Sabtu, 2 Juli 2022

Pelajar Purbalingga yang Terjaring Razia, Diterapi Psikologi di Hadapan Orangtuanya

Operasi Patuh Candi 2022
Pihak Polres Purbalingga memberikan pemahaman pada pelajar yang terjaring razia. (Amin)

Operasi Patuh Candi 2022, berlangsung selama 14 hari terhitung sejak 14 sampai 26 Juni 2022. Satu di antara sasarannya yakni pelajar di bawah umur. Polisi memanggil keluarga pelajar yang terjaring razia, lalu didudukkan bersama dengan si anak, Jumat (18/06/2022) pagi.


Purbalingga, serayunews.com

Bertempat di Aula Bhayangkari, kepolisian mengumpulkan sejumlah pelajar yang terjaring razia Ops Patuh Candi 2022. Para pelajar mendapatkan terapi psikologi oleh konselor psikologi. Para pelajar itu, dijejerkan bersama dengan orangtuanya.

Baca juga  Tak Hanya Cantik, Sosok Bupati Purbalingga Ini Juga Punya Sederet Prestasi

Kasat Lantas Polres Purbalingga, AKP Rizky Widyo Pratomo mengatakan, kegiatan ini dengan terapi keselamatan bagi pelanggar lalu lintas. Para pelanggar lalu lintas tersebut, terjaring saat pelaksanaan Operasi Patuh Candi 2022.

“Ini merupakan salah satu upaya kami untuk mencegah pelanggaran lalu lintas oleh anak di bawah umur,” katanya, Jumat pagi.

Tim konselor psikologi, merupakan tim dari Polres Purbalingga. Harapannya, dengan terapi ini, para anak di bawah umur bisa tersentuh psikologinya sehingga mendapatkan pemahaman atas kesalahan sebelumnya.

“Kami juga menghadirkan orangtua para anak-anak pelanggar lalu lintas tersebut. Harapannya, orangtua lebih peduli dan bisa mengendalikan anaknya untuk tidak memperbolehkan mengendarai sepeda motor sendiri,” kata AKP Rizky.

Baca juga  Temuan BPK Berkurang, Pengelolaan Keuangan di Kabupaten Purbalingga Semakin Baik

Salah satu orangtua bernama Laman, warga Kaligondang mengatakan, anaknya mengikuti kegiatan terapi ini karena melanggar lalu lintas. Di mana saat berangkat sekolah mengendarai sepeda motor tanpa memakai helm dan tidak membawa surat-surat.

Adanya terapi, menurut Laman, sangat bermanfaat bagi anak-anak yang pernah melanggar aturan lalu lintas. Harapannya, anaknya dan anak-anak lain tidak melakukan pelanggaran lalu lintas karena bisa berdampak negatif seperti kecelakaan, mengalami luka berat bahkan meninggal dunia.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak, agar mereka tidak melakukan pelanggaran lagi. Saya selaku orangtua juga akan lebih mengawasi dan tidak memperbolehkan anak di bawah umur, mengendarai sepeda motor sendiri,” kata dia.

Berita Terkait

Berita Terkini