Senin, 5 Desember 2022

Saat Pramuka Purbalingga Obati Trauma Anak-anak Terdampak Bencana

Bernyanyi dan bercerita, menghibur untuk mengobati trauma mereka yang terdampak bencana. Itulah yang dilakukan anggota Pramuka kwarcab Purbalingga, Sabtu (5/12/2020).


Purbalingga, serayunews.com 

Kompor dan tungku sudah menyala sejak pagi. Kepulan uap menebar wangi aroma racikan bumbu. Tanda dapur umum sudah mulai bekerja menyiapkan sarapan pengungsi. Pada sudut lain, relawan PMI membersihkan pelataran. Tim relawan dari BPBD, TNI, Polri, dan organisasi lain beraktivitas sesuai pembagian peran.

Tak ketinggalan puluhan anggota Pramuka, dari Kwarcab Purbalingga. Ada 9 orang Andalan Kwarcab, 10 orang anggota Pramuli, Ubaloka dan Pasperda, dan 6 orang anggota SBH. Membantu tim medis Puskesmas Pengadegan, mereka melakukan pembagian masker, pengukuran suhu tubuh, pemeriksaan tekanan darah, pengukuran kadar oksimetri, pemberian obat dan vitamin.

Koordinator lapangan yang juga Andalan Cabang Urusan Sarana dan Prasarana, Edi Susanto memanggil salah satu personelnya,  Tofik Nur Arifan.

“Tugas belum selesai, ada yang masih perlu dikerjakan. Hibur anak-anak itu,” seraya menunjuk ke salah satu ruang pengungsian.

Tofik, yang dipercaya sebagai Pamong SBH, mengajak beberapa rekannya. Mereka berjalan, masuk ke ruang kelas SDN 2 paling unjung. Mengajak anak-anak dan balita untuk berkumpul. Mereka bernyanyi dan bercerita. Upaya yang dilakukan untuk menghibur mereka yang masih dirundung trauma.

“Ada 68 anak usia 6-12 tahun, Kami pilih bermain menjadi metode trauma healing. Kegiatan ini diisi dengan bernyanyi dan berbagai permainan, serta bercerita,” kata Tofik.

Awalnya, ada rasa takut, malu, dan bahkan ada yang menangis. Hal yang wajar, selain karena trauma, juga karena interaksi dengan orang yang tak dikenal. Pemberian hadiah berupa makanan ringan rasanya menjadi jurus jitu metode pendekatan. Sehingga, mereka lebur dengan suasana.

“Awalnya banyak canggungnya, karena belum kenal yah. Tapi akhirnya kita bisa berinteraksi dengan mereka,” ujarnya.

Pemulihan trauma atau trauma healing memang sangat penting dilakukan. Bahkan tidak hanya bagi anak-anak. Orang dewasa pun perlu. Apalagi bagi warga Tumanggal, yang memang baru kali pertama mengalami bencana ini. Fenomena pergerakan tanah yang sampai separah ini baru pernah dialami.

Peristiwa itu terjadi pada Kamis (4/12/2020). Fenomena pergerakan tanah mengakibatkan puluhan rumah rusak, mulai dari skala ringan, sedang, sampai rusak berat. Ratusan warganya untuk sementara diungsikan di gedung SDN 2 Tumanggal.

Berita Terpopuler

Berita Terkini