Setelah bencana Tsunami di pertengahan 2006 lalu, mereka bangkit dari duka. Mencoba akrab, bersahabat dengan ombak pesisir pantai selatan. Berlatih hampir setiap hari demi meraih cita cita menjadi peselancar profesional.


Adi Kurniawan, Widarapayung Cilacap

Keindahan pantai dan ombak pantai selatan menawarkan pesona tersendiri bagi wisatawan. Ombak di pantai Widarapayung sendiri lebih besar bila dibandingkan dengan ombak pesisir pantai di Kabupaten Cilacap. Besarnya ombak itu dimanfaatkan oleh para peselancar yang sejak keberdaanya, sudah sering kali membantu menyelamatkan wisatawan yang terseret ombak ataupun membantu pencarian korban tenggelam bersama Basarnas.

Hamparan pasir hitam pantai yang panas oleh terik matahari tak menjadi masalah bagi mereka, para peselancar cilik pantai Widarapayung. Bocah berusia antara delapan hingga 12 tahun itu tampak bersemangat berlarian melakukan pemanasan sebelum berselancar. Tanpa alas kaki ataupun sepatu olaharaga khusus, mereka tak hiraukan panasnya pasir.

Mereka adalah Walimin, Abdul Basik Mubaroq dan Nana Permana. Ketiga bocah itu masing masing duduk di bangku kelas satu dan dua SMP. Hampir setiap sore, mereka berlatih berselancar bersama para peselancar lainya yang tergabung dalam Widara Payung Selancar Club (WPSC).

Dengan Body Board selancar pelampung berbentuk persegi panjang, mereka mulai berlatih. Ombak di Pantai Widarapayung yang tidak begitu besar, memudahkan mereka untuk berlatih. Gulungan air laut menerpa tubuh kecil mereka. Jatuh dan bangun hal yang biasa bagi mereka. Dari mengayuh papan hingga berdiri menjaga keseimbangan diatas papan selancar bukan hal yang mudah dilakukan orang biasa, membutuhkan latihan yang terus menerus.

Seperti halnya peselancar cilik ini, Walimin. Ia sudah hampir enam tahun berlatih selancar sejak tahun 2007 pasca bencana tsunami yang menerjang pantai Widarapayung.

“Setiap sore, saya rajin berlatih, meskipun sampai dengan sekarang kemampuanya masih biasa,” ungkap Walimin dengan tubuh basah kuyup setelah berselancar. Walimin menceritakan, awalnya tidak bisa berenang dan takut dengan ombak pantai widarapayung.

Namun, setelah niatnya untuk menaklukan ombak terdorong rasa dukanya setelah bencana Tsunami. Saat bencana Tsunami menerpa Pantai Widarapayung, ayah Walimin yang saat itu sedang menjaring ikut teseret Tsunami. Hingga kini jasad Ayah walimin belum diketemukan.

“Waktu itu Tsunami sekitar jam empat sore, sepulang dari mengaji. Kemudian saya mendapat kabar bila ayahnya terseret ombak saat Tsunami,” ungkap walimin dengan mata berkaca kaca.

Ia tak sanggup lagi meneruskan ceritanya karena tidak mau mengenang kembali dan larut dalam kesedihanya. Sejak saat itu, Ia bertekad terus berlatih berselancar bersama teman seusianya sejak kelas 4 SD.

Tidak hanya berselancar, para peselancar cilik ini sudah sering menolong wisatawan yang hampir tenggelam terseret arus. Walimin mengatakan, sudah tidak terhitung lagi menyelamatkan wisatawan.

“Beberapa bulan lalu, ada wisatawan yang awalnya berenang di pinggirin tiba tiba terseret ombak. Bersama dua orang teman, wisatawan tersebut akhirnya tertolong,” ungkap walimin.

Menurut Walimin, anggota peselacar dari WPSC rata rata sudah pernah menolong para wisatawan yang tenggelam. WPSC sendiri saat ini beranggotakan sedikitnya 30 peselancar cilik dan dewasa.

Meskipun tanpa dilengkapi dengan peralatan memadai seperti teropong untuk memantau para wisatawan yang sedang berenang, pelampung khusus atau bahkan kapal boat karet, para peselancar dari WPSC tetap rela menolong wisatawan tanpa imbalan apapun.

Komentar