
BANYUMAS, SERAYUNEWS – Polresta Banyumas bersama tim dokter forensik RSUD Margono Soekarjo Purwokerto membongkar makam (ekshumasi) dan melakukan otopsi terhadap jenazah SH (14), siswa SMP yang diduga menjadi korban penganiayaan warga saat pembubaran balap liar. Proses ekshumasi berlangsung di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Kembaran, Kabupaten Banyumas, Rabu (9/9/2026).
Proses hukum ini menyedot perhatian warga sekitar. Puluhan masyarakat mendatangi kompleks pemakaman sejak pagi. Namun, warga hanya bisa melihat dari luar area yang telah ditutupi tenda dan dipasang garis polisi.
Kasat Reskrim PPA PPO Polresta Banyumas, AKBP Sitowati, menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk mengungkap secara pasti penyebab kematian remaja asal Kecamatan Kembaran tersebut, menyusul dugaan kekerasan yang terjadi pada Sabtu (5/9/2026) dini hari.
“Hari ini di tempat pemakaman umum Desa Kembaran telah dilaksanakan ekshumasi dilanjutkan otopsi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui penyebab meninggalnya korban yang diduga menjadi korban kekerasan,” ujar Sitowati, di lokasi kejadian.
Ia menambahkan, olah tempat kejadian perkara (TKP) serta pemeriksaan saksi-saksi awal mengindikasikan adanya tindak penganiayaan fisik.
“Dari hasil yang kami dapat di lapangan, kemudian kami juga sudah memeriksa beberapa saksi, didapat kesimpulan bahwa memang kejadian tersebut adalah peristiwa kekerasan pemukulan menggunakan bilah kayu, balok,” katanya.
Meski demikian, pihak kepolisian belum menyimpulkan sepenuhnya sebelum hasil otopsi resmi keluar. “Saat ini hal tersebut yang sedang kami cari, apakah itu sebagai penyebab daripada kematian korban,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, kematian SH pada Sabtu (4/9/2026) sebelumnya mendadak viral di media sosial karena dinilai tidak wajar. Korban diduga menjadi korban salah sasaran warga yang mengamuk saat menindak aksi balap liar dan kebisingan knalpot brong.
Kasatreskrim Polresta Banyumas, Kompol Ardi Kurniawan, menyatakan pihak kepolisian masih mendalami kronologi pasti di lapangan meski belum menerima laporan resmi dari pihak keluarga.
“Kalau laporan resmi ke SPKT Polresta belum ada. Kami juga masih menyelidiki peristiwa apa yang terjadi,” kata Ardi.
Guna melengkapi bahan penyelidikan, penyidik telah mendatangi rumah duka serta mengumpulkan barang bukti dari dua rekan korban, termasuk pakaian dan telepon seluler yang digunakan saat kejadian.
“Nanti kita segera sampaikan, karena masih penyelidikan, nanti kita sampaikan kalau sudah lengkap,” katanya.
Kompol Ardi juga mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi, mengingat informasi yang beredar mengenai kematian korban masih memerlukan verifikasi ketat.
Keterangan berbeda disampaikan pihak keluarga. Sepupu korban, Ukas, menceritakan bahwa pada Jumat (4/9/2026) malam, SH berkumpul bersama dua rekannya di kawasan Menara Teratai / Jalan Bung Karno. Sekitar pukul 03.00 WIB Sabtu dini hari, mereka bermaksud pulang melewati arah Bundaran Berkoh.
Saat melintas, warga setempat tengah berupaya membubarkan gerombolan pengendara knalpot brong secara memicu kericuhan. Warga melemparkan dan memukulkan kayu serta bambu secara acak ke arah pengendara yang melintas. Naas, pukulan kayu tersebut mengenai bagian kepala dan lengan SH.
Menurut Ukas, adiknya sama sekali tidak terlibat aksi balap liar maupun kericuhan tersebut. Korban yang panik berhasil memacu sepeda motornya ke rumah seorang temannya.
“Dia mengeluhkan kepalanya sakit dan pusing. Saat mau diantar pulang oleh temannya juga sempat sempoyongan,” kata Ukas.
Setibanya di rumah, korban ditemukan tetangganya tergeletak tak sadarkan diri di area teras. SH sempat mengalami kejang-kejang sebelum dilarikan ke rumah sakit.
“Hasil pemeriksaan medis menunjukkan SH mengalami pendarahan otak dan patah tulang pada lengan sehingga nyawanya tidak tertolong,” katanya.
Ukas menegaskan korban saat itu hanya mengendarai sepeda motor Honda Supra Fit standar milik orang tuanya.
Aksi penghadangan oleh warga ini dipicu maraknya konvoi remaja bertajuk “Jumat Gaul” atau “Rabu Gaul” di jalanan kota Purwokerto. Puluhan sepeda motor ber-knalpot brong kerap melakukan aksi kebut-kebutan pada dini hari saat masyarakat tengah beristirahat.
Kondisi tersebut meresahkan dan membahayakan pengguna jalan lain. Penghadangan oleh warga sekitar bukan pertama kali terjadi; selain di wilayah Berkoh, aksi pembubaran serupa oleh masyarakat sempat meletus di sepanjang Jalan Gerilya dan wilayah Tanjung.