Jumat, 2 Desember 2022

Korban Kecelakan Derita Patah Tulang 4 Hari Belum dioperasi, Ini Penjelasan Dinkes Cilacap

Sebuah curhatan seorang istri pengemudi ojek online yang mengeluhkan penanganan operasi di RSUD Cilacap, untuk suaminya yang mengalami patah tulang akibat kecelakaan, viral di grup Facebook. Dari penuturannya, peristiwa kecelakaan terjadi pada Jumat (01/01/2021) dini hari. Korban awalnya dirawat di RS Santa Maria Cilacap, karena membutuhkan penanganan lebih lanjut, korban dirujuk ke RSUD Cilacap.


Cilacap, Serayunews.com

Kepada Tim Serayunews, Heni Purwanti (25) menuturkan, suaminya yaitu Ade Kurniawan (34) mengalami kecelakan di Jalan Swadaya sekitar pukul 02.00 WIB. Warga Kelurahan Donan Kecamatan Cilacap Tengah ini kemudian memposting curhatannya di Group Facebook.

Berikut postingann seperti dikutip dari Grup Facebook hingga mendapatkan ribuan komentar :

Hingga berita ini diturunkan pada Senin (04/1/2021), Heni mengungkapkan, tim medis belum akan melakukan tindakan operasi karena menunggu hasil swab ke dua.

“Tadi pagi saya sudah tanya ke perawat, kapan akan dioperasi? Perawat tanya ke saya, apa sudah di swab ke dua? Ya saya bilang yang kedua belum. Untuk yang pertama hasilnya negatif,” katanya kepada serayunews.com.

Menurutnya, perawat menyampaikan apabila hasil swab pertama keluar negatif, maka akan segera ditangai dokter. Tetapi, Senin (4/1/2021) pagi perawat menyampaikan akan diswab untuk yang kedua kali. Ia mengharapkan agar tim medis RSUD Cilacap, segera melakukan tindakan medis atau operasi untuk suaminya.

“Saya sudah sabar, ini sudah hari ke 4. Suami saya terus merintih kesakitan, tolong ditangani sesegera mungkin.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, dr Pramesti Griana Dewi mengatakan, akan menindaklanjuti informasi tersebut ke pihak RSUD Cilacap.

“Oke nanti saya tanyakan. Memang prosedur untuk pasien suspek harus hati hati sekali. Jangan sampai ternyata positif Covid 19, dan semua yang melakukan tindakan ikut terpapar,” ungkapnya, saat dikonfirmasi serayunews, Senin (4/1/2021).

Menurutnya, dalam persoalan tersebut,  ada pertimbangan medis yg sangat kuat untuk menetapkan tindakan gawat dan bukan gawat.

“Saat ini semakin banyak pasien OTG di masyarakat. Kita harus sangat berhati hati dan harus melindungi Nakes yang merawat pasien. Jangan sampai karena merawat yang positif nakes ikut terpapar. Jadi harus diyakinkan dulu bahwa negatif,” paparnya.

Saat ditanyakan terkait prosedur penanganan untuk ibu melahirkan operasi  atau pasien korban kecelakaan yg alami patah tulang, atau membutuhkan penanganan sesegera mungkin

Pramesti menjelaskan, yang mengetahui persis kondisi kegawatan medis atau bukan adalah tim dokter.

“Nanti tim dokter yang akan memutuskan. Untuk waktu penanganan, tetap tergantung kondisi pasiennya, ” jelasnya.

Berita Terpopuler

Berita Terkini