Perguruan Tinggi, Pencetak Pengangguran Terdidik?

Pengangguran menurut KBBI adalah hal atau keadaan menganggur atau tidak melakukan apa- apa atau tidak bekerja. Definisi pengangguran menurut Payman J.Simanjutak adalah orang yang tidak bekerja berusia angkatan kerja yang tidak bekerja sama sekali atau bekerja kurang dari dua hari selama seminggu sebelum pencacahan dan berusaha memperoleh pekerjaan.

Pengangguran tidak hanya didominasi oleh masyarakat yang tidak berpendidikan saja, melainkan banyak juga yang sudah mengenyam pendidikan tinggi namun pada akhirnya harus menganggur, pada dasarnya setiap manusia pasti mempunyai keahlian yang luar biasa, namun karena keterbatasan lahan pekerjaan yang tersedia, sehingga menyebabkan mereka harus menahan pil pahit menjadi pengangguran. Nasib inilah yang sering diperoleh oleh para sarjana yang terpontang panting mencari pekerjaan.

Perguruan tinggi sangatlah penting bagi kehidupan masyarakat karena perguruan tinggi merupakan salah satu kunci bagi suatu bangsa untuk meningkatkan kualitas SDM dan kemajuan bangsa itu sendiri. Perguruan tinggi juga dapat memberikan peluang yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan yang terbaik, karena calon pekerja yang mempunyai background lulusan dari perguruan tinggi akan lebih dipercaya sebagai orang yang lebih mempunyai keterampilan praktis dan lebih terasah kemampuannya.

Namun sebenarnya tidak semua lulusan perguruan tinggi atau pendidikan tinggi mempunyai kemampuan lebih dari pada orang yang tidak menempuh pendidikan tinggi. Terdapat banyak tipe-tipe mahasiswa di dalam sebuah perguruan tinggi, seperti : mahasiswa yang hanya sekedar datang kuliah kemudian pulang, ada pula mahasiswa yang benar-benar ingin belajar dan mengembangkan kemampannya, dan ada pula mahasiswa yang hanya sok sibuk dengan kegiatan-kegiatan diluar kampus sehingga prose belajar mengajar di kelas (perkuliahan) terbengkalai. Namun nampaknya, Negara kita sedang mempunyai beban fikiran terhadap mahasiswa dan kampus.

Setiap tahunnya, beberbagai Perguruan Tinggi di Indonesia meluluskan ribuan sarjana baru dari seluruh pelosok negeri, baik itu lulusan dari Perguruan Tinggi Swasta, maupun Perguruan Tinggi Negri. Namun sangat disayangkan, dari sekian banyaknya sarjana yang diluluskan oleh perguruan tinggi , sebagian besar dapat dipastikan akan menjadi pengangguran. Pernyataan ini bukan tidak beralasan, tingginya angka pengangguran sarjana sudah menjadi salah satu penyakit di negara Indonesia yang besar.

Faktor  kualitas sumber daya manusia adalah penyebab utama banyaknya sarjana Indonesia yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Perguruan tinggi dinilai hanya menghasilkan sarjana ‘bertitel’ tanpa dibarengi kemampuan yang memadai. Adapun suatu paradigma yang keliru dikalangan sarjana di Indonesia, mereka mengasosiasikan kata “bekerja” dengan menjadi karyawan disebuah institusi, lembaga, maupun perusahaan, sehingga lulusan perguruan tinggipun berbondong- bondong untuk mencari pekerjaan bukan menciptakan lapangan pekerjaan.

Tidak jarang lulusan perguruan tinggi yang cenderung terlalu banyak memilih pekerjaan karena menganggap memiliki kompetensi lebih tinggi ketimbang lulusan SMA atau SMK, mahasiswa juga idealis, ingin Pekerjaan Sesuai dengan jurusan. Faktor lain yang bisa memicu terjadinya jobless (pengangguran), yakni banyaknya mahasiswa yang setelah lulus, bekerja tidak sesuai dengan kemampuan ilmu yang dipelajari semasa kuliah. Kurangnya pergaulan juga termasuk salah satu faktor adanya sarjana pengangguran, karena dengan banyaknya kenalan dan interaksi dengan orang lain dapat memicu dekatnya dengan pekerjaan.

