
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – SD Negeri 1 Kecepit di Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara, menyimpan jejak penting sejarah pendidikan Indonesia. Berdiri sejak awal abad ke-20, sekolah ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga saksi lahirnya sistem pendidikan modern pada masa kolonial.
Kini, bangunan sekolah beserta sejumlah koleksi bersejarah di dalamnya telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Pemerintah dan para pemerhati sejarah pun mendorong SDN 1 Kecepit dikembangkan menjadi museum mini pendidikan pertama di Kabupaten Banjarnegara.
Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Guru Besar Sejarah Universitas Airlangga, Prof. Purnawan Basundoro. Sejarawan asal Desa Karangsari, Kecamatan Punggelan, itu menilai SDN 1 Kecepit memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi perkembangan pendidikan di Indonesia.
Menurutnya, sekolah tersebut masih menyimpan berbagai arsip otentik, termasuk buku induk siswa yang kondisinya masih relatif utuh.
“Keberadaan sekolah ini sangat penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Arsip yang masih tersimpan menjadi sumber informasi yang tidak dimiliki banyak sekolah lain. Ini merupakan aset sejarah yang layak mendapatkan perhatian serius,” ujarnya.
Dokumen tersebut dinilai merekam perkembangan pendidikan modern sejak diberlakukannya Politik Etis pada awal abad ke-20.
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) menyatakan komitmennya menjaga keberadaan SDN 1 Kecepit sebagai bangunan cagar budaya.
Kepala Dinbudpar Banjarnegara, Tursiman, mengatakan pihaknya telah meninjau langsung kondisi sekolah. Pemerintah daerah juga menaruh perhatian terhadap upaya pelestarian sekolah bersejarah tersebut.
Salah satu rencana yang tengah disiapkan adalah menghadirkan ruang kelas bernuansa tempo dulu yang akan difungsikan sebagai museum mini pendidikan.
“Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa sistem pendidikan dasar sudah berkembang sejak lebih dari satu abad lalu. Untuk mewujudkan museum mini ini dibutuhkan kolaborasi antara Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga dengan Dinbudpar,” kata Tursiman.
Museum mini tersebut diharapkan menjadi media edukasi yang memperkenalkan sejarah pendidikan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Di sisi lain, Kepala SDN 1 Kecepit, Arif Subekti, mengungkapkan kondisi fisik bangunan yang telah berusia lebih dari satu abad mulai mengalami kerusakan di sejumlah bagian.
Ia berharap status cagar budaya diikuti dengan dukungan anggaran konservasi agar proses perawatan dapat dilakukan sesuai kaidah pelestarian bangunan bersejarah.
“Kami berharap ada dukungan pemerintah agar perawatan bangunan dapat dilakukan secara benar sehingga nilai sejarahnya tetap terjaga,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara. Ketua TACB Banjarnegara sekaligus Ketua Umum Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI), Heni Purwono, menyatakan kesiapan mendampingi pengembangan museum mini pendidikan tersebut.
Menurut Heni, YSMI saat ini tengah menjalankan program yang didukung Kementerian Kebudayaan bersama LPDP melalui Dana Indonesiana, sehingga peluang pengembangan kawasan bersejarah itu semakin terbuka.
Ia juga mendorong penyelamatan arsip pendidikan di sekolah-sekolah tua, seperti buku induk siswa yang masih tersimpan di SDN 1 Kecepit maupun SDN Pekauman.
Ke depan, TACB bersama Dinas Arsip dan Perpustakaan serta Perpustakaan Nasional berencana mengusulkan arsip-arsip tersebut menjadi bagian dari Memori Kolektif Bangsa.
Apabila rencana tersebut terealisasi, SDN 1 Kecepit tidak hanya menjadi sekolah bersejarah, tetapi juga destinasi wisata edukasi yang memperkuat identitas sejarah Banjarnegara sekaligus memperkenalkan perjalanan pendidikan Indonesia kepada generasi mendatang.