Selasa, 28 September 2021

Soegeng Boedhiarto, Pejuang Pribumi Keturunan Tionghoa Sekaligus Ayah Bupati Banjarnegara, Tutup Usia

Soegeng Boedhiarto yang merupakan ayah kandung Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono tutup usia. (Maula Asadillah)

Sang pejuang keturunan tionghoa Soegeng Boedhiarto yang merupakan ayah kandung Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono tutup usia. Sang veteran menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Banjarnegara pada Jumat (16/7/2021) sekitar pukul 05.45 WIB.


Banjarnegara, serayunews.com

Soegeng Boedhiarto yang merupakan pejuang kemerdekaan kelahiran Purwokerto pada 4 Juli 1929. Dalam sejarahnya, warga pribumi keturunan ini tercatat memberi kontribusi bagi negeri bahkan sejak memperjuangkan kemerdekaan. Beliau merupakan satu saksi sejarah perang melawan penjajahan Jepang dan Belanda.

Ayah sembilan anak yang tinggal di Banjarnegara ini memang seorang veteran pejuang kemerdekaan Indonesia. Semasa hidupnya, sang veteran tidak pernah bosan mengingatkan pada generasi muda tentang perjuangan para veteran dalam mengusir penjajah. Perjuangan di masa penjajahan tidak saja dirasakan pejuang. Rakyat juga ikut merasakan penderitaan yang terjadi di masa pendudukan.

Di masa itu, perjuangan melawan penjajah dilakukan oleh segenap lapisan masyarakat. Tidak hanya mengangkat senjata, membantu memenuhi kebutuhan pejuang juga dilakukan masyarakat pada umumnya. Semuanya adalah pahlawan.

Hal tersebut merupakan penggalan kisah yang diceritakan Soegeng Boedhiarto sebelum tutup usia. Dia juga mengingatkan pada generasi muda untuk tetap menjaga semangat nasionalisme sebagai upaya untuk tetap mempertahankandan menyatukan semua elemen bangsa Indonesia.

Pada masa penjajahan, Soegeng berperan mengatur strategi perang masuk Kota Purwokerto. Dengan informasi yang dipasok ke pasukan, penyerangan bisa dilakukan lebih intensif dan optimal.

Untuk memudahkan penyerangan pada malam hari, Seogeng memberikan ide agar tower pengintai dirobohkan. Pejuang yang akan merebut ke Purwokerto sempat dihalau, tapi akhirnya berhasil menusuk jantung lawan.

Di sisi lain, penjajah menganggap pejuang kemerdekaan sebagai kelompok ekstremis. Jika tertangkap mereka akan disuruh lari, kemudian ditembak dari arah belakang. Sehingga seolah-olah pejuang kemerdekaan adalah ektremis yang melarikan diri.

Usai kemerdekaan, sang veteran ini sempat bertugas di Corps Polisi Militer (CPM) sampai dia mengundurkan diri dari militer pada 6 Januari 1950. Pemerintah tidak melupakan jasa-jasanya. Pada 15 Agustus 1981 dia mendapat gelar Kehormatan Penghargaan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI.

Setelah mundur dari karier militer, kesempatan dan waktu kumpul keluarga dimanfaatkan pejuang pribumi keturunan Tionghoa itu untuk lebih fokus mendidik putra-putrinya agar menjadi generasi penerus yang berguna bagi nusa dan bangsa. Hingga akhirnya salah satu putranya Budhi Sarwono berhasil memimpin Banjarnegara.

Selamat jalan sang veteran… jasamu untuk negeri ini takkan pernah terlupakan.

Berita Terkait

Berita Terkini