Selasa, 6 Desember 2022

Wujudkan Green Refinery, Kilang Cilacap Produksi Bahan Bakar Nabati dari Minyak Kelapa Sawit

Lokasi area kilang Green Refinery yang memproduksi Green Diesel dan Green Avtur di Kilang PT Kilang Pertamina Internasional RU IV Cilacap, Kamis (27/10/2022). (Ulul Azmi/Serayunews)

PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit IV Cilacap terus mengembangkan produksi bahan bakar nabati (BBN). BBN adalah usaha menciptakan bahan bakar yang ramah lingkungan. Dalam pengembangannya, Green Refinery Cilacap telah memproduksi Green Diesel (D100) dan Green Avtur berbahan dasar minyak kelapa sawit.


Cilacap, serayunews.com

General Manager PT KPI RU IV Cilacap Edy Januari Utama mengatakan, Green Refinery oleh Refinery Unit IV Cilacap, melalui proses yang cukup panjang. Mulanya proses uji coba laboratorium maupun penelitian sejak tahun 2017. Pada Januari 2022, Green Refinery Kilang Cilacap berhasil memproduksi untuk komersial.

“Secara prinsip kilang yang tadinya TDHT (Treated Distillate Hydro Treating) kita modifikasi untuk memproduksi Green Diesel. Namanya produk Pertamina Renewable Diesel,” ujar Edy dalam keterangannya, Kamis (27/10/2022).

Selain memproduksi Green Diesel, Green Refinery Cilacap juga memproduksi Avtur dan sudah diujicobakan untuk J2.4 atau besaran komponen Bio Avtur 2,4%. Bahkan, hasil produk bahan bakar hijau dari Green Refinery Cilacap ini sudah mendapatkan sertifikat International Sustainability and Carbon Certification (ISCC).

Petugas saat memeriksa area kilang Green Refinery yang memproduksi Green Diesel dan Green Avtur di Kilang PT Kilang Pertamina Internasional RU IV Cilacap, Kamis (27/10/2022). (Ulul Azmi/Serayunews)

Untuk kapasitasnya, lanjut Edy, Green Refinery Cilacap mampu memproduksi hingga 3000 barel per hari. Bahan baku nabatinya berupa Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) atau minyak sawit yang sudah melalui proses penjernihan.

Kapasitas ini juga akan terus ditingkatkan seiring dengan minat konsumen terhadap bahan bahan bakar yang ramah lingkungan ini. Baik dari pasar domestik maupun ekspor.

Sejalan Pasar Dunia

Menurutnya, peningkatan kapasitas green energy sejalan dengan permintaan pasar dunia terhadap produk energi bersih. Selain itu sebagai bentuk keseriusan Pertamina untuk menerapkan strategi agresif di Green Business dalam roadmap net zero Emission-nya.

“Fleksibilitas bahan baku green energy juga akan semakin ditingkatkan. Sehingga tidak hanya mengolah berbasis CPO tetapi juga bisa mengolah bahan lain semisal Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah menjadi energi hijau,” ujarnya.

Petugas saat menunjukkan sampel produksi Green Diesel dalam proses pembuatan Green Diesel dan Green Avtur di Kilang PT Kilang Pertamina Internasional RU IV Cilacap, Kamis (27/10/2022). (Ulul Azmi/Serayunews)

Rencananya, Green Refinery Cilacap produksinya akan ditingkatkan dengan kapasitas 6000 barel per hari. Ratio CPO dengan minyak jelantah berbanding 50:50 atau 3000 barel CPO dan 3000 barel UCO (minyak jelantah). Untuk itu, Pertamina akan menggandeng asosiasi pengepul minyak jelantah untuk pemenuhan bahan bakunya.

“Kalau produksi nasional dengan kapasitas kilang ini sudah pasti terpenuhi, justru tantangannya di Used Cooking Oil (minyak jelantah), maka ke depan direncanakan bekerjasama dengan APJETI (Asosiasi Pengepul Jelantah Indonesia),” katanya.

Edy menambahkan, Pertamina terus memperkuat transisi energi bersih sejalan dengan komitmen Pertamina mengedepankan prinsip Environmental, Social, & Governance (ESG) di semua lini bisnisnya.

Pengembangan produk dari Green Refinery Cilacap ini, harapannya bisa memberikan efek positif yang lebih luas. Antara lain, agar bisa menekan impor minyak mentah yang bersumber dari energi fosil.

Berita Terpopuler

Berita Terkini