Kamis, 29 September 2022

Mencengangkan! Lebih dari Separuh Pecandu yang Ditangani BNNK Purbalingga Berasal dari Desa Tlahab, Kepala BNNK Purbalingga Beri Penjelasan

Berbagai upaya dilakukan Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Purbalingga, untuk pencegahan penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Mulai dari sosialisasi tatap muka, imbauan melalui iklan layanan masyarakat, sampai pembentukan Desa Bersih Narkoba (Bersinar). Semua bentuk ikhtiar dinilai memberikan dampak positif, karena keterlibatan masyarakat adalah kunci keberhasilan dalam penanganan.


Purbalingga, serayunews.com 

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BNNK Purbalingga AKBP Sharin Tjahaja Frimer Arie SH MSi. Dalam upaya pencegahan dan penanganan narkoba, BNN tidak bisa bekerja sendiri. Keterlibatan seluruh elemen masyarakat sangat penting, untuk menuju keberhasilan.

Tidak hanya kerjasama dengan polisi saja, namun BNN juga menggandeng organisasi perangkat daerah (OPD) lingkungan Pemkab Purbalingga, pemerintah desa, dan juga masyarakat umum sebagai relawan.

“Kami lakukan deteksi dini di kalangan OPD, kami bentuk Desa Bersinar sebagai penguatan terhadap masyarakat, kita door to door ke sejumlah keluarga, dan sebagainya,” ujarnya.

Sejumlah program kegiatan yang dilakukan, diklaim tetap memberikan hasil. Dia mencontohkan terkait pembentukan Desa Bersinar. Tahun 2021 di Purbalingga ada empat lokasi. Masing-masing Desa Tunjungmuli, Desa Timbang, Desa Tlahab, dan Desa Kajongan.

“Contohnya di Desa Tlahab, Pemdesnya sangat kooperatif, sehingga mereka melaporkan kondisi desanya. Maka tidak heran, dari 33 pasien 20 di antaranya berasal dari Desa Tlahab, karena Pemdesnya kooperatif,” ujarnya.

Hal tersebut justru menjadi langkah awal yang baik. Sebab, jika terdeteksi sejak dini, dan bisa langsung dilakukan penanganan. Harapannya tidak sampai berlarut-larut dan ketergantungan lebih parah. Penanganan sejak awal juga bisa mengetahui latar belakang, alasan para anak-anak bisa terjerumus masuk di dunia semacam itu.

“Contohnya pasien yang masih 13 tahun, ternyata karena faktor keluarga dan lingkungan. Dia tinggal dengan keluarga yang sudah tua, jadi mungkin kurang pengawasan, sedangkan lingkungan bermainnya dia banyak bergaul dengan usia di atasnya,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, tidak pecandu yang masih usia sekolah. Namun, rata-rata mereka sudah putus sekolah. Mereka ada yang ikut bekerja, sehingga merasa sudah bisa menghasilkan uang.

“Tidak sedikit yang putus sekolah, terus ikut kerja di penggilingan kayu,” kata dia.

Berita Terpopuler

Berita Terkini