Selasa, 29 November 2022

Kisah Burung Garuda Beri yang Mengancam Nyawa Warga Donan

Kisah Burung Garuda Beri yang Mengancam Nyawa Warga Donan

Keraton Noesatembini yang jadi perbincangan di abad V itu telah berakhir. Keraton yang dekat dengan Nusakambangan itu telah usai. Daerah Noesatembini yang mulanya tertutup akhirnya terbuka bagi masyarakat luar.


Cilacap, serayunews.com

Kemudian, kedatangan orang-orang luar ke daerah Donan–tempat dibuatnya peluru-peluru emas waktu itu menjadikan perkampungan baru di wilayah ini. Konon ceritanya peristiwa ini terjadi pada akhir abad ke XIV. Di antara pendatang tersebut terdapat rombongan dari Bayumas yang dipimpin oleh Raden Ronggosengoro utusan Adipati Mrapat menantu dari Adipati Wirasaba.

Raden Ronggosengoro kemudian menetap dan diangkat menjadi Adipatidi wilayah Donan. Dibawah kepemimpinan Adipati Ronggosengoro daerah Donan berangsur- angsur menjadi daerah yang makmur. Penduduknya hidup bahagia dan merasa aman. Namun keamanan itu terusik dengan adanya gangguan dari burung yang mereka beri nama “Garuda Beri. Burung ini memakan apa saja yang ditemukan tidak hanya hewan tapi juga manusia sehingga Adipati Donan dengan segala kemampuannya mengerahkan rakyatnya untuk membunuh garuda tersebut tetapi tidak berhasil.

Akhirnya Adipati Donan pergi ke Demak menghadap Adipati Demak karena menurut petunjuk para nujum satu-satunya senjata yang ampuh untuk membunuh burung Garuda Beri itu adalah pusaka yang dimiliki oleh Adipati Demak Bintoro yaitu sebilah pisau pusaka berbentuk cis bernama Kyai “Tilam Upih. Kedatangan Adipati Donan ke Demak dalam rangka meminjam pusaka tersebut ternyata dikabulkan oleh Adipati Demak tersebut.

Syahdan Kerajaan Demak menugaskan santrinya yang bernama Santri Bagus untuk mencari kerajaan Donan guna mendapatkan kembali pusaka Kyai “Tilam Upih, yang dipinjamkan kepada Adipati Donan. Sampailah Bagus Santri ke Kadipaten Limbangan yang diperintah oleh Adipati Blagong yang semula menganggap kadipaten ini adalah kadipaten Donan. Ia langsung menghadap Adipati Blagong dengan maksud mengabdikan dirinya di Kadipaten Limbangan. Adipati Blagong menerima Bagus Santri untuk mengabdi padanya dan meminta Bagus Santri mengikuti sayembara yang diselenggarakan oleh Adipati Donan dengan hadiahnya akan menikahkan putrinya kepada pemenang yang dapat membunuh burung gagak. Dengan kelihaian dan kecerdikan Bagus Santri akhirnya dapat mengalahkan burung gagak tersebut.

Ia pun mendapatkan hadiah yang telah dijanjikan oleh adipati Ronggosengoro di Kadipaten Donan. Namun hadiah itu tetap ia serahkan kepada Adipati Blagong dan Bagus Santri (Sanntri Undig) pun melanjutkan perjalannya dalam mensyiarkan agama Islam ke daerah-daerah selatan dimana sampai saat ini ada sebuah tempat yang berupa martabatan/petilasan Santri Undig menunaikan Ibadah Sembahyang sebelum melawan garuda Beri hingga saat ini tempat ini masih dikeramatkan orang. Sebagian orang juga menganggap tempat tersebut adalah makam Santri Undig letaknya diujung jalan Daun Lumbung/Veteran Cilacap, dekat pantai.

Kadipaten Donan yang konon setelah burung Garuda Beri mati oleh Bagus Santri dengan sebilah cis Tilam Upih, Adipati Ronggosengoro selalu menantikan kedatangan Bagus Santri. Dengan matinya Garuda Beri keadaan Kadipaten Donan menjadi tenang kembali, bukan saja sang Adipati yang menantikan kedatangan Bagus Santri tetapi juga seluruh rakyat Donan.

Suatu hari Adipati Ronggosengoro teringat akan cis Tilam Upih yang dipenjamkan kepada Bagus Santri belum dikembalikan. Dia pun pergi mencari Bagus Santri yang kemudian disusul oleh permasuri karena adipati Ronggosengoro tak kunjung kembali ke kadipaten Donan. Karena Adipati Ronggosengoro tak kunjung kembali akhirnya Kadipaten Donan semakin lama makin sepi karena masyarakatnya juga berangsur-angsur meninggalkan daerah Donan tersebut.

