Sabtu, 18 September 2021

Kisah Petani di Bobotsari, Pilih Bongkar Kebun Sampai Biarkan Cabai Membusuk saat Harga Terjun Bebas

Karyono, petani asal Bobotsari. (Amin)

Memasuki masa panen, harga cabai justru turun drastis. Kondisi ini menjadikan petani prihatin. Seperti dialami oleh para petani di Desa Karangtalun, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga. Bahkan, ada petani yang membongkar ladangnya, dan menggantikan dengan komoditas lain.


Bobotsari, serayunews.com

Satu diantara petani di Desa Karangtalun, Bobotsari Karyono mengatakan, harga cabai beberapa hari terakhir sangat rendah. Di lahan 400 ubin, dia sempat menanam 10 ribu batang bibit cabai. Namun mengetahui harga yang sedang sangat rendah dia cabut tanaman cabai dan diganti dengan tanaman terong.

“Saya tanam 10 ribu batang cabai, sudah usia 25 hari, saya cabut semua dan digantikan tanaman terong,” kata Karyono, Kamis (26/08/2021).

Dia menjelaskan, bahwa pilihan mencabut tanaman cabai dan mengganti dengan terong menjadi pilihan yang dinilai tepat. Alasannya, jika diteruskan tanaman cabai, maka akan mengalami kerugian yang lebih besar. Sebab, usia tanaman cabai sampai panen membutuhkan waktu sekitar 60 hari.

“Mending dicabut, dari pada rugi lebih banyak. Menunggu sampai masa panen, biaya operasionalnya banyak. Belum lagi saat memetik juga perlu biaya,” ujarnya.

Dijelaskan, bahwa biaya operasional untuk 10 ribu batang tanaman cabai mencapai Rp 15 ribu. Sehingga estimasi modal mencapai Rp 150 juta. Jumlah itu pun belum dengan ongkos saat memanen. “Kalau terong biaya operasional satu batang sekitar Rp 10 ribu, harga jual relatif stabil sekitar Rp 8 ribu, jadi ya lebih masuk kalau terong,” kata dia.

Petani lainnya, Sodik, dia juga mengalami nasib serupa. Sekitar 500 batang tanaman cabainya dibiarkan membusuk. Sebab harga cabai di pasaran beberapa hari ini sangat rendah. “Iya, dibiarkan saja, karena harga sangat rendah bahkan hampir tidak laku,” kata Sodik.

Diceritakan, tanaman cabainya sudah dua kali petik. Diawal panen, harga perkilogram masih kisaran Rp 12 ribu. Sedangkan pada periode petik kedua, harga sudah Rp 6 ribu. Sedangkan di masa petik ketiga, harga sudah pada level Rp 4 ribu.

“Kata pembelinya suruh jangan petik dulu karena harga rendah dan susah jualnya, jadi ya biarkan saja,” katanya.

Sementara itu, Kepada Desa Karangtalun, Heru Catur Wibowo, mengatakan mayoritas masyarakat bermata pencaharian sebagai petani. Berdasarkan informasi yang dihimpun, ada sekitar 1 hektar lahan yang dibiarkan. Meski sudah masa panen, namun karena tidak dipetik jadi membusuk. “Sedangkan yang dicabuti dan diganti komoditas lagi itu ada sekitar 1/4 hektar,” katanya.

Dia menambahkan, kondisi seperti itu memang sangat dilematis. Ditengah pandemi para petani harus lebih prihatin lagi dengan harga hasil tanamnya. Namun demikian, ada sebagian petani ya tidak putus asa. Mereka mencoba peruntungan dengan mengganti komoditas lain, salah satunya terong.

“Tapi tetap ada rasa optimismenya, mereka tak patah arang, mereka mengganti dengan tanaman lain, salah satunya terong, mudah-mudahan bisa mendapat keuntungan,” katanya.

Editor :M Amron

Berita Terkait

Berita Terkini