
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Band asal Purwokerto, Polkadots, terus berupaya memperluas kiprahnya di industri musik Indonesia.
Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu local heroes di wilayah Banyumas dan sekitarnya, kini mereka memiliki target yang lebih besar, yakni menembus panggung musik nasional.
Hal tersebut disampaikan oleh vokalis Polkadots, Rasyid Ismawan atau yang akrab disapa Acip, saat berbincang mengenai perjalanan band, tantangan yang dihadapi, hingga harapan untuk perkembangan ekosistem musik lokal.
Menurut Acip, predikat sebagai local heroes memang membanggakan. Namun, ia merasa sudah saatnya Polkadots keluar dari zona nyaman dan mencoba menjangkau audiens yang lebih luas.
Acip mengatakan, selama ini Polkadots sudah cukup sering tampil di Purwokerto, Cilacap, maupun berbagai daerah di Jawa Tengah. Pengalaman itu membuat mereka dikenal oleh penikmat musik lokal.
Meski demikian, ia menilai sebuah band tidak boleh cepat puas jika ingin berkembang.
“Tapi kami ingin keluar dari zona nyaman di saat fase kita sudah di Local Heros kami ingin menaikkan level menjadi band yang band yang mungkin lebih dikenal sebagai band yang dari lokal hero menuju band nasional. Karena siapa sih yang enggak mau karirnya naik level dan berada di tier musik yang lebih diketahui oleh audience dan mungkin lebih bisa masuk pasar industri musik nasional, ya,” ujar Acip saat dihubungi serayunews.com pada Jumat, 17 Juli 2026.
Menurutnya, setiap musisi tentu memiliki mimpi untuk berkembang. Tidak hanya dikenal di daerah asal, tetapi juga mampu bersaing di industri musik nasional melalui karya-karya yang mereka hasilkan.
Belakangan Polkadots sempat menjadi perbincangan setelah diumumkan sebagai salah satu pengisi acara dalam sebuah konser besar di Purwokerto.
Pengumuman tersebut memunculkan berbagai komentar dari warganet, termasuk yang mempertanyakan kehadiran band lokal dalam deretan penampil.
Acip mengaku menyayangkan respons tersebut. Namun, ia memilih melihatnya sebagai hal yang wajar dalam dunia musik.
“Di tengah underestimate dari netizen, kami sangat menyayangkan ya respons dari netizen seperti itu. Tapi tidak apa-apa, itu sebuah manusiawi mungkin mereka sangat-sangat menunggu line up utamanya ya,” jelas Acip.
Baginya, setiap karya pasti memiliki pendukung maupun pihak yang kurang menyukai.
Karena itu, Polkadots memilih fokus membuktikan kualitas melalui penampilan dan karya, bukan membalas kritik.
Acip berharap penyelenggara konser berskala nasional yang digelar di Purwokerto dapat lebih banyak melibatkan musisi daerah.
Ia menilai langkah tersebut penting untuk menciptakan regenerasi musisi sekaligus membuka peluang bagi band lokal agar dikenal publik yang lebih luas.
“Kami tetap ya membuktikan dengan karya dan yang kami harapkan netizen, khususnya produk atau band lokal yang mungkin bisa di-support menjadi band nasional,” terangnya.
Menurutnya, Purwokerto memiliki banyak band potensial selain Polkadots.
Nama-nama seperti Hyndia, Lodse, Simmer Down, Firecrackers, hingga berbagai grup lainnya dinilai memiliki kualitas yang layak tampil di panggung besar.
Acip juga mengingatkan jangan sampai musisi lokal justru kehilangan kesempatan tampil ketika konser besar digelar di kota sendiri.
“Warga Purwokerto lebih mendukung event besar, kalau ada event yang mungkin skalanya nasional di Purwokerto. Tolong ajaklah band Purwokerto,” ungkap Acip.
Ia menilai keberadaan band lokal sebagai pembuka acara bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari ekosistem musik daerah.
Di akhir wawancara, Acip menyampaikan pesan kepada masyarakat agar lebih menghargai perjuangan band lokal yang konsisten menciptakan karya orisinal.
Ia menilai membuat lagu sendiri bukan perkara mudah. Dibutuhkan waktu, biaya, kreativitas, hingga konsistensi yang tidak sedikit.
Karena itu, ia berharap masyarakat maupun penyelenggara acara dapat memberikan ruang lebih besar bagi band yang memiliki karya.
“Pesan dan pesan ya yang buat masyarakat di luar sana buat keberadaan band lokal. Mungkin lebih dihargain, lebih di-support, lebih dimotivasi lagi karena siapa tahu band yang lokal teman nantinya akan jadi besar,” terang Acip.
Acip mencontohkan banyak band Indonesia yang awalnya hanya dikenal di daerah, The Jeblogs misalnya, namun akhirnya berhasil menembus pasar nasional berkat dukungan publik.
Menurutnya, bukan tidak mungkin band asal Purwokerto akan mengikuti jejak tersebut jika terus diberi kesempatan tampil dan diapresiasi.
“Tolong eh teman-teman ini yang paling penting. Eh supportlah band yang mempunyai karya ya, kalau karena karya itu mahal dan tidak eh harganya tuh tidak terukur,” jelasnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang bangga terhadap musisi daerahnya sendiri.
Dengan dukungan yang konsisten, bukan tidak mungkin suatu hari nanti akan lahir lebih banyak band nasional yang berasal dari Purwokerto.
“Jadi pesan saya seperti itu marilah kita men-support dan berdoa agar kita sehat selalu,” tutup Acip