
PURBALINGGA, SERAYUNEWS – Film Tamu Maghrib menjadi salah satu film Indonesia yang tengah menarik perhatian publik setelah proses produksinya dilakukan di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Pengambilan gambar berlangsung di Desa Pelumutan, Kecamatan Kemangkon, yang dinilai memiliki suasana pedesaan autentik sesuai kebutuhan cerita.
Bukan sekadar film horor biasa, Tamu Maghrib menghadirkan kisah thriller psikologis yang mengangkat persoalan kemanusiaan, budaya lokal Banyumas, hingga dampak ketika masyarakat memilih diam terhadap tindak kekerasan.
Kehadiran film ini sekaligus menjadi upaya memperkenalkan budaya dan lanskap pedesaan di wilayah Banyumas Raya ke layar lebar nasional.
Desa Pelumutan, Kecamatan Kemangkon, dipercaya menjadi salah satu lokasi utama pengambilan gambar film Tamu Maghrib. Proses syuting mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Purbalingga karena dinilai mampu memperkenalkan potensi daerah melalui industri perfilman.
Wakil Bupati Purbalingga Dimas Prasetyahani menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Purbalingga sebagai lokasi produksi film nasional. Menurutnya, kehadiran tim produksi diharapkan tidak hanya membawa nama daerah ke tingkat nasional, tetapi juga memberikan pengalaman serta pertukaran ilmu bagi pelaku industri kreatif di wilayah setempat.
Film ini disutradarai oleh Jay Sukmo dan diproduksi oleh JSF Creative Studio. Selain menghadirkan cerita yang kuat, pengambilan gambar di kawasan pedesaan menjadi salah satu daya tarik karena menampilkan nuansa Banyumas yang masih alami.
Produser Anggit Danurendra menjelaskan bahwa Desa Pelumutan dipilih karena masih memiliki rumah-rumah tradisional, lingkungan pedesaan yang terjaga, serta budaya masyarakat yang sesuai dengan latar cerita era 1990-an. Dialek masyarakat Banyumas juga dinilai mampu memperkuat atmosfer film.
TAMU MAGHRIB adalah film horor dan psikologi thriller yang memadukan teror supranatural dengan kisah tentang kekerasan, ketakutan, tragedi kemanusiaan, ketidakadilan dan konsekuensi ketika manusia memilih diam di hadapan penderitaan sesamanya.
Berbeda dengan film horor pada umumnya yang mengandalkan kemunculan makhluk supranatural, Tamu Maghrib lebih menitikberatkan pada konflik batin para tokohnya.
Cerita dibangun melalui persoalan kekerasan dalam rumah tangga, ketidakadilan, hingga sikap masyarakat yang memilih menutup mata terhadap penderitaan orang lain.
Seringnya selepas Maghrib, Ayu Jumeneng berlari dari rumah ke rumah memohon pertolongan dari kekejaman suaminya Suro Codet, seorang Saudagar kaya, berpengaruh, yang ditakuti seluruh desa.
Namun tak satu pun pintu terbuka. Ketakutan dan prasangka membuat warga memilih diam, membiarkan seorang perempuan menjadi korban.
Dalam keputusasaan, putrinya Sekar mencari pertolongan hingga bertemu seorang perempuan tua misterius yang memberinya sebuah mantra.
Saat usaha melarikan diri berakhir tragis, Ayu menggunakan mantra itu dan berubah menjadi sosok mengerikan yang bangkit membawa tragedi yang begitu tragis dan dramatis.
Sejak malam itu, setiap waktu maghrib menjadi awal teror bagi mereka yang pernah menutup pintu dan mengabaikan jeritan minta tolong.
Di tengah amukan ibunya yang telah kehilangan sisi kemanusiaan, Sekar harus memilih antara menyelamatkan sang ibu atau menghentikan kutukan yang mengancam seluruh desa.
Salah satu nilai lebih dari film ini adalah keberhasilannya memadukan unsur budaya lokal dengan cerita yang relevan. Latar pedesaan Banyumas tidak hanya menjadi lokasi syuting, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun suasana dan karakter cerita.
Melalui pendekatan tersebut, penonton akan disuguhkan nuansa desa yang khas, lengkap dengan dialek serta kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari alur film.
Dengan demikian, Tamu Maghrib diharapkan tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.
Film tersebut direncanakan tayang di bioskop pada akhir 2026 atau awal 2027 setelah seluruh proses produksi dan pascaproduksi selesai.***