Sabtu, 17 April 2021

Liverpool Menyedihkan, Perlu Diruwat Mandi Kembang?

gambar oleh jorono dari pixabay

 

 

Liverpool benar-benar menyedihkan. Keperkasaan mereka di musim lalu tak terlihat sama sekali dalam beberapa pekan terakhir. Terbaru, Liverpool kalah 0-1 dari Fulham, tim yang berjuang lolos dari lubang degradasi.

Mengutip whoscored, maka Liverpool sudah kalah enam kali secara beruntun pada ajang Liga Inggris di kandang sendiri. Tentu saja, pencapaian ini sangat buruk. Khusus tahun 2021, Liverpool juga tumpul di depan gawang lawan saat main di kandang sendiri.

Squawka football membeberkan, salaam 2021, Liverpool mampu membuat 101 tembakan ke gawang lawan saat main di kandang sendiri. Parahnya, dari 101 tembakan itu, hanya satu yang menjadi gol, itu pun terjadi melalui tendangan penalti.

Kini, Liverpool sudah tak mungkin menjadi juara Liga Inggris musim 2020-2021. Sebab, posisi Liverpool sudah jauh tertinggal. Mereka ada di posisi delapan dengan 43 poin dari 28 laga. Liverpool tertinggal 22 poin dari Manchester City yang ada di posisi pertama.

Dengan situasi ini, perlukah Liverpool diruwat? Ruwat adalah tradisi Jawa untuk membuang sial. Ada beberapa yang dilakukan dalam tradisi ruwatan, salah satunya mandi kembang. Tak ada salahnya, fans Liverpool dari Indonesia memperkenalkan kearifan lokal soal ruwatan. Siapa tahu Liverpool menerimanya?

Kan tidak masuk akal, tak sesuai dengan cara hidup orang barat? Ah zaman sekarang asal sesuatu itu menarik, unik, tidak mencelakakan, mendatangkan uang, berpotensi dilakukan. Tapi kalau Liverpool tetap tak mau? Ya tak masalah.

Jika pun tak mau, Liverpool perlu melakukan ruwatan dalam konsepsi mereka. Substansinya adalah membuang sial, introspeksi diri, dan semacamnya. Tentu dengan cara-cara yang versi orang barat bisa dinalar.

Ruwatan versi mereka misalnya, membangun camp khusus selama beberapa pekan untuk bersunyi ria. Dengan bersunyi, maka ada potensi bagi semua punggawa Liverpool untuk merenung, apa yang bermasalah sehingga Liverpool sering kalah. Bisa kan seperti itu?

Jadi, mulai manajemen sampai para pemain ada di satu camp untuk hidup bersama, berdampingan, introspeksi diri. Banyak yang bisa dilakukan agar Liverpool bisa lebih baik. Modal pemain pun tidak berbeda dengan musim lalu, harusnya Liverpool bisa bangkit, walaupun ini sudah terlambat.

Tapi setidaknya, mereka masih bisa memperjuangkan masuk empat besar klasemen akhir. Sungguh ironi jika juara Liga Inggris musim lalu, bukan hanya gagal kembali juara, tapi juga gagal masuk papan atas.

Berita Terkait

- Advertisement -

Berita Terkini