Jumat, 9 Desember 2022

Menggetirkan! Kisah Petani di Banyumas

 

Petani di Banyumas tak hanya diserang hama, mereka juga dirugikan oleh orang-orang tak bertanggungjawab yang menyalahgunakan saluran irigasi. Belum lagi, kadang masalah kelangkaan pupuk bersubsidi yang muncul di masa tanam tiba.


Hama seperti tikus misalnya adalah musuh petani saat menanam padi. Itu adalah masalah klasik yang tak terselesaikan dengan tuntas. Racun tikus, burung hantu, tak menuntaskan masalah klasik petani tersebut. Selain tikus, ada juga wereng yang konon sangat sulit dibasmi.

Di tengah masalah hama, kelangkaan pupuk bersubsidi beberapa kali terjadi. Seperti jeratan di leher yang menyakitkan. Ke sini, ke sana, pupuk subsidi langka. Tak hanya pupuk di masa akan menanam, masalah saat panen juga muncul. Panen tak bagus adalah masalah. Panen bagus juga bermasalah ketika harga gabah anjlok di pasaran.

Satu lagi, fenomena yang diungkap anggota DPRD Banyumas Kuntoro. Dia mengatakan, jika saluran irigasi untuk persawaban diselewengkan. Ada yang menggunakan air irigasi untuk bisnis cuci mobil. Ada yang menyempitkan saluran irigasi dan bahkan menutup saluran irigasi.

Fenomena itu, seperti diungkapkan Kuntoro, banyak terjadi di Purwokerto dan Sumbang. Apa yang terjadi jika saluran irigasi diselewengkan? Air untuk pengairan sawah akan berkurang. Apa yang terjadi jika pengairan sawah berkurang? Petani akan berebut air.

Ketika Anda tidur lelap, sebagian petani harus bertempur saat dinihari dengan udara yang menusuk tulang. Mereka harus ke sawah untuk berebut air irigasi yang tak melimpah di musim kemarau. Di Purbalingga, bahkan pernah ada petani yang sampai saling bacok karena berburu air irigasi untuk kepentingan sawahnya.

Bayangkan saja ketika di daerah dataran atas air irigasi dihentikan, atau salurannya dipersempit, atau digunakan untuk bisnis cuci mobil, maka petani di daerah dataran bawah akan bertarung satu sama lain. Berburu air yang berkurang karena penyelewengan yang terjadi di daerah dataran atas.

Petani seperti disiksa dari banyak penjuru dan mendapatkan hasil yang tak seberapa ketika panen tiba. Apalagi mereka yang hanya petani penggarap. Saat seperti ini, tak bisa sepenuhnya disalahkan ketika para pemuda memilih tak turun ke sawah.

Lalu bagaimana? Pemerintah harus turun tangan. Jika ada mafia tata niaga pertanian, maka harus diberantas. Penyelewengan irigasi harus ditertibkan. Beri kemudahan pada petani. Karena merekalah ada nasi di meja makan. Turun tangannya pemerintah adalah cara agar pertanian di Banyumas tak punah. Agar cerita petani tak menggetirkan.

Berita Terpopuler

Berita Terkini