
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Di tepi jalan raya Desa Danaraja, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara berdiri sebuah monumen yang mungkin terlihat sederhana bagi pengguna jalan. Namun di balik bangunan berbentuk bom tersebut tersimpan kisah heroik perjuangan rakyat Banjarnegara yang pernah mengguncang pasukan Belanda pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia.
Mantan Wakil Bupati Banjarnegara Syamsudin Senin (10/8/2026) menceritakan peristiwa yang terjadi pada 30 Desember 1946 itu menjadi salah satu operasi gerilya paling berani yang dilakukan para pejuang di wilayah Banjarnegara. Sebuah ranjau berukuran besar berhasil menghancurkan truk pengangkut pasukan Belanda, sekaligus menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap penjajahan.
Pada penghujung 1946, situasi Banjarnegara berada dalam kondisi yang tidak mudah. Wilayah tersebut terbagi menjadi dua kekuasaan, yakni daerah yang berada di bawah Pemerintah Republik Indonesia dan wilayah yang masih diduduki Belanda.
Perbatasan kedua wilayah berada di sekitar Jembatan Joho, Kecamatan Bawang. Kondisi tersebut membuat masyarakat yang tinggal di daerah pendudukan terus berupaya melakukan perlawanan demi mempertahankan kemerdekaan.
Di wilayah perbatasan, Letkol Yasir Hadibroto memimpin pengamanan sekaligus menghimpun para laskar pemuda yang bergerak secara rahasia. Pemerintah Republik secara diam-diam juga memasok perlengkapan perang kepada Tentara Republik Indonesia (TRI) dan kelompok pejuang yang bermarkas di kawasan Danaraja.
Syamsudin melanjutkan, menjelang akhir Desember 1946, para pejuang menyadari bahwa strategi perang gerilya belum cukup efektif menghadapi persenjataan Belanda yang jauh lebih modern.
Mereka kemudian memperoleh sebuah ranjau berukuran sangat besar dari wilayah Republik. Bom tersebut dirancang memiliki daya ledak tinggi agar mampu melumpuhkan sebanyak mungkin pasukan musuh dalam sekali serangan.
Namun membawa bom dengan berat lebih dari setengah kuintal menuju wilayah pendudukan bukan perkara mudah.
Ranjau itu harus dipikul secara bergantian oleh sedikitnya dua orang. Untuk menghindari patroli dan mata-mata Belanda, rombongan pejuang memilih berjalan pada malam hari melewati jalan setapak, pinggiran desa, hingga kawasan hutan.
Perjalanan sepanjang kurang lebih 10 kilometer itu dilakukan secara senyap hingga akhirnya bom berhasil dibawa ke Desa Danaraja.
Sesampainya di lokasi, ranjau ditanam di sisi selatan jalan raya Dusun Kalimendong pada tengah malam.
Para pejuang kemudian memasang kawat sepanjang sekitar 200 meter yang disamarkan melewati area persawahan. Kawat tersebut dihubungkan dengan pemicu bom yang nantinya ditarik secara manual saat kendaraan sasaran melintas.
Sementara itu, empat regu pejuang dan prajurit TRI menjaga lokasi secara bergantian. Demi keselamatan warga, seluruh penduduk Desa Danaraja lebih dahulu dievakuasi ke desa lain. Pos-pos pejuang juga dikosongkan agar tidak menjadi sasaran serangan balasan.
Sanpardi bersama Sandirasun mendapat tugas paling berisiko, yakni bersembunyi di dekat aliran sungai sambil memegang ujung kawat pemicu. Sementara Purwadi dan Bagyo mengintai dari kejauhan untuk memberikan tanda ketika rombongan tentara Belanda mendekat.
Pagi hari 30 Desember 1946, iring-iringan kendaraan Belanda melintas menuju daerah patroli. Para pejuang sengaja tidak melakukan penyergapan dan memilih menunggu rombongan kembali.
Saat siang hari, kendaraan militer mulai kembali melewati jalan yang sama. Tank di posisi terdepan sengaja dibiarkan melintas. Sasaran utama adalah truk kedua yang dipenuhi pasukan Belanda.
Begitu kendaraan berada tepat di atas ranjau, pemicu segera ditarik. Ledakan dahsyat pun mengguncang kawasan Danaraja. Truk pasukan hancur seketika. Seluruh serdadu Belanda yang berada di dalam kendaraan dilaporkan tewas akibat ledakan tersebut.
Di tengah peristiwa itu, seorang warga Desa Danaraja bernama Mistam yang sebelumnya ditahan Belanda dan berada di dalam truk secara ajaib berhasil selamat meski mengalami luka-luka akibat ledakan.
Keberhasilan operasi tersebut disambut sorak para pejuang. Mereka menilai misi yang dipersiapkan dengan penuh risiko akhirnya berhasil melumpuhkan kekuatan lawan.
Keberhasilan para pejuang ternyata memicu kemarahan Belanda. Sebagai aksi balasan, pasukan kolonial membakar rumah-rumah penduduk di Desa Danaraja, termasuk kediaman Sanpardi yang disebut sebagai penarik pemicu ranjau.
Beruntung, sebagian besar warga telah lebih dahulu meninggalkan desa sehingga tidak menjadi korban. Serangan balasan juga meluas ke sejumlah wilayah sekitar. Kawasan perbatasan dilaporkan dihujani tembakan mortir dan meriam, sementara pesawat militer Belanda melakukan serangan udara ke wilayah Banjarnegara.
Syamsudin menceritakan, di tengah situasi yang semakin genting, perjuangan para laskar diwarnai pengkhianatan. Seorang anggota laskar bernama Daslam disebut berpihak kepada Belanda dan membocorkan identitas para pejuang yang terlibat dalam operasi pengeboman.
Akibat informasi tersebut, Sanpardi menjadi buronan utama pasukan Belanda dan terpaksa bersembunyi di wilayah Karanganyar, Purwanegara. Tak lama kemudian, Daslam berhasil ditangkap oleh kelompok pejuang di Desa Kaliajir. Ia dijatuhi hukuman mati karena dianggap mengkhianati perjuangan bangsa.
Di sisi lain, istri Sanpardi yang sedang hamil tua, Ranem, ditangkap pasukan Belanda dan dibawa ke markas untuk menjalani pemeriksaan serta interogasi.
Kini, puluhan tahun setelah peristiwa tersebut berlalu, Monumen Bom Trek atau lebih dikenal dengan sebutan Bom Tarik di Desa Danaraja tetap berdiri sebagai pengingat keberanian rakyat Banjarnegara dalam mempertahankan kemerdekaan.
Monumen itu bukan sekadar penanda lokasi ledakan, tetapi menjadi simbol bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya terjadi di kota-kota besar, melainkan juga lahir dari desa-desa yang berani mempertaruhkan segalanya demi mempertahankan tanah air.
“Kisah Bom Tarik Danaraja menjadi salah satu bagian penting dari sejarah perjuangan Banjarnegara yang patut dikenang sekaligus diwariskan kepada generasi muda sebagai bukti nyata semangat patriotisme dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan Indonesia,” kata Syamsudin.