Penelusuran sejarah masa Kerajaan Jawa diawali sejak zaman Kerajaan Mataram Hindu (tahun 600 – 700 an) sampai dengan Kerajaan Surakarta sekitar abad 13 dan
14. Pada masa akhir Kerajaan Majapahit (1294-1478) daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap terbagi dalam wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit, Adipati Pasir Luhur dan Kerajaan Pakuan Pajajaran. Daerah Kadipaten Majenang atau yang lebih dikenal dengan Kadipaten Dajeuhluhur diperintah oleh seorang adipati yang bernama Raden Aria Gagak Ngampar atau Banyakngampar seorang putra dari Prabu Linggawesi Rahiang Dewa Niskala dari kerajaan Pakuan Parahyangan yang memerintah sekitar tahun 1467 -1474.

Raden Aria Gagakngampar mempunyai dua putra yang kemudian menggantikannya bernama Kihadek Tjiluhur bernama Ngabehi Arsagati. Secara turun temurun memerintah Kadipaten Dajeuhluhur ini sebagai Adipati atau bupati terakhir adalah putra Kyai Ngabehi Wiradika -II yang kemudian bergelar Raden Tumenggung Prawiranegara yang memerintah Kadipaten Dajeuhluhur sampai tahun 1831 (1478 – 1831) dan konon Kadipaten ini tidak masuk dalam wilayah Banyumas tetapi mempunyai jalur hubungan langsung dengan Kasunanan Surakarta.

Menurut Husein Djayadiningrat, Kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran jatuh setelah diserang oleh kerajaan Islam banten, sehingga bagian timur Kerajaan Pakuan Pajajaran diserahkan kepada Kerajaan Cirebon pada tahun 1579 . Oleh karena itu seluruh wilayah cikal- bakal Kabupaten Cilacap disebelah timur dibawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang dan sebelah barat diserahkan kepada Kerajaan Cirebon.

Kerajaan Pajang diganti dengan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopati pada tahun 1587-1755. Maka daerah cikal bakal Kabupaten Cilacap yang semula di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang diserahkan kepada Kerajaan Mataram. Pada tahun 1595 Kerajaan Mataram mengadakan ekspansi ke Kabupaten Galuh yang berada di wilayah Kerajaan Cirebon. Menurut catatan harian Belanda di Benteng Batavia, tanggal 21 Pebruari 1682 diterima surat yang berisi terjemahan perjalanan darat dari Citarum, sebelah utara Karawang ke Bagelen.

Nama daerah yang dilalui dalam catatan tersebut adalah daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap yaitu Dayeuhluhur dan Limbangan. Pada saat itu wilayah ini menjadi salah satu wilayah di bawah kasunanan Surakarta.

Kini, Kabupaten Cilacap dikenal sebagai daerah terluas di Jawa Tengah terletak di antara 10804-300 – 1090300300 garis Bujur Timur dan 70300 – 70450200 garis Lintang Selatan, mempunyai luas wilayah 225.360,840 Ha, yang terbagi menjadi 24 Kecamatan 269 desa dan 15 Kelurahan, dengan batas wilayah: sebelah selatan Samudra Indonesia; sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat; sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen dan; Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar Provinsi Jawa Barat.

Wilayah tertinggi adalah Kecamatan Dayeuhluhur dengan ketinggian 198 M dari permukaan laut dan wilayah terendah adalah Kecamatan Cilacap Tengah dengan ketinggian 6 M dari permukaan laut. Jarak terjauh dari barat ke timur 152 km dari Kecamatan Dayeuhluhur ke Kecamatan Nusawungu dan dari utara ke selatan sepanjang 35 km yaitu dari Kecamatan Cilacap Selatan ke Kecamatan Sampang. Sehingga Cilacap merupakan kabupaten terluas di provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayahnya sekitar 6,2% dari total wilayah Jawa Tengah.

Bagian utara adalah daerah perbukitan yang merupakan lanjutan dari Rangkaian Bogor di Jawa Barat, dengan puncaknya Gunung Pojoktiga (1.347meter), sedangkan bagian selatan merupakan dataran rendah. Kawasan hutan menutupi lahan Kabupaten Cilacap bagian utara, timur, dan selatan. Di sebelah selatan terdapat Nusa Kambangan, yang memiliki “Cagar Alam Nusa kambangan”. Bagian barat daya terdapat sebuah inlet yang dikenal dengan Segara Anakan.

Sebagian penduduk Kabupaten Cilacap bertutur dalam bahasa Sunda, terutama di kecamatan-kecamatan yang berbatasan dengan Jawa Barat, seperti Dayeuhluhur, Wanareja, Kedungreja, Patimuan, Majenang, Cimanggu, dan Karangpucung, dikarenakan bahwa pada masa lalu wilayah kabupaten ini adalah bagian dari Kerajaan Galuh. Ini tercatat dalam sebuah naskah kuno primer Bujangga Manik yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Bodleian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627. Naskah ini menceriterakan mengenai perjalanan Prabu Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16. Di zaman dulu batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah sungai Cipamali (yang saat ini sering disebut sebagai kali Brebes) dan sungai Ciserayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah. (*)

Berita Terpopuler

Berita Terkini