Relevensi  antara mutu perguruan tinggi dan kebutuhan dunia industri masih rendah, meskipun akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi terus meningkat. Hal tersebut tercermin dari rendahnya serapan tenaga kerja para lulusan perguruan tinggi. Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia mencatat, angka pengangguran untuk tingkat pendidikan menengah ke atas (sarjana) cukup tinggi. Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, jumlah angkatan kerja pada Agustus 2019 tercatat sebesar 197,92 juta orang, bertambah dibanding periode yang sama tahun lalu 194,78 juta. Adapun tingkat partisipasi kerja naik dari 66,67% pada Agustus 2018 menjadi 67,49%.  “Tingkat pengangguran terbuka tercatat turun (secara presentase) dari 5,34% pada Agustus 2018 menjadi 5,28% pada Agustus 2019, Tingkat pengangguran tertinggi masih berasal dari lulusan SMK.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat  jumlah pengangguran terbuka pada Agustus 2019 sebesar  5,28% atau mencapai  7,05 juta orang. Angka pengangguran tersebut naik secara jumlah dibandingkan Agustus 2018 sebesar  7 juta orang atau turun secara persentase sebesar 5,34%. Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/11) (Baca: Tertekan Ekonomi AS dan Global, RI Diramal Hanya Tumbuh 5,2% pada 2020) Berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2019 untuk lulusan SMK mencapai 10,42%, turun dibandingkan Agustus 2018 sebesar 11,24%. Disusul oleh lulusan SMA sebesar 7,92% yang turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar sebesar 7,95%.  Lalu lulusan  diploma dan universitas masing-masing sebesar 5,99% dan 5,67%, turun dibanding periode yang sama tahun lalu 5,89% dan 6,02%. Berdasarkan wilayah, tingkat pengangguran di perkotaan turun dari 6,45% pada Agustus 2018 menjadi 6,31% pada Agustus 2019, sedangkan tingkat pengangguran di pedesaan turun dari 4,04% menjadi 3,93%.

Hal ini tentunya memperihatinkan, karena perguruan tinggi berperan strategis dalam peningkatan daya saing bangsa. Daya saing menjadi kunci kemenangan di era globalisasi. Pendidikan tinggi meningkat prosentasenya dari tahun ke tahun,  kendati jumlah pengangguran nasional menurun dalam tiga tahun terakhir.

Banyak solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat pengangguran diIndonesia. Salah satunya dengan mendorong pemerintah untuk menekan setiap perusahaan untuk lebih memperhatikan sumber daya manusia yang ada di sekitarnya sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran terdidik. Selain itu, perguruan tinggi juga harus menyiapkan lulusan- lulusan sarjana melalui pendidikan pola, konsep dan model baru yang dapat mengembangkan kepribadian. Pendidikan juga harus membantu pengembangan mahasiswa dalam konsep life skill yang menyiapkan mereka ketika menjadi lulusan sarjana agar mampu memiliki skill oleh pasar tenaga kerja.

Pentingnya peran pemerintah dan institusi pendidikan dalam menanggulangi besarnya tingkat pengangguran yang ada, peran dari individu sarjana sendiri juga sangat dibutuhkan, dengan melakukan intropeksi diri yang disertai pengasahan skill yang mumpuni, misalnya dapat berbahasa asing, menguasai teknologi,dan kemampuan berbicara di depan banyak orang. Dengan skill tersebut seorang sarjana dapat bersaing di dunia kerja yang ada, bahkan dapat membuka peluang usaha sendiri.

 

Penulis

Feli Dwi Anggita

Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam

fakultas Dakwah dan Komunikasi

Berita Terkait

Berita Terkini