
SERAYUNEWS- Varian baru Covid-19 kembali menjadi perhatian dunia. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization melaporkan bahwa varian Covid-19 yang dijuluki “Cicada” telah menyebar ke lebih dari 23 negara.
Varian dengan kode ilmiah BA.3.2 ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan sebelum meluas ke Amerika Serikat dan sejumlah negara di kawasan Eropa. Lonjakan kasus yang terjadi sejak akhir 2025 hingga awal 2026 membuat para ahli kesehatan meningkatkan kewaspadaan global.
Penyebaran varian ini dinilai dipengaruhi tingginya mobilitas internasional, sehingga potensi penyebaran lintas negara semakin sulit dibendung. Melansir berbagai sumber, berikut kami sajikan ulasan selengkapnya:
Epidemiolog sekaligus ahli kesehatan lingkungan, Dicky Budiman, mengungkapkan bahwa varian Cicada sangat mungkin masuk ke Indonesia.
Menurutnya, keterbatasan surveilans genomik membuat deteksi dini menjadi tantangan tersendiri. Dengan mobilitas global yang tinggi, peluang masuknya varian BA.3.2 ke Tanah Air tetap terbuka.
“Kalau melihat kondisi saat ini, sangat mungkin varian ini masuk dan bahkan menyebar,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memastikan bahwa hingga akhir Maret 2026, belum ditemukan kasus varian Cicada di Indonesia.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menegaskan bahwa pemantauan genomik terus dilakukan secara intensif untuk mendeteksi potensi masuknya varian baru. “Sampai saat ini belum ditemukan varian tersebut di Indonesia,” jelasnya.
Saat ini, varian yang mendominasi di Indonesia masih tergolong berisiko rendah, seperti XFG dengan proporsi 57 persen, LF.7 sebesar 29 persen, dan XFG 3.4.3 sekitar 14 persen.
Varian Cicada merupakan turunan dari Omicron dengan kode BA.3.2. Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention, varian ini pertama kali terdeteksi pada November 2024 di Afrika Selatan.
Awalnya, BA.3.2 tidak terdeteksi secara luas karena mengalami fase “cryptic circulation” atau penyebaran tersembunyi. Namun memasuki tahun 2026, kasusnya meningkat signifikan dan mulai teridentifikasi di berbagai negara.
Secara ilmiah, varian ini tergolong “highly divergent” atau memiliki perbedaan genetik yang cukup jauh dibandingkan varian sebelumnya. BA.3.2 bahkan memiliki sekitar 70-75 mutasi pada protein spike jumlah yang jauh lebih tinggi dibandingkan varian seperti JN.1 atau LP.8.1.
Meski memiliki banyak mutasi, hingga kini belum ada bukti kuat bahwa varian ini menyebabkan gejala yang lebih parah dibandingkan varian sebelumnya.
Secara umum, gejala varian Cicada mirip dengan varian Omicron. Namun masyarakat tetap perlu waspada terhadap tanda-tanda infeksi berikut:
– Demam dan menggigil
– Batuk
– Kelelahan berlebihan
– Sakit kepala
– Nyeri otot
– Sakit tenggorokan
– Pilek atau hidung tersumbat
– Bersin
– Penurunan fungsi penciuman atau perasa
Pada beberapa kasus, gejala tambahan seperti mual ringan juga dilaporkan. Sementara gejala berat seperti sesak napas tetap menjadi perhatian meski belum dominan.
Pakar kesehatan menilai, tingginya jumlah mutasi pada varian BA.3.2 berpotensi memengaruhi kemampuan virus dalam menyebar maupun menghindari respons imun.
Selain itu, keterbatasan sistem pemantauan real-time di sejumlah negara membuat penyebaran sebenarnya kemungkinan lebih luas dari data yang tersedia.
Meski begitu, hingga saat ini belum ada indikasi bahwa varian Cicada menyebabkan tingkat keparahan yang lebih tinggi.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah utama pencegahan.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
– Rutin mencuci tangan dengan sabun
– Menggunakan masker saat sakit atau berada di keramaian
– Menjaga jarak dengan orang yang sedang sakit
– Melengkapi vaksinasi, termasuk booster
– Istirahat cukup dan konsumsi makanan bergizi
– Melakukan tes jika mengalami gejala
Kemenkes juga menekankan agar masyarakat tidak panik, namun tetap waspada terhadap perkembangan situasi global.
Varian Covid-19 Cicada (BA.3.2) memang telah menyebar ke puluhan negara dan menjadi perhatian global. Namun hingga kini, belum ada laporan kasus di Indonesia.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta konsisten menerapkan protokol kesehatan. Dengan langkah pencegahan yang tepat, risiko penyebaran varian baru dapat diminimalkan.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa pandemi belum sepenuhnya berakhir, dan kesiapsiagaan tetap menjadi kunci utama menghadapi potensi gelombang baru Covid-19.