
SERAYUNEWS- Persoalan limbah peternakan yang selama ini menjadi sumber pencemaran lingkungan kini mendapat solusi inovatif dari dunia akademik.
Seorang peneliti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berhasil mengembangkan teknologi pengurai limbah peternakan berbasis mikroba bernama Biokulturmix, yang mampu mengolah limbah isi perut sapi menjadi pupuk organik ramah lingkungan dalam waktu singkat.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Dr. Ir. Agustinah Setyaningrum, dosen Fakultas Peternakan Unsoed.
Teknologi Biokulturmix dirancang khusus untuk mempercepat proses pengomposan limbah ternak ruminansia, sekaligus menjawab persoalan bau, pencemaran, dan penumpukan limbah yang kerap terjadi di sentra-sentra peternakan rakyat.
Dr. Agustinah mengungkapkan, gagasan pengembangan Biokulturmix berangkat dari kepeduliannya terhadap dampak negatif limbah peternakan yang belum dikelola secara optimal.
Menurutnya, sektor peternakan menghasilkan limbah dalam jumlah besar dan berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak diolah dengan benar.
Ia menilai, limbah kotoran dan isi perut ternak memiliki tingkat pencemaran yang jauh lebih tinggi dibandingkan limbah pertanian.
“Limbah peternakan itu sangat mencemari dan sangat mengganggu. Kalau limbah pertanian mungkin hanya membusuk secara visual, tetapi kotoran ternak baunya luar biasa dan berdampak langsung pada lingkungan sekitar,” ujar Dr. Agustinah.
Kondisi tersebut mendorongnya untuk mencari solusi agar limbah peternakan tidak hanya dihilangkan, tetapi juga memiliki nilai guna bagi peternak dan lingkungan.
Biokulturmix merupakan produk aktivator mikroba yang dibuat dari bahan dasar limbah isi perut sapi. Limbah tersebut diproses melalui metode tertentu hingga menghasilkan mikroorganisme aktif yang mampu menguraikan kotoran ternak secara cepat dan efektif.
Dalam praktiknya, Biokulturmix digunakan dengan cara dicampurkan ke kotoran ternak, kemudian ditambahkan bahan pendukung seperti serbuk gergaji kayu, abu, dan kapur dolomit.
Mikroba dalam aktivator akan bekerja mengurai bahan organik hingga berubah menjadi kompos berkualitas. Salah satu keunggulan utama Biokulturmix terletak pada efisiensi dan kecepatannya.
Hanya dengan satu liter Biokulturmix, peternak dapat menghasilkan hingga satu ton kompos, dengan waktu pengomposan sekitar 14 hari, jauh lebih singkat dibandingkan metode konvensional yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Inovasi Biokulturmix telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sejak tahun 2025, menandai pengakuan resmi atas keaslian dan nilai inovatif produk tersebut.
Selain itu, Biokulturmix juga mendapat apresiasi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) saat melakukan kunjungan ke Unsoed pada Jumat (23/1/2026).
Apresiasi tersebut menunjukkan bahwa inovasi ini dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung pengelolaan limbah peternakan berkelanjutan, sejalan dengan agenda pembangunan lingkungan nasional.
Biokulturmix tidak hanya berhenti pada tahap riset, tetapi telah memberikan dampak langsung di lapangan. Salah satu contoh penerapannya terdapat pada peternakan rakyat di Desa Sumbang, Kabupaten Banyumas.
Peternakan sapi dengan jumlah sekitar 60 ekor yang sebelumnya tidak mengelola limbah secara optimal, kini mampu mengolah kotoran ternak menjadi kompos secara rutin.
Bahkan, kompos hasil pengolahan tersebut sudah mulai dipasarkan dan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi peternak.
Perubahan ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi limbah, tetapi juga menciptakan lingkungan peternakan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Ke depan, Dr. Agustinah bersama tim dosen Fakultas Peternakan Unsoed terus mendiskusikan pengembangan inovasi lanjutan.
Fokus riset berikutnya adalah menciptakan metode pembuatan pupuk yang lebih praktis dan minim tenaga, sehingga semakin mudah diterapkan oleh peternak dan petani.
“Peternak sering terkendala karena proses pembalikan kompos yang melelahkan, harus dilakukan setiap beberapa hari. Kami ingin mencari metode atau alat agar prosesnya bisa lebih praktis,” jelasnya.
Ia berharap inovasi selanjutnya mampu memangkas waktu dan tenaga dalam proses pengomposan, tanpa mengurangi kualitas pupuk yang dihasilkan.
Dr. Agustinah menegaskan bahwa pengelolaan limbah yang cepat dan tepat memiliki dampak besar terhadap pelestarian lingkungan. Menurutnya, semakin cepat limbah ditangani, semakin kecil risiko pencemaran yang ditimbulkan.
“Semakin cepat kita mengatasi limbah, berarti semakin cepat kita mengatasi polusi dan semakin cepat pula kita menjaga bumi,” tutupnya.