Sabtu, 18 September 2021

Kisah Perajin Gamelan asal Banyumas, Bisa Dapat Ratusan Juta Rupiah dan Dijual ke Luar Jawa

Eko Kuntowibowo saat membuat gamelan. (Shandi)

Di masa yang sudah serba digital saat ini, tak membuat Eko Kuntowibowo surut bergelut dengan kesenian tradisional. Eko yang guru SMK Negeri 3 Banyumas ini tetap memproduksi gamelan dengan tujuan utama melestarikan budaya.


Banyumas, serayunews.com

Berada di Pendapa Oemah Gamlean Jalan Jaya Sirayu Gang Perintis No 19 RT 3 RW 3, Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas, Eko dengan dibantu oleh rekan-rekannya mulai memproduksi gamelan. Bukan hanya sekadar rumah produksi saja, dia membuka kesempatan bagi masyarakat serta anak-anak yang ingin belajar membuat gamelan ataupun memainkan gamelan.

“Jadi di pendapa ini, kami juga memberi kesempatan untuk mereka yang ingin latihan gamelan, mulai dari anak-anak hingga manula,” ujar dia.

Bapak dari tiga anak ini mengaku mulai membuat gamelan dari tahun 2003 lalu. Sempat sedikit terhenti karena setelah lulus dari SMK, dia haru melanjutkan perguruan tinggi di Kota Solo. Namun, dirinya terus ingat dengan produksi gamelan, dan ternyata banyak pesanan yang menanti. Hingga akhirnya pada tahun 2018 ia membuat legalitas perusahaannya lewat akta notaris bernama CV Sumber Rejeki, karena banyaknya pembeli yang membutuhkan administrasi resmi.

“Saya memang mengenal gamelan sejak kecil dan menyukainya. Di rumah dulu, kebetulan bapak saya Ki Simon Taryoko hobi ndalang walaupun keseharian beliau karyawan PLN sekarang sudah pensiun. Saya memang terbiasa mendengar bunyi gamelan dari latihan rutin di rumah, yang sekarang menjadi pijakan hadirnya gamelan di diri saya,” kata dia.

Membuat gemelan, bagi Eko bukan sebuah pekerjaan utama, melainkan sebagai hobi pribadinya. Selain hobi, tujuan utamanya adalah agar gamelan terus ada dan terus lestari.

“Tujuan paling utama melestarikan budaya bangsa yang adi luhur, karena dengan budaya bisa membangun karakter bangsa melalui kesenian,” ujarnya.

Meski permintaan tidak secara rutin, namun, gamelan buatannya memiliki popularitas tersendiri di kalangan masyarakat. Bahkan dia mengaku gamelannya kerap dipesan oleh orang-orang dari Bali, Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY hingga Jakarta.

“Untuk harganya itu tergantung dari permintaan pesanan, seperangkat gamelan biasanya dibanderol dari Rp 70 juta hingga ratusan juta,” kata dia.

Mungkin bagi orang harga segitu sangat mahal, namun jika dilihat dari banyaknya perangkat yang dibuat serta bahan bakunya, dan nilai budaya harga segitu tak akan ada artinya.

“Satu perangkat gamelan lengkap itu terdiri dari Rebab, Kendhang, Gender, Bonang Barung, Bonang Penerus, Slenthem, Demung, Saron, Saron Penerus, Ketuk, Kempyang, Kempul, Suwukan, Gong, Siter, Gambang dan Suling,” ujarnya.

Selain bahan utama besi dan kuningan, ada juga tenaga serta waktu yang dibutuhkan. Untuk membuat satu perangkat gamelan dibutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

“Kita bekerja enam hingga 10 orang, tetapi memang membuatnya tidaklah mudah sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama,” kata dia.

Berita Terkait

Berita Terkini