Kamis, 2 Desember 2021

Museum Keliling dapat Apresiasi dari Dewan Kesenian dan Dinas Pendidikan Purbalingga

Ketua Dewan Kesenian Purbalingga (DKP), Bowo Leksono, bersama Plt Kepala Dindikbud Purbalingga, Tri Gunawan Setyadi berdiskusi, saat acara museum keliling di D’Las belum lama ini.

Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan modernisasi yang sangat cepat menjadikan tantangan tersendiri untuk bisa mempertahankan eksistensi museum. Pengelola harus pandai-pandai berinovasi. Seperti yang dilakukan pengelola Museum Prof Dr R Soegarda Poerbakawatja melalui program Museum Keliling.


Purbalingga, serayunews.com

Beragam benda koleksi museum tentu menyimpan jutaan cerita. Cerita-cerita masa lalu itu, harus terbentur dengan globalisasi masa kini. Ditambah lagi, selama masa Pandemi Covid-19, museum ditutup total untuk kunjungan.

Pengelola Museum Soegarda Purbalingga mencoba melakukan terobosan. Selama dua tahun ini, digelarlah kegiatan Museum Keliling. Mencoba mendekatkan diri dengan masyarakat. Acara dikemas semenarik mungkin untuk mendapatkan perhatian masyarakat.

“Sesuai rencana, museum keliling ini akan dilaksanakan di lima lokasi. Namun, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purbalingga telah melakukan penyesuaian konsep acara, yakni dengan mengurangi kegiatan hanya menjadi dua titik lokasi, dari semula rencananya ada lima lokasi,” kata staf Museum Prof Dr R Soegarda Poerbakawatja, Anita Ika Cahyani.

Program Museum Keliling 2021 di Purbalingga kembali digelar dengan konsep pameran koleksi museum dan diskusi bersama para pakar. Acara pertama Museum Keliling tahun 2021 dilaksanakan di Objek Wisata D’LAS Serang Purbalingga, 16 Oktober 2021. Sementara, gelaran kedua Museum Keliling digelar di KieArt Cartoon School di Desa Sidareja, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, 19 Oktober 2021.

Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Ketua Dewan Kesenian Purbalingga (DKP), Bowo Leksono, mengatakan, memang sudah seharusnya museum itu harus beradaptasi dengan perubahan zaman. Karena itu, Dewan Kesenian Purbalingga memberi apresiasi positif atas upaya dalam dua tahun terakhir ini.

“Program ini merupakan yang luas biasa, karena bisa secara nyata mendekatkan museum kepada masyarakat. Museum itu tidak melulu soal benda-benda tua, tentang masa lalu, tapi justru tentang masa sekarang dan masa depan,” kata Bowo Leksono.

Bowo juga berharap petugas pengelola Museum Soegarda Poerbakawatja bisa memanfaatkan teknologi audio visual sebagai sarana promosi. Menurutnya, media digital membantu koleksi museum lebih mudah dikenal publik.

“Saat ini penting bagaimana promosi museum untuk anak-anak muda, supaya mereka tidak anti datang ke museum,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Plt Kepala Dindikbud Purbalingga, Tri Gunawan Setyadi. Tri Gunawan menyebut program Museum Keliling sebagai program yang inovatif. Dia juga memuji konsep museum on the road. Datang menjemput bola, mendatangi masyarakat, menjadikan masyarakat lebih tertarik.

“Antusiasme terhadap museum keliling di obyek wisata D’LAS cukup besar. Justru dari daerah lain yang banyak melihat. Konsep museum on the road ini bagus sekali, ketika hadir di tempat yang bisa mengundang masyarakat banyak. Sehingga, masyarakat akan tahu bahwa Museum Soegara punya ini, ada ini,” kata Tri Gunawan.

Trigun berharap, Museum Soegarda Poerbakawatja terus menghadirkan program inovatif untuk mempromosikan keberadaan museum. Selain memanfaatkan konsep museum keliling dan juga dengan optimalisasi informasi di media baik media massa maupun media sosial.

“Selain itu, informasi mengenai barang koleksi di museum tersampaikan dengan jelas. Sehingga anak-anak dan pengunjung museum mudah mengenali barang-barang sejarah yang ada di museum,” kata dia.

Berita Terkait

Berita Terkini