Rabu, 1 Desember 2021

Waduh! Sejumlah Pohon Peneduh di Kota Cilacap Sudah Tua dan Keropos, Bisa Bahayakan Pengguna Jalan

Pohon Peneduh di Jalan Suprapto Cilacap keropos (Ulul).

Sejumlah pohon peneduh di wilayah Kota Cilacap sebagian besar berusia tua dan rawan keropos. Bahkan baru-baru ini juga sudah ada yang roboh seperti di Jalan Kauman Cilacap akibat diterpa hujan deras.


Cilacap, serayunews.com

Berdasarkan hasil pemantauan serayunews.com, sejumlah pohon nampak keropos di sekitar Jalan Suprapto dan Jalan Katamso Cilacap, namun sebagian pohon yang keropos ada bekas pembakaran. Sehinga jika dibiarkan dan tidak ada penanganan segera bisa membahayakan pengguna jalan, apabila roboh diterpa angin atau hujan.

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Cilacap melalui Kepala Bidang Kawasan Permukiman Kusnadi menyampaikan, bahwa pihaknya tidak menyangkal terkait dengan usia rata-rata sebagian besar pohon di Kota Cilacap yang sudah berumur tua dan rawan keropos. Sehingga pohon yang keropos dan tua perlu di ganti dengan pohon yang baru, namun membutuhkan proses tambal sulam terlebih dahulu.

“Penanganan darurat kalau memang dipandang keropos, dan secara kasat mata mengkhawatirkan akan kita tebang,” ujar Kusnadi saat dikonfirmasi, Rabu (27/10).

Menurut Kusnadi, pohon yang sudah tua di wilayah Kota Cilacap diperkirakan jumlahnya bisa mencapai ribuan dengan jenis pohon diantaranya angsana, glodogan, asem belanda dan mahoni dengan karakter akar pohon yang bisa merusak trotoar maupun jalan dan kecenderungan akar berada diatas.

“Pohon yang ditanam itu hampir serentak sama, kalau tidak salah sekitar tahun 1983-1985 awal adanya Kotip, ya seusia pohon palem yang ditebang di jalan Urip Sumoharjo. Jumlahnya bisa ribuan, contohnya saja di Jalan Sutoyo mungkin seratus sendiri ada, semisal mau dibikin proyek penanaman sebtulnya tidak masalah,” ujarnya.

Pihaknya juga sedang membuat rencana alternatif, apabila dilakukan tambal sulam mengganti pohon yang keropos dengan pohon glodogan pecut, yang diangap memiliki akar kebawah sehingga meminimalisir kerusakan trotoar maupun jalan.

“Jika diganti, saya kurang cocok dengan glodogan, kemarin saya sempat mengonsep alternatifnya, kalau tidak rindang bisa dengan pohon glodogan pecut, seperti di Jalan Soekarno Hatta sebelah pinggir cuma memang tidak rindang, kalau rindang nyatanya juga yang kena rumah atau toko kurang suka, karena daunnya banyak diatap, kalau glodogan pecut akarnya ke bawah. Jenis lain kalau saya pribadi penginnya tanaman yang berbunga, misalnya wungu, flamboyan,” ujarnya.

Editor :M Amron

Berita Terkait

Berita Terkini