
YOGYAKARTA, SERAYUNEWS – Gunung Merapi masih menunjukkan aktivitas yang cukup signifikan.
Gunung ini berada di wilayah administrasi Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten.
Posisi geografis gunung ini adalah Latitude -7.542° LU dan Longitude 110.442° BT dan memiliki ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih menunjukkan tingkat kegempaan yang cukup tinggi.
Hal tersebut berdasarkan hasil pemantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada Selasa, 7 Juli 2026, periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.
Dalam kurun waktu enam jam tersebut, petugas mencatat puluhan gempa vulkanik serta belasan kali guguran lava pijar yang masih mengarah ke sektor barat daya.
Dari hasil pemantauan visual, puncak Merapi tampak jelas dengan hembusan asap kawah utama berwarna putih. Asap tersebut terpantau memiliki intensitas tipis dengan tinggi sekitar 15 meter di atas puncak.
Sementara itu, kondisi cuaca di kawasan Merapi didominasi cerah hingga berawan dengan angin yang bertiup tenang ke arah barat.
Selain aktivitas visual, BPPTKG juga mencatat aktivitas seismik yang masih berlangsung.
Selama enam jam pengamatan, tercatat 28 kali gempa guguran dengan amplitudo berkisar 2 hingga 25 milimeter dan durasi gempa antara 42,33 hingga 196,32 detik.
Tidak hanya itu, petugas juga merekam 18 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak. Gempa jenis ini memiliki amplitudo 2 hingga 43 milimeter, dengan nilai S-P antara 0,5 hingga 0,7 detik serta durasi gempa berkisar 13,89 hingga 52,99 detik.
Selanjutnya, aktivitas guguran lava masih terus terjadi. Berdasarkan pengamatan, selama periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB teramati 11 kali guguran lava yang meluncur ke arah Kali Sat/Putih.
Jarak luncur maksimum guguran lava tersebut mencapai 2.000 meter dari puncak Gunung Merapi.
Kondisi cuaca di kawasan Merapi juga turut dipantau selama periode pengamatan. BPPTKG mencatat suhu udara berada pada kisaran 13,9 hingga 18,4 derajat Celsius.
Tingkat kelembapan udara berkisar 71 hingga 100 persen, sedangkan tekanan udara tercatat antara 874,8 hingga 918,6 mmHg. Angin dilaporkan bertiup tenang ke arah barat dengan kondisi langit cerah hingga berawan.
Meski aktivitas erupsi masih didominasi guguran lava, BPPTKG mengingatkan bahwa potensi bahaya Gunung Merapi masih tetap ada.
Ancaman utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran. Ini berpotensi terjadi di beberapa alur sungai yang berhulu di puncak Merapi.
Pada sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya meliputi Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan jangkauan hingga 7 kilometer dari puncak.
Sementara itu, di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer dari puncak.
Selain ancaman guguran lava dan awan panas, BPPTKG juga mengingatkan bahwa apabila terjadi letusan eksplosif, material vulkanik dapat terlontar hingga radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Berdasarkan data pemantauan yang ada, BPPTKG menyatakan bahwa suplai magma menuju permukaan masih berlangsung.
Kondisi tersebut berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran yang tetap berada di dalam kawasan potensi bahaya yang telah ditetapkan.
Sehubungan dengan kondisi tersebut, masyarakat sebaiknya untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di wilayah yang masuk dalam zona potensi bahaya.
Warga yang berada di sekitar lereng Merapi juga harus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya lahar maupun awan panas guguran, terutama ketika hujan turun di kawasan puncak gunung.
Selain itu, masyarakat juga perlu mengantisipasi dampak abu vulkanik yang sewaktu-waktu dapat terjadi akibat aktivitas erupsi Gunung Merapi.
BPPTKG menegaskan akan terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Merapi secara intensif.
Apabila terjadi peningkatan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera dievaluasi kembali.***