai Maghrib korban tidak kunjung turun sehingga ketua rombongan melapor ke pengelola BC Bambangan bahwa 1 orang teman sesama pendaki ada yang belum turun,” kata Sugito.

Hari Senin (07/12/2020) sekitar pukul 17.00 Wib diberangkatkan tim SAR secara bergelombang untuk mencari dan mengevakuasi korban. Pukul 23.55 WIB korban ditemukan oleh tim SAR terlentang di tanah di jalur pendakian atas Pos 6 dengan kondisi sudah tidak bernyawa.

Saat ditemukan, korban mengenakan celana pendek, berjaket dan tidak mengenakan alas kaki, korban tidak mengenakan perlengkapan layaknya seorang akan mendaki gunung. Hari Selasa pukul 09.25 WIB tim evakuasi jenazah sampai di Basecamp Bambangan selanjutnya jenazah dibawa ke Puskesmas Karangreja.

“Hasil pemeriksaan dokter Puskesmas Karangreja dan inafis tidak menemukan luka tanda berbahaya, dan diprediksi meninggal karena hipotermia,” katanya.

Berita Terpopuler

Berita Terkini